Bantahan Terhadap Buku Karangan Ustadz Abdul Somad

Bismillah..

Selanjutnya ana akan membagikan isi bantahan-bantahan terhadap buku yang ditulis oleh ustadz tersebut. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk menempuh jalan yang lurus. آمين اللهم آمين

Silahkan Download Isinya disini :

PDF Buku Catatan 37 Masalah Populer (Revisi)

Advertisements

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Bismillah…

Ilmu ini harus diulang ulang.

Nasehat ini harus diulang ulang. Penting!

Agama Islam adalah Agama Hujjah, Agama Islam adalah Agama Dalil, Agama Islam adalah Agama Ilmu. Bukan kata orang, bukan kata kyai, bukan kata ustadz, bukan ikut ikutan. Karena secara umum sebagian kaum muslimin itu beragama hanya ikut ikutan saja (tidak tahu ilmu, tidak tahu dalil, tidak tahu hujjah). Kita tidak boleh ikut ikutan dalam kita beragama, karena Allah berfirman dalam Surah Al-Isra (17):36

‎ولا تقف ما ليس لك به علم ۚ إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Dan dalam kita beragama juga tidak bisa mengikuti banyaknya orang, banyaknya orang bukan tolak ukur kebenaran. Karena kata Allah dalam Al Qur’an, kalau umumnya manusia itu adalah orang orang fasik, bukan orang berilmu. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surah Al-Maidah (5):49

‎وإن كثيرا من الناس لفاسقون

“Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Makanya ketika kita hanya bermodalkan mengikuti kebanyakan orang, pasti kita akan tersesat. Allah sebutkan dalam Surah

Al-An’am (6):116

‎وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله ۚ إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”

Kemudian juga di masyarakat sering menjadikan nenek moyang, leluhur dianggap sebagai tolak ukur kebenaran, katanya dulu kan bapak moyang kita begini, dulu kan nenek moyang kita begini dan begitu. Ini bukanlah tolak ukur kebenaran padahal Allah menyuruh kita agar wajibnya kita mengikuti dalil dari apa yang Allah turunkan yaitu Kitabullah Al Qur’an dan juga Sunnah (Hadits Shahih) dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم , karena Allah menyebutkan di dalam Al Qur’an Surah Al-Baqarah (2):170 Allah berfirman:

‎وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما ألفينا عليه آباءنا ۗ أولو كان آباؤهم لا يعقلون شيئا ولا يهتدون

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”

Bahkan Allah menyebutkan di dalam Surah Luqman (31):21

Tentang mengikuti nenek moyang itu akan membawa manusia ke Neraka. Allah Ta’ala berfirman:

‎وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما وجدنا عليه آباءنا ۚ أولو كان الشيطان يدعوهم إلى عذاب السعير

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah!” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.” Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (Neraka)?”

Allah sudah menegur dengan tegas larangan mengikuti nenek moyang atau tradisi itu bisa menyesatkan dan bisa memasukan kita ke dalam Neraka. Karena kita beragama wajib mengikuti Dalil, Al Qur’an dan Sunnah (Hadits) yang dipahami dengan pemahaman yang benar (pemahaman para sahabat) serta ada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga dilakukan para sahabat.

Kemudian juga Ikhwani fiddin ‘azzakumullah

Bahwa Allah juga menyebutkan tentang akibat bagi orang orang yang sering mengikuti tokoh tokoh mereka, kyai kyai mereka, tanpa dalil tanpa bukti dalam mereka beragama, dalam ibadah amalan mereka, hanya ikut ikutan saja bukan mengikuti Dalil Al Qur’an wa Sunnah. Tokoh tokoh atau pembesar pembesar, atau penguasa mereka itu akan menyesal di hari kiamat. Allah sebutkan didalam Al Qur’an Surah

Al-Ahzaab (33):66-68

Allah Ta’ala Berfirman:

‎يوم تقلب وجوههم في النار يقولون يا ليتنا أطعنا الله وأطعنا الرسولا

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.”

‎وقالوا ربنا إنا أطعنا سادتنا وكبراءنا فأضلونا السبيلا

“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para tokoh kami para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).”

‎ربنا آتهم ضعفين من العذاب والعنهم لعنا كبيرا

“Yaa Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”

Sungguh penyesalan ini tidak berguna dan bermanfaat sama sekali. Semoga kita semua kaum muslimin bisa paham bahwa dalam kita beragama, beribadah itu harus mengikuti Dalil, harus ada Hujjah bukti dan contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya. Bukan beragama hanya ikut ikutan saja mengikuti Tokoh Tokoh, Pembesar Pembesar, Kyai Kyai, Nenek Moyang, Tradisi leluhur menuruti begitu saja walaupun sampai masuk ke dalam Lubang Biawak. Namun kita dalam beragama harus mengikuti Dalil dari Al Qur’an dan Sunnah (hadits hadits shahih) dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم Agar kita semua selamat dari siksa Kubur dan siksa api Neraka. Agar kita semua Selamat sampai masuk ke Surga-Nya Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita mengajak Umat agar masuk Surga, bukan mengajak main main menjual agama Allah dan membohongi umat dengan cerita cerita dusta dan jauh dari Al Qur’an wa Sunnah (hadits).

📝 dirangkum oleh abu hanif

🕌 Masjid NurutTauhid Bogor

🗓 3 Maret / 16 Jumadil Akhir 1439 H

Jangan Takut Sendirian

Bismillah…

Penyakit hati ada dua macam:

Penyakit Syahwat (maksiat) dan Syubhat (bid’ah dan pemikiran sesat). Dan yang lebih berbahaya adalah Penyakit Syubhat. Dan penyakit syubhat yang berbahaya adalah yang berkaitan dengan takdir. Hati terkadang sakit bahkan kronis tapi orangnya tidak tahu, karena dia tidak tahu akan kesehatan hatinya dan kiat-kiat untuk menggapainya. Bahkan terkadang hati itu sudah mati tapi orangnya tidak sadar kalau hatinya sudah mati. Tanda dari semua itu adalah dia tidak merasa sakit ketika ditimpa luka keburukan dan dia tidak merasa susah ketika ditimpa kebodohan tentang kebenaran dan keyakinan-keyakinan yang bathil.

Sesungguhnya hati yang masih ada kehidupan di dalamnya, dia pasti akan merasakan rasa sakit ketika ditimpa keburukan dan kejahilan terhadap kebenaran.

Mungkin dia terkadang merasa sakit, tapi dia tidak sanggup menahan pahitnya obat dan kesabaran di atasnya. Maka dia pun lebih memilih terus sakit daripada menahan pahitnya obat. Karena obat dari penyakitnya adalah dengan menyelisihi hawa nafsunya. Dan itu lebih sulit bagi jiwa manusia, padahal itu yang paling bermanfaat baginya.

Terkadang dia sudah bertekad untuk sabar, namun lama kelamaan pudar tekadnya dan tidak istiqomah karena lemah ilmu dan kesabarannya. Hal ini serupa dengan orang yang masuk ke suatu jalan yang menakutkan tapi berujung kepada puncak keamanan.

Dia tahu bahwa jika dia bersabar, maka akan sirna rasa takut dan berganti keamanan. Dia membutuhkan kekuatan kesabaran dan keyakinan akan akhir episode yang baik.

Jika dia lemah kesabaran dan keyakinannya, maka dia akan balik arah dan tidak sanggup memikul beban. Terlebih lagi, jika tidak ada teman yang menemani dan dia merasa takut sendirian. Hingga dia mengatakan: Kemana manusia pergi aku akan mengikuti mereka.

Inilah keadaan kebanyakan orang dan ini pula yang membinasakan mereka. Adapun orang yang paham dengan sebenarnya, maka dia tidak akan merasa takut sendirian, ditinggal oleh teman dan sahabat. Jika memang hatinya selalu merasa bersama dengan generasi pertama “Yaitu orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Dan mereka itulah sebaik-baik teman” (QS. An-Nisa’ : 69)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: Sunnah itu -demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia- diantara ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Maka bersabarlah atasnya -semoga Allah merahmatimu-, karena ahlussunnah itu dahulu minoritas dan sekarang juga minoritas. Yaitu mereka yang tidak bersama dengan orang-orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pula bersama ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka bersabar di atas sunnah hingga berjumpa dengan Rabb mereka. Maka hendaklah kalian mengikuti jejaknya. [1]

[1] Syarah Aqidah Ath-thahawiyah 2/360-361 oleh Imam Ibnu Abi Al-‘Izzi rahimahullahu.

Syarah Kitab Tauhid

*Faidah Tabligh Akbar:*

_*Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas*_ _Hafizhahullah_

*Ahad, 11 Jumadil Awwal 1439 H/28/01/2018*

┈•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•┈

*Syarah kitab tauhid*

════════════════════

_Tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam melindungi Tauhid dan menutup setiap jalan menuju kesyirikan_

════════════════════

📝Ditulis Oleh: *Hafizh Abdul Rohman (Abu Ayman)*

*Muqaddimah*

*PRINSIP-PRINSIP DALAM BERAGAMA*

1. Agama islam adalah agama dalil, Agama hujjah, bukan agama ikut-ikutan, dalil itu adalah alquran dan as-Sunnah

(وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا)

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

[Surat Al-Isra’ 36]

(وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ)

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”

[Surat Al-Baqarah 111]

2. Agama islam wajib dipahami dengan pemahaman para sahabat.

Allah yang memerintahkan hal demikian

(وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا)

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali. [Surat An-Nisa’ 115]

Kaum mu’minin dalam ayat di atas adalah para sahabat,

Mengapa kaum muslimin wajib memahami agama sesuai dengan pemahaman para sahabat? Supaya mereka tidak termasuk golongan yang sesat, menyimpang, karena nabi sudah mendapatkan kabar dari Allah bahwa umatnya pasti akan mengalami perpecahan:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan, ” para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya”. (HR. Tirmidzi, No. 2565, hadits Hasan)

(مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)

dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

[Surat Ar-Rum 31]

(مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ)

yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

[Surat Ar-Rum 32]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ahlussunnah wal jamaah adalah mereka yang berpegang teguh denga alquran dan as sunnah sesuai dengan pemahaman orang-orang terdahulu (salaf ash-shalih)

Allah akan meridhai, memberikan surga bagi orang yang mengikuti para sahabat dengan baik, bukan sekadar beragama secara ikut-ikutan tidak jelas.

(وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ)

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

[Surat At-Tawbah 100]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata; “Dahulu, mereka (para shahabat) mengajarkan kami tentang bersaksi dan memegang janji (Mereka memukul kami bila melanggar perjanjian dan persaksian) “. (HR. Al-Bukhari, 2458)

3. Agama islam adalah agama yang sudah sempurna.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. [Surat Al-Ma’idah 3]

Semua tentang agama sudah selesai dijelaskan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, semua jalan menuju surga, sudah beliau smapaikan, semua yang menyeret pada neraka, sudah beliau peringatkan.

Tolak ukur kebenaran adalah alquran dan sunnah yang difahami dengan benar sesuai pemahaman para sahabat, bukan ucapan fulan dan fulan.

4. Jika terjadi perselisihan pendapat dalam perkara agama, maka harus dikembalikan kepada dalil

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

[Surat An-Nisa’ 59]

Perselisihan/khilafiyah itu bukanlah dalil, karena dalil adalah alquran dan as-Sunnah

5. Dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dakwah tauhid

Dakwah itu bukan asal berbicara, diundang asal datang, tapi ada tujuan yang agung, di antaranya adalah sebagai berikut:

Tujuan dakwah:

1. Supaya manusia tidak bisa lagi beralasan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala

(رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا)

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

[Surat An-Nisa’ 165]

Dakwah terdiri dari kabar gembira bagi yang bertauhid, ibadah, beramal shalih

Dakwah terdiri dari ancaman bagi yang menyekutukan Allah, bermaksiat, melakukan bid’ah dalam beragama

Bila tidak ada ancaman maka, mungkin saja orang mengikuti pengajian puluhan tahun, namun dia tidak mengerti tentang kesyirikan.

Allah menciptakan manusia di atas agama islam secara fitrahnya,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا}

“Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”). (HR. Al-Bukhari, 1270)

2. Menunjukan hidayah kepada manusia kepada jalan yang lurus

(وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus, [Surat Ash-Shura 52]

(إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ)

Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” [Surat Aal-E-Imran 51]

Mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik, kebodohan

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ)

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji [Surat Ibrahim 1]

Inilah jalan yang lurus, yaitu mengajak manusia kepada jalan tauhid, dakwah kepada tauhid, maka tidak ada lagi alasan bagi dai untuk menunda dakwah tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan dengan berkata “ummat belum siap menerima dakwah tauhid”. Justru dailah yang harus menyiapkan ummat supaya bertauhid sebelum mereka diajak kepada ibadah-ibadah lainnya.

3. Untuk melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala

(وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ)

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.”

[Surat Al-A’raf 164]

Dakwah para NABI:

Dakwah Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan dakwah seluruh nabi dan Rasul adalah dakwah tauhid, walaupun problematika ummat itu banyak, namun mereka semua tetap memulai dakwah Dengan yang lebih penting, yaitu tauhid

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ)

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). [Surat An-Nahl 36]

(لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ)

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat). [Surat Al-A’raf 59]

Mengapa belajar tauhid???

1. Supaya bertaubat

(وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ)

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya,”

[Surat Ar-Ra’d 27]

َ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertaubat.”

2. Menjadikan kuatnya kemauan untuk mengharapkan karunia dari Allah

3. Terbebas dari Penghambaan terhadap manusia, karena dia hanya ibadah untuk Allah saja, tidak perduli dengan penilaian manusia

4. Mengerjakan amal ibadah secara Sempurna, baik ibadah lahir maupun batin

5. alquran dan as sunnah melarang dari hal yang merusak, seperti ghuluw (berlebihan, ekstrim) karena akan menyeret pada kekufuran dan kesyirikan, juga islam melarang tasyabbuh atau meniru orang musyrik, orang kafir, di mana mereka berpecah belah, bermaksiat, menyekutukan Allah, dsb.

Diantara sifat nabi shallallahu alaihi wasallam:

(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. [Surat At-Tawbah 128]

– nabi membawa Syariat islam yaitu syariat yang mudah, bukan untuk mempersulit.

– ‎ sedih jika umatnya mengalami penderitaan

– Nabi berkeinginan kuat untuk menunjukan kepada hidayah

– Berkasih sayang terhadap orang mukmin

Bagaimana bentuk kasih sayang nabi?

Apakah beliau membiarkan umatnya melakukan kesyirikan? Bid’ah?

Tidak, Rasulullah menjelaskan dengan tegas, mana tauhid mana syirik, mana sunnah dan mana bid’ah.

Di sinilah pentingnya seorang dai meniru Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam berdakwah, apakah disebut sayang pada umat jika membiarkan mereka tidak faham makna laa ilaha illalllah? Tidak! itu tidak sayang, tapi zhalim karena menyembunyikan kebenaran, yang harusnya dai itu memberikan perhatian besar terhadap dakwah La ilaha illallah (tauhid)

Lihatlah bagaimana contoh kasih sayang nabi kepada umatnya:

– memperingatkan dari kesyirikan dan mengajak kepada tauhid, melarang menyembah kubur, batu pohon, dsb

– ‎memperingatkan ummat dari jalan yang dapat menghantarkan manusia dari kesyirikan, contohnya: berlebihan dalam mengagungkan kuburan (ghuluw)

– ‎ nabi sangat keras kepada orang yang ibadah di sisi kuburan orang shaleh,

Berikut adalah celaan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam terhadap buruknya ibadah-ibadah di kuburan:

Beliau mencela Yahudi dan Nashrani yang mengagungkan kuburan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمْ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

‎Mereka adalah suatu kaum yang jika ada hamba shalih atau laki-laki shalih dari mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan membuatkan patung untuknya. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari. 416)

beliau Mencela peribadatan di kuburan Karena kerusakan yang disebabkan oleh pengagungan kuburan itu sama atau bahkan lebih buruk dari kesyirikan yang disebabkan batu, pohon atau berhala yang lainnya.

Bahkan Rasulullah khawatir kuburan beliau akan disembah, oleh karena itu beliau minta supaya diliburkan di rumah Aisyah.

Jadi Rasulullah tidaklah dikubur di dalam masjid, tapi hal itu terjadi puluhan tahun kemudian ketika masjid mengalami perluasan, karena tidak lagi dapat menampung jemaah. Dan hal demikian juga pernah diperingatkan oleh para sahabat, supaya tidak memasukkan kuburan ke dalam area masjid)

Lima hari sebelum Rasulullah wafat beliau bersabda mengenai larangan menjadikan kuburan sebagai masjid:

ُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”. (HR. Muslim, No. 827)

Maksudnya adalah khawatir kuburan dijadikan sebagai tempat ibadah, seperti shalat, membaca al-Quran, walaupun tidak dibangun masjid di atas kuburan itu.

Hadits ini Juga termasuk bantahan bagi kelompok syi’ah rafidhah, karena kelompok ini adalah yang pertama menjadikan kuburan sebagai masjid, juga jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa Manusia yang paling buruk adalah, orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid:

إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

‎”Sesungguhnya termasuk seburuk-buruk manusia adalah orang mendapatkan kiamat sementara mereka masih hidup, dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid.” (HR. Ahmad)

Makna menjadikan kuburan sebagai masjid:

-Sujud di atas kuburan

-Sujud, shalat, berdoa menghadap kubur

-Membangun masjid di atas kubur

Bagaimana seharusnya ziarah kubur?

1. Mengucapkan salam

2. ‎ mendoakan ahli kubur

3. ‎ mengingat kematian, akhirat

YANG PALING RASULULLAH KHAWATIRKAN TERHADAP UMATNYA: Imam Yang Menyesatkan

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ قَالَ ابْنُ عِيسَى ظَاهِرِينَ ثُمَّ اتَّفَقَا لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Yang aku kawatirkan atas umatku hanyalah imam-Imam yang menyesatkan, jika sebuah pedang diletakkan di hadapan umatku, maka pedang tersebut tidak terangkat (digunakan untuk jihad) hingga kiamat datang. Tidak akan datang kiamat hingga sebagian dari umatku menjadi musyrik dan menyembah berhala, sesungguhnya akan ada para pendusta dalam umatku, jumlah mereka tiga puluh orang, semuanya mengaku bahwa dirinya adalah Nabi. (padahal) aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku. Dan akan senantiasa ada dari umatku yang berada di atas kebenaran, (HR Ahmad. Shahih)

Siapakah imam yang menyesatkan???

Dijelaskan oleh Syaikh Mubarok Furi:

Yang dimaksud imam yang menyesatkan adalah dai yang mengajak kepada bid’ah, kefasikan, keburukan….

Syirik bisa berubah namanya, namun hakikatnya sama, yaitu beribadah kepada selain Allah, baik itu atas nama tawassul, tabarruk, memuliakan wali, dan semacamnya (Maksudnya ada sebagian orang yang tidak mengerti mana tawassul yang boleh, dan mana yang syirik, mana tabarruk yang boleh, dan mana yang menjerumuskan kepada kesyirikan, serta berlebihan dalam memuliakan wali)

Inilah dakwah nabi, mengajak kepada tauhid, memperingatkan dari kesyirikan…ini adalah dakwah yang hak, bukan dakwah yang keras, bukan Dakwah yang ekstrem… Inilah dakwah yang mengajak kepada persatuan yang hakiki di atas tauhid. Maka mengherankan Jika ada yang menganggap keliru dakwah tauhid ini…

Lokasi Tabligh Akbar:

Al-Musyawarah Grand Mosque

Jl. Kelapa Nias Raya, Kelapa Gading, Kelapa Gading Timur, RT.13/RW.18, Klp. Gading Tim., Klp. Gading, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

(021) 4531924

Ringkasan Kajian Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily

Istiqlal, 7 Januari 2018

1. Tauhid merupakan kunci kebahagiaan dan kejayaan. Tauhid merupakan tema yang sangat agung . Tauhid menurut bahasa berarti menjadikan sesuatu itu satu. Tauhid itu menjadikan Alloh azza wa jalla satu dalam zat-Nya, dalam beribadah kepada-Nya.

2. Tauhid ada tiga

a. Tauhid Rububiyah

Mengesakan perbuatan-perbuatan hanya untuk Alloh yaitu menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur alam semesta.

b. Mengesakan Alloh dalam nama dan sifat-sifat-Nya

Meyakini bahwa Alloh tidak ada sekutu dalam nama dan sifat-sifat-Nya, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengampun dan seterusnya.

Wajib bagi muslim untuk mengimani-Nya. Tidak ada yang sama dengan Alloh Subhanahu wa ta’ala.

Mengesakan Alloh Subhanahu wa ta’ala dalam sifat-sifat-Nya. Meyakini Alloh dalam sifat-sifat-Nya seperti hikmah Alloh, Keagungan Alloh, Kaki Alloh, dua tangan Alloh, Istiwa’ Alloh, turun-Nya Alloh dan seterusnya.

c. Uluhiyah: Mengesakan Alloh sebagai Illah dalam bentuk ibadah, rasa takut, harap hanya kepada Alloh.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Wajib bagi kita beribadah kepada Alloh.

3. Kebahagiaan menurut bahasa adalah ketenangan jiwa dan hati. Kebahagiaan terbesar seorang hamba adalah ketika dimasukkan ke dalam surga selamanya.

4. Malaikat Jibril disebut Alloh sebagai ruh, karena menurunkan wahyu bagi manusia sehingga hati menjadi hidup.

5. Kebahagiaan hati seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh. Dengan beribadah, hati menjadi tenang. Tenangnya hati karena berzikir kepada Alloh.

6. Dengan tauhid seorang hamba menjadi bahagia. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat yang diberikan kepada orang yang bertakwa.

7. Kebahagiaan seorang hamba di akhirat adalah ketika dimasukkan ke dalam surga. Tidak ada lagi rasa takut dan sedih. Sebesar-besarnya nikmat penghuni surga adalah melihat wajah Alloh. Manusia hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

8. Kejayaan bagi ahli tauhid adalah sesuatu yang nyata. Kejayaan dibagi dua yaitu kejayaan di dunia dan di akhirat. Kejayaan yang diberikan Alloh contohnya yang diberikan kepada Nabi Musa dan pengikutnya dan kekalahan bagi Firaun dan pengikutnya. Contoh lain adalah kejayaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam untuk mengalahkan orang Yahudi dan Quraisy. Alloh akan selalu memberi kemenangan bagi orang yang bertauhid.

9. Kejayaan yang diberikan Alloh di akhirat lebih agung dari pada kejayaan yang diberikan Alloh di dunia. Alloh memmasukkan para ahli tauhid, para wali Alloh ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.

10. Orang yang bertauhid dengan sebenar-benarnya akan diberikan oleh Alloh kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan di akhirat.

11. Cara mewujudkan tauhid dalam diri kita adalah dengan mewujudkan dua dasar penting :

– Beribadah kepada Alloh dengan hati, hanya takut, berharap, tawakal dan bernazar kepada Alloh. Tidak boleh beribadah kepada malaikat, Nabi, para wali, dan orang sholeh.

– Berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan. Dulu kaum Quraiy beribadah kepada Alloh tapi mereka tidak berlepas diri dari kesyirikan. Maka selain beribadah kepada Alloh, wajib bagi diri kita berlepas diri dari kesyirikan.

12. Kebutuhan anak-anak akan tauhid jauh lebih besar dari pada kebutuhan akan makan, minum dan pakaian. Perhatian orang tua terkait tauhid juga hendaknya lebih besar dari pada perhatian terhadap makan, minum dan pakaian anak mereka. Ajarilah anak untuk beribadah, meminta, memohon pertolongan hanya kepada Alloh. Jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu.

Sesi tanya jawab

1. Bagaimana cara menanamkan tauhid dalam keluarga dan tips menciptakan keluarga yang sesuai dengan sunnah?

Keluarga yang baik diawali dengan memilih pasangan yang baik agamanya. Suami wajib mendidik istrinya di atas agama yang benar. Perlu kerjasama yang baik antara suami dan istri.

2. Bagaimana cara tawasul yang benar?

Tawasul secara bahasa adalah mendekatkan diri. Secara syariat adalah mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh.

Tawasul terbagi menjadi :

– Tawasul dengan menyebut nama Alloh

– Tawasul dengan amalan ibadah kepada Alloh

– Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup

– Tawasul dengan minta langsung kepada Alloh

Tidak termasuk tawasul adalah meminta kepada orang yang sudah mati.

3. Bagaimana cara memahami bersemayamnya Alloh di atas arsy?

Seorang muslim wajib meyakini istiwa’nya Alloh. Istiwa’ telah diketahui maknanya, tapi tidak diketahui tata cara dan wujudnya dan bertanya tentang tata cara dan wujudnya adalah bid’ah. Istiwa’nya Alloh berbeda dengan istiwa’nya mahluk. Kita tidak boleh mentakwil makna istiwa’

4. Bagaimana kiat agar istiqomah bertauhid sampai akhir hayat?

Sebab agar bisa istiqomah sampai akhir hayat :

– Tawakal dan berserah diri kepada Alloh, berdoa agar ditetapkan hati hanya kepada Alloh

– Berdoa di setiap waktu kepada Alloh agar selalu diberi ketetapan iman dan islam kita.

– Istiqomah dan senantiasa beribadah kepada Alloh

– Menuntut ilmu agar dijaga dari syubhat dan kerancuan

– Menahan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan

5. Bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak yang masih kecil?

Ajarkan untuk selalu memuji Alloh, mencintai Alloh, melebihi cinta kepada siapapun. Kita harus menjadi teladan bagi mereka. Ajarkan matan-matan ringkas kepada mereka, sehingga bisa menangkis syubhat-syubhat terkait tauhid.

*Nasihat penutup*

Pentingnya perhatian kepada tauhid dan sunnah karena banyaknya mereka jatuh kepada kesyirikan karena kebodohan mereka. Ajarkanlah tauhid dan sunnah bagaimana beribadah yang baik dan benar.

*Selesai Diringkas oleh Abu Abdul Hafiizh pukul 11:40 WIB*

http://www.adis.web.id