BUDAK HAWA NAFSU

Bismillahirrahmanirrahiim..

Diambil dari rangkuman kajian akhwat, yayasan Al-Jannah 16 Februari

– ustadz Dzajuli, Lc

Apa itu hawa nafsu? perlu kita ketahui, yang berhak menilai apa itu hawa nafsu, harus berdasarkan dalil. Bukan akal atau perasaan. Hawa nafsu, adalah kecenderungan hati, untuk bisa menikmati segala keinginan hati, tanpa didukung dan dibenarkan oleh syariat islam. Hawa nafsu merupakan setiap hal yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu’Alaihi Wassallam, baik berupa perintah, larangan, ibadah, dan ketaatan. Baik dalam hati / lisan yang dilakukan, dan petunjuk yang menyelisihi serta bertentangan dengan petunjuk nabi walaupun orang itu menganggap itu baik. [Ibnu Taimiyah]

Dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat ke 50 : “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Allah menjelaskan, jika mereka tidak mengikuti petunjuknya, berarti mereka mengikuti hawa nafsu mereka, karena Allah menyuruh hidup kita di dunia hanya untuk beribadah kepadanya. Dengan cara, mengisi hidup dengan ikhlas dan dengan sunnah. Baik dalam beribadah, bermuamalah, bersosialisasi, berpolitik, berumah tangga, mendidik, dan lain sebagainya. Sesuatu dikatakan ibadah, apabila adanya ikhlas dan sesuai sunnah, berdasarkan dalil dan pemahaman para sahabat. Allah tidak melihat harta, tetapi amal yang dari hati (sesuai kecintaan kita terhadap Rasulullah). Ibadah hati itu tidak pernah berhenti pahalanya, maka itu yang membuat kita harus selalu cinta dan takut hanya kepada Allah. Dan ini adalah ciri-ciri orang yang memiliki hati yang sehat. Allah memuliakan manusia untuk orang yang bertakwa dan istiqamah di jalan sunnah.

Mengapa nabi selalu konsisten dalam beribadah hingga akhir hayatnya? Karena Nabi memiliki hati yang sehat (lihat awal surat dari An-Najm 1-4) “Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” Lalu mengapa kita wajib mengetahui betapa pentingnya melawan hawa nafsu? yaitu, agar kita selamat dari Virus Kebodohan dan Penyakit Hati (hawa nafsu). Karena akal dan nafsu seorang mukmin akan tunduk pada wahyu. Adapun orang munafik, wahyu dipaksa tunduk pada akal dan nafsunya. Dengan kata lain penyakit hawa nafsu itu kebanyakan diderita oleh orang-0rang yang tersesat, tidak tunduk pada wahyu, dan tidak memiliki keimanan, seperti kaum kuffar. Sejatinya, mereka tidak mengetahui ajaran hukum syariat islam yang sempurna karena sudah dikuasai oleh penyakit hawa nafsu (tunduk kepada keinginan hati). Hal ini tentu saja penyebab utama kerusakan manusia dan kerusakan hati, yang dimana akan menyebabkan jauh dari hidayah Allah. Karena Allah telah menciptakan fitrah hati untuk bisa beribadah kepadanya. Seorang mukmin sejati, akan selalu merasakan nikmat dan lezatnya  sebuah keimanan, sebagaimana orang kafir dan munafik menikmati nikmat dan lezatnya sebuah maksiat. Akan tetapi, penyakit hawa nafsu jauh lebih bahaya dan mematikan hati daripada penyakit syahwat kebodohan, maksutnya adalah suatu hal yang dianggap baik tetapi tidak berdasarkan petunjuk dari Rasulullah, adakala orang-orang seperti ini akan sulit untuk bertaubat kepada Allah, daripada orang yang bermaksiat karena sebuah dosa yang jelas itu mereka tau berdosa apabila melakukannya seperti berbuat maksiat. Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata, Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Seseorang sangat mungkin bertaubat dari maksiatnya, tetapi sangat sulit bertaubat dari perbuatan bid’ahnya.” – Dalam Majmu’ Fatawa  X/9

Perbuatan Bid’ah (Mengadakan sesuatu tanpa ada contoh) dalam beribadah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah / mengadakan perkara hal baru dalam beribadah ini hukumnya haram, karena yang ada dalam Islam itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah). Rasulullah telah bersabda “Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut maka perbuatannya tertolak.” – HR. Bukhari

Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda :

Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara BARU DALAM AGAMA, karena sesungguhnya SETIAP BID’AH adalah SESAT”. [HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

Dan perlu diingat agar untuk hati hati dari terkena Dosa jariyah (mengalir terus walau sudah meninggal) gara-gara mengajarkan bid’ah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”- HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”

Darisini, jelas kita mengetahui bahwa pengikut hawa nafsu itu sendiri yang dinamakan budak hawa nafsu, artinya selalu tunduk pada keinginan hatinya bukan pada wahyu Allah. Maka itu betapa penting sekali Islam dalam mengajarkan akhlak yang baik dan kesabaran yang tinggi. Kaerena puncak dari keislaman seseorang itu bukan berdasarkan panjangnya atau lebarnya hijab saja, tetapi keikhlasan hati. Dalam surat Al-Furqon ayat 43 : “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”

Maka bisa kita lihat, yang suka mengikuti hawa nafsu tanpa dalil atau prerkataan Nabi, maka ia penyembah hawa nafsu atau budak hawa nafsu. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan se-pengetahuannya. Dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Jasiyah : 23)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An-Naziat : 40-41)” Maka begitupun sebaliknya. Hawa nafsu adalah pendorong nomor satu terkuat untuk berbuat maksiat. Ini adalah sumber keburukan dan malapetaka serta musibah, yang terjadi dan diawali oleh sebuah “hawa nafsu”. Maka semua masalah / malapetaka / fitnah adalah sebuah bencana yang terjadi akibat kelalaian dari tunduk kepada petunjuk Rasulullah, baik maksiat, maupun bid’ah. Darisini, kita tentu mengetahui bahwa jalan sunnah adalah sumber kesuksesan terbesar untuk mencapai rahmat dan keridhain Allah bukan hanya sekedar di dunia, tapi hingga jalan menuju kembalinya kita nanti. Kita hidup berawal sendirian, banyaknya manusia kerabat atau keluarga jika tidak berdasarkan petunjuk Rasulullah, tidak akan menjamin kita selamat di hadapan Allah kelak, karena kita akan menghadapnya sendirian bersama amalan dan perbuatan yang telah kita lakukan selama di dunia. Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu, akan Allah jauhkan hati mereka dari hidayah. Mari kita lihat firman Allah betikut ini; “Dan begitupula kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.” (Qs. Al-An’am : 110).” Tentu bagi orang yang meiliki iman, akan sangat takut setiap mendengarkan firman Allah yang nyata ini.

“Semua nikmat yang tidak menyebabkan anda semakin dekat dengan allah adalah bencana.” -H. Abu Hazim Rahimahullah Uddatu asshabirin1/104.

Kebodohan atau maksiat cinta dunia untuk bisa bertaubat masih lebih bisa dilakukan ketimbang hawa nafsu terhadap Bid’ah tersebut yang disebabkan menumpuknya syubhat di dalam dirinya. Apapun perkataan digunakan untuk mengakali pembangkangan wahyu. Kita sebagai muslim harus menyerah pada wahyu, bukan menolak. Karena pola pikir ditentukan dari langkah awal. Ada kisah pada zaman Rasulullah seorang sahabat mundur di medan perang hingga tiga kali yang awalnya ia ingin mengikuti Rasulullah, tetapi ia banyak keraguan, hingga lama lama ia selalu ragu akhirnya iapun tidak ikut lagin ke medan perang. Pada saat itu Rasulullah menyampaikan kepada istrinya lelaki tersebut agar untuk tidak melayani suaminya, maka istrinyapun lebih ingin menanti nanti ditegur oleh perkataan Rasulullah itu dan mengikuti permintaan Nabi. Masya Allah, betapa pentingnya kita harus mengikuti tuntunan beliau. Apalagi di zaman sekarang ini yang mana kaum muslimin sudah banyak terjadi perpecahan, karena jalan satu satunya yang dapat menyelamatkan muslim sejati adalah jalan as-sunnah / khulafaa-ur Raasyidiin agar mendapat jaminanterhindar dari berbagai fitnah dan perpecahan. Manfaatkanlah sunnah untuk mendapatkan hidayah. Karena sesungguhnya menjalani hidup dan beribadah dibawah sunnah terasa nikmatnya daripada kita hidup bersama firqah lain yang sesat. Menjauhkan segala macam bentuk kesyirikan agar terhindar dari syubhat, meninggalkan segala macam perbuatan yang dilarang agar tidak terkena penyakit hawa nafsu, maka hati ini akan senantiasa sehat. Tentunya kita bisa melihat nikmat sunnah di awal hingga akhir. Untuk melihat hasil akhir dari perjalanan sunnah kita apabila kita memulai meninggalkan dunia, apakah kita dalam keadaan khusnul khatimah, atau dalam keadaan suul khatimah. Semoga Allah menyelamatkan amal kita.

Penyakit hawa nafsu juga seperti penyakit Rabies yang ditularkan oleh seekor anjing. Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

Dan sesungguhnya akan muncul kaum-kaum dari umatku yang hawa nafsu mengalir pada mereka sebagaimana penyakit anjing gila mengalir pada penderitanya. Tidak ada satu urat dan persendianpun melainkan dimasukinya.”

Maka, sama halnya penyakit hawa nafsu juga merupakan penyakit yang menular, jika anjing mengigit manusia, maka susah untuk disembuhkan. contohnya, terlanjur berguru kepada guru yang salah. Karena dalam belajar ilmu agama bukan berdasarkan pendapat manusia, tetapi belajar agama dalam sunnah harus sesuai dalil. Jika kita menyampaikan hal yang bertentangan, tentu konsekuensinya akan sangat berat di akhirat nanti, apalagi jika menularkannya terhadap orang banyak. Berguru harus sesuai mazhab, bukan berdasarkan suka atau tidaknya terhadap tampilan luar gurunya atau perilakunya. Karena ilmu dan kebenaran ditentukan oleh dalil. bukan oleh karakter atau sifat guru tersebut, apalagi berdasarkan banyaknya jumlah pengikut.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38).

Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116)

Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang.

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187)

Malah kebanyakan orang adalah fasik.

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102)

Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit.

وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40).

Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220).

Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada.

Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah).

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah,).

Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103).

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116)

Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

Ciri-ciri guru yang bermanhaj lurus adalah, ia tidak gemar mencaci pemerintah. Dan jika ingin melawan musuh Islam, kuncinya harus kembali kepada agama sesuai sunnah, karena dari cara shalat saja masih banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Padahal amalan yang pertamakali ditimbang di akhirat adalah amal shalat. Bagaimana jika selama ini shalat kita salah? Bagaimana ingin mendirikan tauhid jika kita tidak mengenal aqidah? Lahaula walaa quwata illabillah, bagaimana kita melindungi keluarga kita dari api neraka lantas kita langsung ingin menuntut pemerintah? Karena sejatinya perubahan dimulai dari diri sendiri, jika ingin khalifah seperti Umar, rakyatnya harus seperti umar pula. Apabila Allah kasih pemimpin yang zhalim maka itu adalah akibat dari dosa dan perbuatan kita sendiri, karena pemimpin adalah cerminan dari rakyat. Allah sudah menjanjikan kebangkitan islam apabila kita tunduk pada wahyunya dari segala macam bentuk kesyirikan.

Beberapa hal yang dapat menyembuhkan penyakit hawa nafsu :

  1. Mangikuti Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf (ini adalah  obat yang paling manjur) dan Al-Qur’an sesuai pemahaman para sahabat (Obat manjur yang bersifat umum)
  2. Dari Ibnu Tayyim : Pertama, Ilmu yang dituntut harus sesuai dalil yang shahih (perkataan dari nabi) apabila tidak menemukannya, maka jangan diterima dan tinggalkanlah (untuk menghindari syubhat). Kedua, menghayati ketika sedang membaca Al-Qur’an, mentadabburinya. Karena setiap ilmu agama yang sesuai dengan dalil akan membuat hati menambah keimanan dan takut kepada Allah. Maka jika semakin bagus, ini adalah modal yang kuat untuk mendorong penyakit hawa nafsu. Dan jika semakinj takut kepada Allah akan dibukakan pintu untuk melihat kehidupan akhirat jauh daripada dunia. Yang ketiga, jika ingin mencintai sunnah tidak boleh malas, harus selalu punya semangat. baik dalam mengaji, semangat menuntut ilmu syar’i, ibadah harian, dimana ketika semua orang sibuk menggapai kejayaan dan kecintaan dunia, kkita justru beramal untuk kehidupan akhirat. Do’a agar selalu diberikan semangaat dalam menuntut ilmu: “Allahumma as-aluka al azimata ala rusydi” artinya, ya Allah aku mohon kepadamu semangat dalam mengamalkan agamamu.
  3. Sabar dalam ketaatan, maksiat dan musibah.
  4. Berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar; tidak takut cela, dan berani tanggung resiko untuk berjalan diatas sunnah.
  5. Selalu memikirkan dampak untuk kedepan dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu hal
  6. Berusaha menikmati ketaatan sebagaimana dahulu menikmati kemaksiatan (contoh: nikmat mendengarkan musik >< nikmat ketika mengaji / beribadah) hawa nafsu akan selalu terpicu, jika selalu diimbangi atau terus tidak berhenti dari perbuatan maksiat. syirik identik dengan tak jauhnya dari zina dan bentrokan. Karena syair maksiat yang tidak membawa manfaat akan memasuki telinga dan mengakibatkan akal rusak dan cenderung menjadi penyakit hawa nafsu, didorong untuk melakukan keinginan hati tersebut dalam perbuatannya. contoh lain kerusakan rumah tangga. Dalam islam berumah tangga tidak ada artinya jika tidak dibingkai dengan ilmu, jangan heran melihat lelaki hidung belang yang hakikatnya masih sejati bermain wanita. faktornya sederhana, karena tidak memiliki keimanan. akibatnya ia tidak menganggap shalat atau ibadah adalah sarana penyempurna agama. Jika dengan Allah dan Rasul saja yang hukumnya wajib untuk ditaati berani untuk ditinggalkan, jangankan dengan seorang manusia. Maka dalam Islam, menikah sangat tidak layak jika hanya karena berdasarkan cinta. Karena tujuan seorang mukmin tidak hanya berakhir di bahagia di dunia, tetapi untuk saran mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, dalam Islam menikah sangat dianjurkan agar menjaga kehormatan diri dan membantu diri agar terjaga dari pandangan yang haram.
  7. Banyak merenung / bermuhasabah dan menghayati ayat-ayat Allah (contoh buku yang sangat bagus untuk dibaca : Ayat – ayat Allah pada tubuh manusia.
  8. Memikirkan hakikat untuk apa kita hidup, karena Allah memerintahkan hidup hanya untuk beribadah kepadanya, dan dunia adalah sarana untuk menuju kepadanya. Kita diciptakan untuk kembali, kesempatan hanya sekali, jangan sampai kita lewati ilmu yang tidak kita pelajari.
  9. Rutin menghadiri majelis ilmu, mengikuti guru yang sudah jelas manhajnya, tidak sembarangan. Karena ilmu dan tuntutan yang benar hanya berdasarkan dalil sahih yang tadi saya jelaskan. Berdasarkan pengalaman, nikmat yang didapat semakin tinggi dalam menekuninya dan jika bersama para sahabat salihah (karena indah akhlak dan lisannya; patut ditiru karena teman sangat mempengaruhi agama) maupun berada di dalam majelis ilmu seakan suasananya dekat seperti pada zaman Rasulullah, karena yang didengar memang murni hadis yang disampaikan Rasulullah.
  10. Membaca buku fiqih aqidah,belajar mengahafal hadis, mempelajari contoh ibadah nabi, meneladani panduan hidup muslim, kisah para sahabat dan kisah wanita mulia, cara membangun generasi yang berakhlak, hukum-hukum islam sesuai dalil yang shahih dan contoh dari Rasulullah.

 

fullsizerender-42

 

fullsizerender-45

img_4422

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s