Saling Mencintai Karena Allah adalah Perkara yang Sangat Langka Lebih Langka dari Emas ♥

Oleh ustadz Abu Usamah Syamsul H, Lc –

Diambil dari kajian akhwat @Al- Jannah, Jakarta Selatan

.

Bismillahirrahmanirrahiim

Dalam berumah tangga, sebagian pihak selalu menuntut yang haq daripada kewajiban. Seharusnya muamalah seperti ini adalah salah, sama seperti meminta terus kepada Allah (haq-Nya) tetapi kewajiban terhadap Allah tidak dijalankan. Siapa yang meminta terus haq tanpa ada kewajiban terhadap Allah, maka akan terputus hubungan dengan Allah (tidak harmonis). Setiap pekerjaan atau pelayanan seorang istri terhadap suaminya sama seperti dengan jihad di jalan Allah. Kemudian beberapa kiat cara memperbaiki keluarga untuk menjadi samawa adalah dengan cara :

1. Taubat dan Istighfar

Masalah terjadi karena disebabkan adanya Dosa. Dengan adanya masalah adalah untuk menghapus dosa itu dengan langsung taubat / istighfar kepada Allah dan perbaiki hubungan kita dengan Allah. Maka dengan sendirinya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan pasangan kita.

Ketika suami sedikit berubah, hal yang pertama yang harus dilakukan adalah ber-istighfar bukan berburuk sangka / suudzon. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh kaum wanita terdahulu (salaf) yang senantiasa mengingatkan suaminya dalam perihal ketaatan kepada Allah.

2. Ijtihad Ibadah

Yaitu, perbanyak ibadah secara umum, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah. seperti Berzikir, membaca Al-Qur’an, maupun bersedekah. Melaksanan puasa, shalat sunnah, bersilaturahmi, dsb. Kita juga bisa membuat rumah adalah ladang pahala, selain menjalankan kewajiban dan tugas sebagai seorang Istri, kita hadirkan rumah adalah suasana taman surga dan gudang ilmu, seperti membuat perpustakaan mini, atau mendengarkan ceramah maupun murrital ayat-ayat suci Al-Qur’an, agar senantiasa rumah selalu nyaman dan aman dalam menjalankan ibadah, menjauhi hal-hal yang dilarang dalam agama seperti memelihara binatang yang haram, memasang gambar yang dilarang, dan menjauhi tontonan yang tidak bermanfaat dan juga menjauhi suara-suara nyanyian / musik, merupakan salah satu pintu keberkahan rumah dan selalu didatangi dan dihadiri oleh malaikat pembawa rahmat. Aamiin.

3. Mempertebal Keikhlasan

Kita harus dapat belajar ikhlas dari segala kekurangan pasangan dengan cara bersyukur. Karena jika kita meninginkan yang sempurna adalah dengan cara dibentuk bukan dicari. Bukankah kita harus saling melengkapi antara kekurangan yang ada pada pasangan kita? Kecuali ada hal-hal yang memang tidak bisa ditolerir, apalagi jika sampai batas melanggar dan keluar dari perintah maupun hukum Allah. Salah satu tujuan pernikahan selain menyempurnakan separuh dari agamanya adalah untuk saling menyempurnakan, karena Istri juga bukan Bidadari. Dan karena pernikahan adalah sunnah nabi, pasti akan ada kekurangan, tidak ada yang sempurna seperti kehidupan yang abadi di Surga, justru dengan pernikahan adalah jalan untuk sama-sama memperjuangkan cintanya bukan hanya sebatas di dunia saja, melainkan hingga Surganya Allah.

Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-An’am : 162 bahwasanya Shalat, Ibadah, Hidup dan Mati hanya untuk Allah semata. Maka niat yang harus ada dalam sebuah ikatan pernikahan adalah ikhlas untuk mencari Ridha Allah, bukan ridha Manusia.  Maka semua gerak-gerik dalam berumah tangga jika didasari dengan keikhlasan semuanya akan menjadi pahala, terlebih akan menyelamatkan diri ketimbang tidak menikah. Terutama menyelamatkan 3 hal yaitu; pandangan, perut, dan kemaluan. Ini merupakan hal duniawi yang wajib dipenuhi wanita kepada suaminya. Jadikanlah pasangan atau anak adalah anugerah atau boneka yang Allah titipkan kepada kita. Insya Allah cinta yang diawali dengan ketulusan dan dari Allah (setelah pernikahan) akan diakhiri dengan kebahagiaan. Dan salah satu ciri wanita ahli surga selain memiliki banyak anak adalah yang dapat atau ahli dalam membangkitkan syahwat sang suami, maka seorang wanita dianjurkan berhias hanya untuk suami saja.

4. Isti’anah

Yaitu, meminta tolong kepada Allah, mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada Rabbnya, dan menyerahkan seluruh perkara kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya.

Isti’anah seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 4).

Kita bisa mencontohi suri tauladan para Ibunda atau Istri Nabi (Ummahatul Mu’minin) Seperti Khadijah yang dapat salam langsung dari Allah, kemudian Aisyah mendapat salam dari Jibril, bosnya para malaikat dan malaikat yang paling mulia karena disibukkan dengan wahyu. Sama halnya dengan manusia terbaik di muka bumi yaitu baginda Rasulullah karena ia disibukkan oleh wahyu dari Allah.

FullSizeRender (9)

FullSizeRender (1)

“Aku mencintaimu karena Agama yang ada agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu.” – [ Imam Nawawi ]


Bagaimanakah kiat-kiat memilih kriteria calon pasangan yang baik dan benar?

Oleh Ustadz Subhan Bawazier

Diambil dari kajian “Daurah Cinta” – Masjid WTC Jendral Sudirman, Jakarta Selatan

FullSizeRender (4)

Kriteria Memilih Istri :

  • Menaati agama dan mencintainya

Yaitu, menjadikan taat kepada Allah dan cinta kepada Allah, gemar membaca Al-Qur’an, ayat kursi yang terus dikumandangkan memiliki pengaruh kepada hasil kebaikan rumah tangga. (Diberkahi, dirahmati, dan diridhai Allah)

Qs. An-Nisa : 34 -> Wanita yang shalihah yang taat kepada Allah dimana ketika suami sedang pergi, ia tinggal di dalam rumahnya.

  • Tidak mengenal kata – kata yang tercela, kata-katanya selalu terjaga karena hatinya yang bersih (didasarkan oleh lingkungan disekitarnya) pendengaran yang baik, maka keluar yang baik, selalu melihat hal yang baik /  positif
  • Bersabar, tidak gampang bersedih (tegar) Karena dalam berumah tangga akan diuji. Islam melindungi perempuan, lewat suaminya. Karena jika wanita keluar dari rumahnya, ia diikuti oleh syaithan.
  • Tidak meremehkan dosa, Ujian membuat seseorang lebih cerdas, kreatif, dan menginspirasi (tidak gampang mengeluh) jika dapat mengambil hikmah dari masalah yang dihadapi agar tidak terulang masalah yang sama, dan pengukur ketaatan kepada Allah.
  • Berakhlak Mulia, baik dalam ilmu maupun perbuatan. Bahwa yang menjadikan lemah lembut ialah karena ilmu dan amal yang telah dipelajari sebelum menikah.
  • Tidak suka ghibah. Menceritakan tentang orang lain terhadap suami terutama temannya sendiri karena akan kerap menimbulkan sesuatu yang membawa kepada hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya menceritakan ilmu yang telah didapatkan saja setelah selesai dari majelis ilmu atau hal-hal yang bermanfaat.
  • Tidak suka melihat aurat perempuan lainnya. Karena hal ini juga tetap bisa menjadikan fitnah. Kecantikannya hanya diberikan kepada suaminya, berdandan hanya di dalam rumahnya, menutupi dan menundukkan pandangannya kepada selain suaminya.
  • Taat kepada suami, tidak bermaksiat kepada Allah, bisa menjaga dirinya dengan baik, kemudian tidak gampang meminta cerai karena hukumnya haram dalam islam.
  • Tidak melepas pakaian atau hijabnya selain di dalam rumahnya.
  • Lihat agama dari teman-teman dekatnya untuk melihat pergaulannya
  • Yang bisa membantu suami untuk menaati Allah untuk mendatangkan kebaikan, dapat mendidik anak dengan baik. Dimana ketika tidak keluar dari syariat Islam, keindahan rumah tidak akan hilang.
  • Gemar bersedekah di jalan Allah untuk bekal amal jariyah di alam akhirat mendatang

FullSizeRender

Kriteria Memilih Suami :

  • Berjiwa pemimpin, yaitu seorang muslim yang beriman
  • Yang penuh kelembutan, baik terhadap Ibunya, anak-anak perempuannya, saudari-saudarinya, terutama Istrinya. Karena laki-laki yang paling baik adalah yang paling lembut terhadap mereka.
  • Dalam mendidik atau mendakwahi harus stetp by step, tidak langsung main dalil atau selalu langsung melontarkan hukum kemudian jadi hakim, artinya pelan-pelan dalam mendidik, karena orang beriman yang kuat adalah yang mampu bersabar dan jauh dari perbuatan keras atau kasar.
  • Memiliki Ilmu dan yang Mengamalkannya, karena pengamalan adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada pada kebaikan dan ketaatannya kepada Allah
  • Cari tahu hubungan dia dengan ibunya / adik / kakak perempuannya, maupun saudari2nya, karena pentingnya sebuah akhlak yang ada pada dirinya. Dan Nabi melarang menikahi seorang laki-laki yang keras (suka memukul terhadap perempuan) Orang yang suka memukul dan berteriak-teriak terhadap mereka adalah tidak lain dipenuhi dan telah dikuasai syaithan.
  • Memperoleh rezeki dari yang halal agar membuahkan hasil Rumah Tangga yang baik, menjauhi perkara yang berhubungan dengan Riba, karena setiap yang haram tidak akan mendatangkan kebaikan, dan memberi pengaruh terhadap anak-anak mereka.
  • Mengenal Ulama, karena seorang lelaki yang baik, benar dan bertanggung jawab adalah bentuk dari terbingkainya ia mendidik dam membangun keluarganya dengan Ilmu. Jika ada masalah yang ia tanyakan pertama adalah kepada para ulama, bukan kepada yang tidak memiliki ilmu dalam halnya.
  • Ketika mendapatkan ujian atau musibah, ia selalu bersabar dan istighfar (jujur dalam segala hal) agar selalu ditetapkan dan diberi keberhakan serta kecintaan Allah yang tidak hilang darinya. Sebaliknya, jika ia tidak mampu dan berkeluh kesah dalam ujian yang dihadapi maka khawatir mrka atau kemungkaran yang akan diperoleh.
  • Tidak menduakan Ibunya, karena seorang lelaki yang telah menikah ia masih memiliki kewajiban untuk berbakti kepada sang Ibu.

Demikianlah semua orang mendambakan dan mengimpikan suatu keluarga yang penuh dengan keindahan, kebaikan, dan kenyamanan, serta dipenuhi dengan nilai Islam. Tetapi mengangankan itu sangat jauh, karena Kematian lebih dekat dari sendal jepit yang digunakan. Dunia bukan tempat yang baik, namun Allah memasukkan hamba-hambanya ke dalam surganya bagi orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Semoga kita semua diberi jalan dan pilihan yang terbaik menurut Allah, dilancarkan dan dimudahkan dalam ikhtiar kita, dan diberi petunjuk dalam langkah kita untuk senantiasa berada pada ketaatan dan berpegang teguh diatas sunnah Nabi salallhu’alaihi wassallam hingga diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah dan dikembalikan bersama orang-orang yang kita cintai. Semoga kita semua dapat pulang ke kampung halaman dengan selamat. Aamiin yaa Rabbal Alamiin…

FullSizeRender (6)

FullSizeRender (7)

FullSizeRender (8)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s