Kajian Al Mukhtasar Al Hatsits fii Ushul Manhajis Salaf Ashabil Hadits (Intinya mengenai Pokok-Pokok Manhaj Salaf)

APA ITU MAKNA MANHAJ SALAF?
Manhaj artinya: Kaidah kaidah dan batasan batasan; yang memberikan kepada kita batasan dan kaidah di dalam mempelajari sesuatu, atau yang disebut dengan “Metode”.
Apa itu Salaf?Salaf secara bahasa artinya orang yang telah terdahulu.
Seperti  Rasulullahﷺ  bersabda  kepada  Fathimah  Radhiyallahu  Anha,  “Sebaik  baiknya Salaf untukmu adalah aku”Salaf artinya pendahulu. (Walaupun juga Salaf dalam bahasa Arab mempunyai makna makna yang lain, namun yang kita inginkan adalah yang ini).
Adapun secara Istilah, maka ucapan para Ulama ketika memutlakkan kata Salaf, maksudnya itu para sahabat Nabi ﷺ,  para  Tabi’in,  Tabi’ut  Tabi’in;  3  generasi  yang  Rasulullah  ﷺ telah puji mereka.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim, dan Haditsnya Mutawattir: “Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelahnya.”
Yaitu: generasi Rasulullah yaitu Para Sahabat, setelahnya adalah Tabi’in, kemudian setelahnya adalah Tabi’ut Tabi’in.
Dan diantara yang tegas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Salaf itu adalah mereka tiga generasi pertama adalah: Imam Al-Ghazali, demikian pula Al-Imam Al-Jauhariy, Imam Al-Baijuri dalam kitabnya Jauharut Tauhid.
Jadi apa itu Salafiyyah?Yaitu Manhaj yang dipegang oleh Salafush Shalih. Dalam Akidah, Ibadah, Muamalah, Hukum, Tarbiyyah, Berdakwah, Tazkiyatun Nufs, dan yang lainnya.Disebut Manhajus Salaf adalah Metode yang diikiti/dilakukan oleh para Salafush Shalih, dikalangan Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in.
Dan tentunya Manhaj ini adalah merupakan Manhaj yang harus kita pegang. Kenapa? Karena Salaf tadi sudah kita sebutkan adalah Para Sahabat, Para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, dan mereka telah dipuji langsung oleh rasulullah ﷺ.
Dan Nabi ﷺ mengatakan, ketika menyebutkan tentang perpecahan,“Siapa yang masuk surga dari tujuh puluh tiga golongan itu adalah satu”,… “Siapa mereka?” “Al jama’ah.”“Siapa mereka al jamaah itu?” “Yaitu aku dan para sahabatku.”Berarti ini merupakan sebuah kewajiban untuk mengikuti manhaj salaf. Salaf yang dimaksud disini adalah para Sahabat, para Tabi’in, para Tabi’ut Tabi’in.
Apabila ada orang yang berkata “Saya tidak mau mengikuti manhaj Salaf”.Kita katakan, “Anda mengikuti selain Salaf? Siapa yang anda ikuti?Sebab kalau kita tidak mengikuti agama para sahabat, para Tabi’in, para Tabi’ut Tabi’in, sudah dipastikan sesatnya. Karena kebenaran itu yang ada pada mereka. Merekalah yang langsung  mengambil  ilmu  dari  Rasulullah  ﷺ,  memahami  Islam  ini,  Qur’an,  dan  Hadits. Mereka juga orang orang yang sangat fasih bahasa Arabnya. AlQur’an turun dengan bahasa mereka, Rasulullah ﷺ berbicara dengan bahasa mereka. Tentu mereka orang orang yang sangat fasih, paling alim, paling dalam keilmuannya tentang Islam ini.

WAJIBNYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF
Wajib diketahui bahwa mengikuti Salafush Salih bukan alternatif, akan tetapi itu sebuah kewajiban syariat.
Dalilnya:Allah Subhanaahu wa ta’ala berfirman :َ

وَﻣ ْﻦ ُﯾ َﺸﺎِﻗ ِﻖ اﻟﱠﺮ ُﺳﻮ َل ِﻣ ْﻦ َﺑ ْﻌِﺪ َﻣﺎ َﺗَﺒﱠﯿ َﻦ َﻟُﻪ اْﻟُﻬَﺪىٰ َوَﯾﱠﺘِﺒ ْﻊ  َﻏْﯿَﺮ  َﺳِﺒﯿ ِﻞ اْﻟُﻤ ْﺆِﻣِﻨﯿ َﻦ ُﻧَﻮﱢﻟِﻪ َﻣﺎ َﺗَﻮﱠﻟﻰَٰوُﻧ ْﺼِﻠِﻪ  َﺟَﻬﱠﻨَﻢۖ َو َﺳﺎ َء ْت َﻣ ِﺼﯿًﺮا”

Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan selain kaum mukminin, maka Kami akan biarkan ia leluasa dalam kesesatannya tersebut dan akan Kami bakar dengan api neraka. Dan itu seburuk buruk tempat kembali.” (QS An Nisa : 115).
Disini Allah mengatakan bahwa orang yang tidak mengikuti jalan kaum mukminin, dan kaum mukminin ketika turunnya ayat ini adalah para Sahabat. Maka mereka generasi yang paling pertama kali disebutkan dalam ayat ini dan masuk dalam ayat ini. Terlebih mereka orang orang yang telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman :
ا ﱠﷲَُر ِﺿ َﻲِﺑِﺈ ْﺣ َﺴﺎ ٍناﱠﺗَﺒُﻌﻮ ُﻫْﻢَواﱠﻟِﺬﯾ َﻦَﺼﺎ ِرَواَْﻷْﻧاْﻟُﻤَﻬﺎ ِﺟ ِﺮﯾ َﻦِﻣ َﻦَواﻟ ﱠﺴﺎِﺑُﻘﻮ َن  اَْﻷﱠوُﻟﻮ َن
ُﺿﻮا  َﻋْﻨُﻪَو َرَﻋْﻨُﻬْﻢ

Dan orang orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan orang orang yang mengikuti mereka (Muhajirin dan Anshor) dengan kebaikan.
Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. (QS. At Taubah : 100)
Disini Allah memuji kaum Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka. Itu menunjukan bahwa orang-orang yang mengikuti para Sahabat maka mereka terpuji. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sabda Rasulullah ﷺ :َﻗ ْﺮِﻧﻲ ُﺛﱠﻢ اﱠﻟِﺬﯾ َﻦ َﯾُﻠﻮَﻧُﻬْﻢ ُﺛﱠﻢ اﱠﻟِﺬﯾ َﻦ َﯾُﻠﻮَﻧُﻬﻢَﺧْﯿُﺮ اﻟﱠﻨﺎ ِس
“Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.”— Hadist mutawatir. (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)
Ini tegas dari Nabi bahwa sebaik baik generasi adalah generasi Rasulullah, yaitu para sahabat. Terbaik dalam dien, terbaik dalam akhlak, aqidah, ibadah, mu’amalah, dan seluruh sisi-sisi agama. Maka berarti karena mereka terbaik, berarti kewajiban kita mengikuti yang terbaik.
Dari Al Irbad bin Saariyah :َ

ﻓِﺈﱠﻧُﻪ َﻣ ْﻦ َﯾِﻌ ْﺶ ِﻣْﻨُﻜْﻢ َﺑْﻌِﺪى َﻓ َﺴَﯿ َﺮى ا ْﺧِﺘ َﻼًﻓﺎ َﻛِﺜﯿ ًﺮا َﻓَﻌَﻠْﯿُﻜْﻢ ِﺑ ُﺴﱠﻨِﺘﻰ َو ُﺳﱠﻨِﺔ اْﻟ ُﺨَﻠَﻔﺎءاْﻟَﻤْﻬِﺪﱢﯾﯿ َﻦ اﻟ ﱠﺮا ِﺷِﺪﯾ َﻦ

“Sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian akan melihat perpecahan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi), hadits Hasan Shahih.
Hadits itu mengatakan ketika berselisih, hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku (Muhammad  ﷺ) dan sunnah Khulafaur Rasyidin
Riwayat At Tirmidzi,, ketika Rasulullah ﷺ mengatakan umat Islam berpecah belah.Rasulullah mengatakan; “72 di neraka, 1 di surga.” Sahabat bertanya: “Siapa (yang 1 itu) ya Rasulullah?” Rasul menjawab;” Al Jama’ah.”Sahabat bertanya lagi: “Siapakah Al jama’ah itu?”Kata Rasulullah; “Yang aku dan para sahabatku diatasnya”.Dalil ini tegas menunjukkan bahwa kita harus mengikuti para Sahabat.
Juga Rasulullah ketika mengabarkan bahwa umat Islam akan tertimpa fitnah. Dalam riwayat Imam At Thohawi; Rasulullah ﷺ ketika ditanya;”Apa yang kami lakukan di zaman seperti itu?”.Kata Rasulullah “Kembalilah kepada urusan kalian yang pertama”.(HR At Thohawi) –Dalam kitab Musykilul Atsar-Siapa itu? Yaitu para Sahabat.Berarti ini menunjukan bahwa mengikuti Manhaj para sahabat Salafush Shalih itu bukan manhaj alternatif, akan tetapi dia harus, bahkan wajib untuk diikuti.
PERKATAAN PARA ULAMA

Al Imam Al Auza’i; seorang tabi’ut tabi’in berkata;”Sabarkan dirimu diatas sunnah dan berhentilah di tempat kaum itu (yaitu para Sahabat). Ucapkan seperti apa yang mereka ucapkan dan hentikan dari apa yang mereka hentikan. Dan jalanilah jalan Salafush Shalih. Karena mencukupimu apa apa yang mencukupi mereka”.
Disini Imam Al Auza’i mengingatkan bahwa apa yang mencukupi Salafush Shalih itu pasti mencukupi kita. Beliau juga berkata;”Hendaklah kamu berpegang kepada pendapat pendapat Salafush Shalih, walaupun orang orang menolak kamu. Dan jauhi oleh kamu pendapat pendapat manusia, walaupun mereka menghiasinya dengan ucapan ucapan yang indah”.
Berkata Abdullah bin Mubarrak;”Ambillah/Jadikanlah sebagai sandaran kamu adalah atsar, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Dan ambillah dari pendapat yang menafsirkan hadits dengan benar”.

Berkata Syaikhul Islam;”Tidak aib bagi orang yang memperlihatkan madzhab salaf dan menisbatkan dirinya kepadanya. Bahkan wajib menerimanya dengan kesepakatan seluruh ulama. Karena madzhab salaf tidak mungkin kecuali kebenaran.“
Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah;”Yang harus dilalui adalah madzhab salafush-shalih”; Seperti Imam Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan yang lainnya.
Maka setiap kita wajib memahami agama ini sesuai dengan pemahaman salafush-shalih. Telah kita sebutkan salafush-shalih adalah para sahabat, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in. Adapun sebagian orang yang mengatakan bahwa madzhab salaf itu lebih selamat sedangkan madzhab kholaf yaitu orang belakangan itu lebih alim, lebih berilmu; ini ucapan yang tidak berdasarkan keilmuan.Bahkan mereka yang mengatakan katanya madzhab salaf itu lebih selamat dan madzhab kholaf itu lebih berilmu, ternyata ujung akhir hayat mereka malah mengatakan, “Andaikan aku berada diatas agama orang-orang awam”. Setelah mereka merasa tidak bisa mendapatkan apapun dari ilmu kalam.
Oleh karena itulah Imam Asy-Syaukani berkata mereka-mereka yang bersuara dengan keras, katanya jalan orang yang belakangan itu lebih alim, ternyata mereka sendiri mengakui akan kebodohan.Maka dari itu, jalan salaf itulah yang paling selamat, yang paling berilmu, yang paling hikmah. Maka kewajiban kita adalah mengikuti jalan salaf dan tidak boleh mengikuti jalan jalan yang lainnya.
NAMA LAIN SALAF YAITU : AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH. APA ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH?

Disebut Ahlussunnah karena mereka selalu berpegang kepada sunnah Nabi ﷺ. Baik itu yang sifatnya wajib, maupun yang sifatnya sunnah. Dan meninggalkan larangan larangan Nabi, baik itu yang sifatnya haram maupun yang sifatnya makruh.Maka orang yang disebut Ahlussunnah yaitu orang yang berpegang kepada sunnah Nabi dalam kehidupannya, dan akidahnya, dalam ibadahnya, dalam akhlaknya, muamalahnya, dalam adabnya; Ia selalu berusaha untuk menghidupkan sunnah sunnah Nabi. Juga dalam penampilannya. Maka tata cara shalat mereka berusaha mengikuti shalatnya Rasulullah ﷺ.
Al Jama’ah mempunyai beberapa makna:Jama’ah artinya Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah mengabarkan bahwa umat Islam akan berpecah menjadi 73 golongan; 1 di surga dan 72 di neraka. Kemudian Nabi ditanya: siapa yang disurga?. Kata Nabi : Al Jama’ah. Siapa mereka Al Jama’ah?. Kata Nabi : yang aku dan para sahabatku diatasnya.
Al Jama’ah yaitu Jamaah kaum muslimin apabila bersatu padu untuk mengangkat seorang amir/pemimpin dalam sebuah negara. Maka ketika di satu negara mereka telah bersepakat memilih seorang pemimpin muslim, maka itu disebut Al Jama’ah juga.
Al Jama’ah yaitu kebenaran; sebagaimana Ibnu Mas’ud menafsirkan demikian. Kata beliau : Al Jama’ah itu adalah kebenaran walaupun kamu sendirian.
Al Jama’ah artinya (menurut pendapat Imam Bukhari dan Tirmidzi): mereka adalah para ulama ahli Ijtihad.
Al Jama’ah bermakna : Ijma. Para ulama, para ahli ijtihad, apabila mereka berijjmaa pada suatu permasalahan.
Jadi Al Jama’ah adalah:ü mereka yang senantiasa mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Dan mereka selalu bersatu padu diatas kebenaran yang ditunjukan oleh Al Qu’an dan Hadits. Bukan bersatu padu diatas sesuatu yang tidak jelas.ü Mereka senantiasa mentaati pemimpin kaum muslimin walaupun dzholim. Mereka sabar diatasnya karena itu yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.ü Dan mereka juga senantiasa mengikuti para ulama al ijtihad di dalam memahami dien. Maka disitulah yang disebut dengan Al Jama’ah.
Jadi Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah adalah:
Mereka   yang   senantiasa   berpegang   kepada   sunnah  Rasulullah  ﷺ,  berpegang kepada   pemahaman   para   sahabat   Rasulullah   ﷺ,   yang   selalu   bersatu   diatas kebenaran. Demikian pula Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang melarang untuk memberontak kepada pemimpin yang sah selama dia seorang muslim.
Adapun apabila tidak memiliki kriteria kriteria itu, walaupun dia menamai dirinya Ahlussunnah wal Jama’ah, ia tidak disebut sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kalau ada orang mengaku dirinya ahlussunnah tapi dia pelaku bid’ah dan senang berbuat bid’ah, pemikirannya pun tidak sesuai dengan pemikiran ahlussunnah wal jama’ah, maka tidak disebut dengan ahlussunnah wal jama’ah.
NAMA LAIN DARIPADA SALAFI YAITU AHLUL HADITS.
Siapa itu Ahlul Hadits? Yaitu orang yang mengambil sunnah Nabi; yaitu hadits-hadits Nabi ﷺ sebagai dasar di dalam ilmu dan amal.Dimana mereka bukan semata menjadikan hadits sebagai sandaran, tetapi mereka juga betul-betul memperhatikan masalah “sanad”, “matan”, dan keshahihannya. Mereka perhatikan sanadnya , matannya, fiqhnya, dan amalnya.
Imam Ahmad berkata ketika menafsirkan Ath-Thoif Mansurah, “Jika mereka bukan Ahlul Hadits/ Ashaabul Hadits, aku tidak tahu siapa mereka”.
Abdullah bin Mubarrak berkata ketika menafsirkan Ath-Thoif Mansurah, “Mereka menurutku adalah Ashabul Hadits”.
Syaikhul Islam berkata; “Bukan maksud Ahlul Hadits adalah sebatas mendengarkan hadits atau sebatas mencatatnya atau meriwayatkannya; Akan tetapi orang yang menghafalnya dan memahaminya secara dzahir maupun secara bathin. Lalu mereka mengikutinya juga secara dzahir maupun bathin. Yang paling rendah, setidaknya dia mencintai Alquran dan Hadits dan mencari makna-makna nya. Dan mengamalkan konsekwensinya”.
Jadi merekalah orang orang yang disebut Ahlul Hadits. Mereka orang yang paling tahu tentang keadaan Nabi dan ucapannya. Mereka yang paling dapat membedakan antara shahih  dan  dhoifnya.  Dan  mereka  orang  yang  paling  mengikuti  sunnah  Nabi  ﷺ.  Maka merekalah Ashabul Hadits. Dan ini hanya dimiliki oleh Ahlussunnah wal Jama’ah.
Adapun selain Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka orang-orang Mu’tazillah contohnya, lebih mendahulukan akalnya daripada hadits.Orang orang Sufi misalnya, mereka tidak peduli hadits. Bahkan mereka menganggap ahli hadits itu jelek dihadapan mereka. Mereka lebih mengedepankan ilham, wangsit, mimpi wali, dan mereka tidak peduli dengan hadits dhoif , hadits palsu.Demikian pula selain Ahlul Hadits, mereka itu sangat tidak memperhatikan hadits Nabi ﷺ. Kalaupun mereka memperhatikan, hanya sebatas lahiriyahnya saja (matannya), tanpa berusaha memahami hadits tersebut sesuai pemahaman Salafush Shalih. Makanya mereka disebut Ahlul Hadits karena perhatian mereka terhadap Alquran dan Hadits, dan selalu mempelajari keduanya.
Imam Ahmad berkata, “Agama Nabi Muhammad itu berdasarkan “Akhbar” yaitu Al Qur’an dan Hadits. Sebaik baik kendaraan untuk pemuda adalah “Atsar”. Jangan kamu membenci hadits dan ahli hadits karena Ro’yu itu bagaikan malam dan Hadits itu bagaikan siang”.
Maka tidak disebut ahlul-hadits atau ahlussunnah atau as-salafiy kecuali orang yang benar benar mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ secara fiqh, secara hafalan, secara faham, demikian pula secara amal.
PENAMAAN YANG LAIN DARI SALAFI ADALAH : AS SAWAADUL A’DZOM

Apa yang dimaksud dengan As Sawaadul A’dzom?
Di jaman sekarang, banyak orang yang memaknai Sawaadul A’dzom itu artinya jumlah mayoritas. Ini adalah merupakan pemahaman yang salah, karena tidak demikian para ulama terdahulu memaknai As-Sawaadul A’dzom.
As-Sawaadul A’dzom yang di tafsirkan oleh Imam Al-Barbahaari dalam kitab beliau Syarhus Sunnah,  yang  dimaksud  adalah;  Para  Sahabat  Rasulullah  ﷺ. Karena mereka di jaman itulah yang terbanyak yang berpegang kepada kebenaran.Makanya beliau berkata;”Yang dimaksud dengan As Sawaadul A’dzom adalah Rasulullah dan para sahabatnya; karena merekalah orang yang terbanyak yang paling kuat berpegang kepada Al Haq yang diturunkan dari sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yang wajib mengambil mereka sebagai suri tauladan dalam kebenaran”. Jadi yang dimaksud dengan As-Sawaadul A’dzom adalah para Sahabat Rasulullah ﷺ
NAMA SELANJUTNYA : AL FIRQOTUN NAJIYAH = KELOMPOK YANG SELAMAT.
Kenapa meraka disebut dengan kelompok yang selamat? Karena berdasarkan hadits, bahwa Nabi ﷺ mengatakan;”Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 1 di surga dan 72 di neraka.”Hadits Riwayat Imam Tirmidzi dan yang lainnya, haditsnya shahih.
Dimana Nabi mensifati mereka bahwa golongan inilah yang selamat, yang satu inilah yang
selamat, yaitu Al Firqotun Najiyah.
PENAMAAN SELANJUTNYA : AT THOOIFATUL MANSUUROH(KELOMPOK YANG DIBELA/DITOLONG OLEH ALLAH SUBHAANAHU WA TA’ALA)
Berdasarkan hadits Nabi  ﷺ:ﻻ ﺗﺰال ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ أﻣﺘﻲ ﯾﻘﺎﺗﻠﻮن ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻖ ﻇﺎﻫﺮﯾﻦ إﻟﻰ ﯾﻮم اﻟﻘﯿﺎﻣﺔ”Akan terus ada sekelompok dari umatku yang ditolong oleh Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka sampai hari kiamat” (Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)
Disebut At-Thooifatul Mansuuroh karena Allah yang terus membela mereka, menolong mereka. Karena mereka selalu menjauhi bid’ah dan kebatilan. Mereka selalu berpegang kepada al-haq dan kebenaran. Atau dikarenakan mereka selalu membela kebenaran. Karena orang yang membela kebenaran pasti Allah akan membelanya

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

:َوُﯾَﺜﱢﺒ ْﺖ أَْﻗَﺪاَﻣُﻜْﻢُﺼ ْﺮُﻛْﻢُﺼُﺮوا ا ﱠﷲَ َﯾْﻨَﯾﺎ أَﱡﯾَﻬﺎ اﱠﻟِﺬﯾ َﻦ آَﻣُﻨﻮا إِ ْن َﺗْﻨ
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu…”.(QS. Muhammad : 7) :

NAMA SELANJUTNYA : AL GHUROBA = ORANG ORANG YANG TERASING
Kenapa? Karena mereka terasing; aqidah mereka terasing, tata cara ibadah mereka terasing, demikian pula tata cara beragama mereka terasing; di tengah tengah kaum muslimin yang berbuat bid’ah, berbuat kebathilan, ditengah tengah aqidah yang menyimpang. Mereka berpegang kepada aqidah para sahabat Rasulillah  ﷺ.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:”Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah bagi orang yang terasing”.

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF ASHABIL HADITS

Dalam masalah aqidah, yang menjadi dasar atau pondasinya adalah alquran, sunnah dan ijma’ para sahabat. Adapun qiyas tidak berlaku dalam aqidah. Demikian pula ijma’ setelahnya pun tidak berlaku, karena tidak mungkin ada terjadi jma’ setelah adanya ijma’ para sahabat dan tidak boleh. Karena keyakinan yang diyakini oleh para sahabat seluruhnya itulah yang mereka ambil dari Rasulullah ﷺ.Jadi dalam masalah aqidah; Masdar Talaqqi yaitu pondasi dalam pengambilannya adalah:Alquran
Sunnah Rasulullah ﷺ yang shahihah, bukan yang dho’ifah, baik itu hadistnya
mutawaatir ataupun ahad. Karena ahlussunnah wal jama’ah semua sepakat bahwa hadits dalam masalah aqidah selama itu hadits shahih walaupun itu ahad, wajib untuk diyakini. Adapun pendapat mu’tazilah atau sebagian asy’ariyyah yang mengatakan bahwa hadits ahad itu ditolak dalam masalah aqidah, ini jelas pendapat yang tidak berdasarkan alquran dan tidak pula hadits, dan juga bertabrakan dengan ijma’ para ulama.
Maka dari itu orang yang menolak masalah-masalah aqidah hanya dengan klaim katanya itu haditsnya ahad, adalah merupakan pendapat yang bertabrakan atau yang sesat dan menyesatkan.
Ijma ‘Salafush Shalih; yaitu ijma’ para sahabat Rasulillah  ﷺ. Karena aqidah sesuatu yang tidak mungkin berubah sampai akhir zaman.Aqidah tidak akan bisa berubah menyesuaikan dengan kondisi dan tempat . Beda dengan masalah-masalah yang bersifat praktek dan amaliyah. Terkadang ada yang sebagian hukum hukum syariat yang melihat situasi dan kondisi, tapi tidak untuk aqidah.
Karena aqidah adalah keyakinan. Keyakinan tentang Allah, tentang Rasul-Nya, tentang malaikat, tentang kitab-kitab, tentang hari akhirat, tentang takdir, dan yang lainnya. Perkara-perkara yang ghaib ini tidak mungkin berubah dan tidak akan menyesuaikan dengan zaman dan tempat.
Oleh karena itu, setiap keyakinan atau aqidah yang menyimpang dari keyakinan para sahabat seluruhnya dipastikan itu adalah merupakan keyakinan yang menyesatkan, aqidah yang tidak boleh kita ikuti.
Allahu Ta’ala berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 115

:َوَﻣ ْﻦ ُﯾ َﺸﺎِﻗ ِﻖ اﻟﱠﺮ ُﺳﻮ َل ِﻣ ْﻦ َﺑ ْﻌِﺪ َﻣﺎ َﺗَﺒﱠﯿ َﻦ َﻟُﻪ اْﻟُﻬَﺪىٰ َوَﯾﱠﺘِﺒ ْﻊ  َﻏْﯿَﺮ  َﺳِﺒﯿ ِﻞ اْﻟُﻤ ْﺆِﻣِﻨﯿ َﻦ ُﻧَﻮﱢﻟِﻪ َﻣﺎ َﺗَﻮﱠﻟٰﻰَوُﻧ ْﺼِﻠِﻪ  َﺟَﻬﱠﻨَﻢۖ َو َﺳﺎ َء ْت َﻣ ِﺼﯿًﺮا”

Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas kepadanya petunjuk, dan mengikuti selain jalan kaum Mukminin (maksudnya Ijma mereka; dan kaum mukminin yang turunkan pada waktu itu adalah para sahabat), maka Kami akan biarkan ia leluasa dalam kesesatannya tersebut dan Kami akan bakar ia dalam api neraka. Maka itu seburuk buruknya tempat kembali.”
Maka Ijma’ yang mu’tabar, yang dianggap dalam masalah aqidah adalah Ijma’ para sahabat Rasulillah Shalallahu Alaihi wa Sallam.
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:”Aku tidak mengetahui dari kalangan Sahabat dan Tabi’in yang mengabarkan tentang Rasulullah kecuali harus diterima pengabarannya dan dianggap sebagai sebuah sunnah. Barangsiapa yang tidak mengikuti pendapat seperti ini, dia berarti telah menyelisihi pendapat para sahabat. Maka orangnya tidak dianggap sebagai ahli ilmu”.Maka dari itu, ini kewajiban kita dalam masalah aqidah.
DIANTARA HUKUM MANHAJ SALAF ADALAH: IHTIJADUS-SALAF BI SUNNATISH-SHAHIHAH MUTLAQON
Yaitu: Berhujjah dengan hadits yang shahih secara mutlak baik dalam masalah aqidah maupun dalam masalah hukum. Baik haditsnya Mutawaatir maupun hadist Ahad. Karena para sahabat tidak pernah membedakan antara Mutawaatir dan Ahad; tidak pula para Tabi’in, tidak pula para Tabi’ut Tabi’in. Selama hadits itu shahih maka wajib kita untuk menerimanya. Dan ini merupakan ijma’ seluruh salafush shalih.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ٱﻟ ﱠﺮ ُﺳﻮ َلَوَأ ِﻃﯿُﻌﻮْاٱ ﱠﷲَْا َأ ِﻃﯿُﻌﻮْاَءاَﻣُﻨَيَٰٓأﱡﯾَﻬﺎ ٱﻟﱠِﺬﯾ َﻦ
” Hai orang orang yang beriman, taati Allah dan taati Rasul” (An Nisa : 59)
Kata Ibnul Qoyyim:” Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menaati Allah dan menaati Rasul-Nya”.
Demikian pula sunnah Rasul  ﷺ adalah berbentuk hadits-hadits Nabi  ﷺ.
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata;”Semoga Allah melaknat wanita yang bertato dan yang minta ditato, wanita yang mencukur bulu wajahnya; yaitu bulu alis dan yang minta di cukurkan, dan wanita-wanita yang mengukir giginya untuk terlihat cantik, dan yang merubah-rubah ciptaan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”
Lalu sampailah perkataan Ibnu Mas’ud kepada seorang wanita dari Bani Assad namanya Ummu Ya’qub dan dia hafal alquran. Lalu ia datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata;”Ada apa hadits yang pembicaraannya sampai kepadaku, bahwa engkau melaknat wanita yang bertato dan yang minta di tato, wanita yang mencukur bulu alis dan yang minta di cukur, dan yang mengukir giginya, merubah-rubah ciptaan Allah”.
Kata Abdullah bin Mas’ud;”Mengapa aku tidak melaknat yang dilaknat oleh Rasulullah ﷺ, dan ia adalah kitab-Nya”. Wanita ini berkata: ” Aku sudah hafal alquran dan aku tidak pernah mendapatkan ayat yang melaknatnya”.Kata Ibnu Mas’ud: ” Kalau kamu sudah hafal alquran, kamu pasti akan mendapatkannya. Yaitu firman Allah; “Apa-apa yang diperintahkan oleh Rasul ambillah, dan apa-apa yang dilarang oleh Rasul tinggalkanlah!”
Maka hadits yang selama itu adalah hadits shahih merupakan hujjah, tanpa melihat apakah mutawaatir ataupun ahad. Baik apakah yang meriwayatkannya jumlah yang banyak ataukah jumlah 1, 2, 3 orang saja (Ahad). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah membedakan, tidak pula Rasulullah membedakannya.Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman :
َيَٰٓأﱡﯾَﻬﺎ ٱﱠﻟِﺬﯾ َﻦ َءاَﻣُﻨﻮْٓا إِن  َﺟﺂ َءُﻛۡﻢ َﻓﺎ ِﺳ ُﻖۢ ِﺑَﻨَﺒﺈ َﻓَﺘَﺒﱠﯿُﻨﻮْٓا

“Hai  orang  orang  yang  beriman,  apabila  oran□g  fasik  membawa berita, periksalah dengan teliti…”. (QS. Al Hujurat ayat 6)
Artinya       kalau       dia       tidak       fasik       tidak       perlu       diperiksa. Berita masalah apa? Masalah apapun juga. Karena disini Allah memutlakkannya.

Demikian pula Allah ta’ala berfirman :َﻛﺎﱠﻓًﺔاْﻟُﻤْﺆِﻣُﻨﻮ َن ِﻟَﯿْﻨِﻔ ُﺮواَﻛﺎ َنَوَﻣﺎ
” Tidaklah selayaknya kaum mukminin semuanya lari ke medan perang”. (QS. At Taubah : 122)
Maka hendaklah ada sekelompok dari mereka yang bertafaqquh dalam agama, dan agar memberikan peringatan kepada kaumnya apabila kembali kepada mereka agar mereka ingat, agar mereka waspada.
Disini Allah mengatakan hendaklah ada sebagian mereka mempelajari. Kata “thoifah” masuk padanya 1 orang. Untuk apa? Untuk memberikan peringatan kepada kaumnya.Dalam masalah apa? Secara umum; Aqidah dan Hukum.Tidak pernah dibeda bedakan antara Mutawatir dan Ahad.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengirim orang per-orang. Rasulullah mengirim Ali bin Abi Thalib sendirian, Mu’adz bin Jabbal sendirian, Mus’a bin Umair sedirian. Itu menunjukan bahwa hadits Ahad itu adalah hujjah.Maka dari itu, orang yang membedakan antara Mutawaatir dan Ahad; kata Ibnu Qoyyim rahimahullah “Pembedaan seperti ini bathil, dengan kesepakatan para Ulama.“
Beliau ( Imam Ibnu Qoyyim ) mengatakan, “Lalu apa kerusakan yang timbul akibat menolak hadits Ahad dalam masalah Aqidah?”.Kata beliau:Hadits-hadits Mutawatir sangat sedikit sekali, dan yang terbanyak adalah hadits Ahad. Maka kalau begitu kita harus menolak banyak masalah masalah yang ditetapkan oleh hadits Ahad baik dalam masalah aqidah maupun hukum.
Aqidah seperti ini yaitu menolak hadits ahad dalam masalah aqidah atau menolak hadits ahad sama sekali adalah jelas bertabrakan dengan alquran, al-hadits dan perkataan para salafushshalih. Padahal dalam alquran, Allah memutlakkan untuk menerima berita orang yang tsiqoh baik itu 1, 2, 3, 4, 5 orang, sebagaimana Allah mengatakan dalam alquran surat Al Hujurat ayat 6.
Adapun dari hadits; Nabi ﷺ mengirim para sahabat ke kabilah-kabilah untuk berdakwah, hanya satu orang.Demikian pula perbuatan salaf dalam ijma’ mereka. Maka keyakinan menolak hadits ahad ini
adalah merupakan keyakinan yang bertabrakan dengan ijma’.
Menyebabkan akhirnya kaum muslimin berbeda-beda dalam keyakinan.Kenapa? Karena dengan alasan ini ahad, ini mutawaatir, sementara belum tentu kaum muslimin mendapatkan berita secara mutawaatir ataupun secara ahad.
Pendapat yang mengatakan menolak hadits ahad, ini yang mengatakannya juga ahad; tidak mutawaatir. Justru yang mutawaatir menerima hadist ahad. Maka bagaimana hendak diterima keyakinan bahwa hadits ahad ditolak dalam masalah aqidah atau hukum sementara yang mengatakannya juga ahad, ini jelas bertabrakan.
Banyak masalah aqidah yang harus kita tolak gara-gara katanya hadits ahad tidak boleh diterima dalam masalah Aqidah.

Contoh : Iman kepada malaikat Munkar dan Nakir, dan fitnah yang ada di kubur, Pertanyaan siapa Rabb-mu, siapa Nabimu dan Apa agamamu.
Ini keyakinan yang diyakini oleh seluruh kaum muslimin. Tapi haditsnya ahad. Sehingga menyebabkan akhirnya kita menolak kesepakatan kaum muslimin seperti ini. Jelas ini bathil.
Demikian pula syafa’at yang sangat agung di padang Masyhar, ini hadistnya ahad. Demikian pula beriman bahwa pelaku dosa besar tidak kekal dalam api neraka. Demikian pula beriman kepada Shiroth; jembatan yang terbentang diatas api neraka. Demikian pula bahwa kuburan akan menghimpit orang orang yang tidak beriman, dan yang lainnya, banyak sekali.
Bahkan Syaikh Albani menyebutkan ada 200 lebih keyakinan yang harus ditolak hanya karena haditsnya ahad.
Jelas ini keyakinan atau pendapat yang bathil. Justru orang yang menolak hadits ahad, telah bertabrakan dengan alquran dan hadist dan ijma’ salafushshalih.

WAJIB MEMAHAMI NASH; MEMAHAMI DALIL SESUAI DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH DAN PENAFSIRAN MEREKA DAN APA YANG DINUKIL DARI MEREKA.
Para sahabat adalah orang yang paling banyak pemahaman terhadap risalah. Kenapa? Karena  mereka  adalah  para  sahabat  yang  langsung  bersahabat dengan Nabi ﷺ. Yang langsung melihat bagaimana wahyu diturunkan. Yang langsung melihat bagaimana Nabi mempraktekkan. Dan langsung mendengar bagaimana Nabi ﷺ menjelaskan. Dan alquran dan hadits pun turun dengan bahasa mereka. Pastilah mereka yang paling paham tentang alquran dan hadits Nabi ﷺ.
Maka Nabi ﷺ bersabda;” Tiada seorang Nabi pun yang Allah utus sebelumku kecuali pasti ia memiliki sahabat-sahabat dan pembela-pembela yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintah-perintahnya. Kemudian nanti akan datang di generasi belakangan setelah mereka orang orang yang mengucapkan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan”.
Maka para sahabat Nabi ﷺ apabila terjadi problematika didalam masalah agama, langsung merujuk kepada Rasul ﷺ. Setiap perselisihan yang ada pada mereka langsung ditanyakan  kepada  Nabi  ﷺ.  Sehingga  keutamaan  mereka  tidak bisa disaingi oleh yang lainnya.
Abdullah bin Mas’ud berkata; ” Allah melihat kepada hati para hamba dan mendapatkan hati Nabi ﷺ sebaik baiknya hati. Allah pilih beliau untuk diri-Nya. Dan Allah mengutusnya dengan membawa risalah. Kemudian Allah melihat lagi hati -hati para hamba setelah hati Muhammad ﷺ. Maka Allah mendapati hati-hati para sahabat sebaik-baiknya hati manusia. Maka Allah pun menjadikan mereka para sahabat Nabi-Nya yang berperang diatas agama-Nya”.
Maka  itulah  para sahabat Nabi ﷺ. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, mereka orang yang paling baik hatinya dan yang paling dalam keilmuannya.Makanya di dalam alquran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa mengikuti mereka. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

َواﱠﻟِﺬﯾ َﻦ اﱠﺗَﺒُﻌﻮ ُﻫْﻢ ِﺑِﺈ ْﺣ َﺴﺎ ٍن َر ِﺿ َﻲ ا ﱠﷲُ َﻋْﻨُﻬْﻢِﻣ َﻦ اْﻟُﻤَﻬﺎ ِﺟِﺮﯾ َﻦ َواَْﻷْﻧ َﺼﺎِرَواﻟ ﱠﺴﺎِﺑُﻘﻮ َن اَْﻷﱠوُﻟﻮ َن
َذِٰﻟ َﻚ اْﻟَﻔ ْﻮُز اْﻟَﻌ ِﻈﯿُﻢِﻓﯿَﻬﺎ أََﺑًﺪاَۚﺧﺎِﻟِﺪﯾ َﻦَﺟﱠﻨﺎ ٍت َﺗ ْﺠِﺮي َﺗ ْﺤَﺘَﻬﺎ اَْﻷْﻧَﻬﺎُرَوَر ُﺿﻮا  َﻋْﻨُﻪ َوأَ َﻋﱠﺪ َﻟُﻬْﻢ
” Dan orang orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah”. ( QS. At Taubah : 100 )
Allah mengatakan : “Dan orang orang yang mengikuti mereka.” (Yaitu mengikuti Muhajirin dan Anshor).Artinya apa? Yaitu Allah ridho kepada mereka . Berarti ini jelas orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshor, Allah ridho kepada mereka. Ini menunjukan bahwa pemahaman agama mereka itu yang terbaik, yang paling lurus.

PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH ADALAH PARAMETER DALAM MEMAHAMI ALQURAN DAN HADITS.
Syaikhul Islam menyatakan “Bahwa seluruh ahlussunnah wal jama’ah sepakat
bahwa sebaik-baiknya generasi yang paling utama adalah generasi para sahabat. Dimana mereka sebaik-baiknya generasi dalam amal, perkataan, perbuatan, keyakinan dan yang lainnya. Dan bahwasanya generasi salaf lebih utama jauh daripada generasi kholaf. Bahwasanya mereka lebih utama pada ilmu, iman, pemahaman, agama, penjelasan, ibadah. Bahwasanya mereka lebih layak untuk mampu memberikan penjelasan pada setiap hal-hal yang problem (bermasalah). Dan tidak ada yang menolak ini kecuali orang yang sombong, orang yang bodoh, orang yang mengikuti hawa nafsu”.
Hudzaifah Ibn Yaman berkata sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Bida’ Wa Nahyu Anha yang ditulis oleh Ibnu Waddoh Al Andalusy dan asalnya adalah dalam Shahih Bukhari. Kata Hudzaifah; “Bertaqwalah kalian kepada Allah wahai para penghafal alquran, wahai orang-orang yang membaca alquran. Ambillah jalan orang-orang sebelum kalian yaitu salafush shalih. Demi Allah, jika kalian istiqomah diatas jalan salafush shalih itu, maka kalian telah mendahului dengan mendahului yang sangat jauh sekali. Dan jika kalian meninggalkannya dan kalian lebih memilih jalan ke kanan dan ke kiri , kalian akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh”.
Imam Ahmad berkata dalam kitab Ahlus Sunnah; ” Pokok-pokok aqidah ahlussunnah disisi kami yaitu berpegang kepada apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah ﷺ dan menjadikan mereka sebagai suri tauladan, dan meninggalkan kebid’ahan”. Ini adalah pokok aqidah yang dinyatakan dengan tegas oleh Imam Ahmad dan tentunya Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i dan berguru kepada ulama ahlussunnah di jamannya.
Dan secara akal saja, tidak mungkin generasi yang pertama, yang diutus padanya Rasulullahﷺ ternyata tidak paham apa yang diinginkan oleh Rasulullah ﷺ.Padahal Allah telah memuji mereka, Rasulullah pun telah memuji mereka. Tentunya mereka yang langsung melihat praktek Rasulullah. Bahkan alquran dan hadits turun dengan bahasa mereka. Rasulullah berbicara dengan bahasa mereka, dan mereka melihat langsung Rasulullah menjelaskan, mendengar langsung Rasulullah menjelaskan. Maka pastilah mereka generasi yang paling berilmu, yang paling tahu, karena Rasulullah sebaik-baiknya guru, pastilah akan menghasilkan sebaik-baiknya murid.Maka seperti orang syiah yang menuduh para sahabat kafir dan yang lainnya, itu sama saja menuduh Rasulullah ﷺ tidak mampu untuk mendidik, Rasulullah tidak mampu untuk membimbing. Naudzubillah.
wabillahittaufiq

Diambil dari Kajian “Bukan Manhaj Alternatif” – oleh ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc

Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Sealatan

Download untuk artike ini : Kitab Ushul Manhajis Salaf Ashabil Hadits

Advertisements

Mari Mengenal Manhaj Salaf

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yeng telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membangkitkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du. Kaum muslimin sekalian, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita. Seringkali masyarakat dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Nah, dibangun di atas kebingungan inilah kemudian muncul berbagai persangkaan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang harus kita jaga. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kalian membawa berita maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al Hujuraat: 6) (Silakan baca penjelasan ayat ini di dalam rubrik Tafsir Majalah As Sunnah Edisi 01/Thn X/1427 H/2006 M, hal. 11-15).

Saudara-saudara sekalian, di hadapan kita ada sebuah istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang. Istilah yang dimaksud adalah kata salaf atau salafi dan salafiyah. Menimbang pentingnya hakikat permasalahan ini untuk diungkap dan dijelaskan maka kami memohon pertolongan kepada Allah ta’ala untuk turut berpartisipasi mengurai “benang kusut” ini. Semoga Allah menjadikan amal-amal kita ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Wallahu waliyyut taufiiq.

Syaikh Salim Al Hilaly -salah satu murid senior Ahli Hadits abad ini Syaikh Al Albani- hafizhahullah telah membeberkan perkara ini dengan gamblang dalam buku beliau Limadza Ikhtartul Manhaj Salafy yang sudah diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. hafizhahullah dengan judul Mengapa Memilih Manhaj Salaf penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo. Kami sangat menganjurkan kepada para pembaca sekalian untuk memiliki atau membaca langsung buku tersebut. Orang bilang, “Tak kenal maka tak sayang…”

Pemahaman yang Benar dan Niat Baik

Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim demi mengingatkan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim…” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44).

Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk memahami persoalan yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini… Di sisi lain adapula orang-orang yang apabila kita lihat dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatkannya (meskipun itu bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun amat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini. Sehingga kita temui adanya sebagian da’i yang lebih memilih manhaj/metode selain manhaj salaf, padahal ia termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia (Ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah seseorang bukanlah ukuran kebenaran). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikat cum laude di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari… Wallahul musta’aan. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.

Marilah kita ingat sebuah ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala macam masalah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An Nisaa’: 59)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud ulul amri adalah mencakup umara’ (penguasa/pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya ikutilah Kitab-Nya (Al Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Adapun makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Kalimat tersebut maknanya adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikianlah tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.

Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya hendaknya perselisihan tentang hal itu harus dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10). Maka segala keputusan yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, II/250).

Kata Salaf Secara Bahasa

Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik).” (Lisanul ‘Arab, 9/159, dinukil dari Limadza, hal. 30). Makna semacam ini serupa dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah: Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 20).

Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya sebaik-baik pendahulu. (lihat Limadza, hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, hal. 7). Oleh sebab itu secara bahasa, semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu”. Maaf, Mas… bukan itu yang kami maksudkan…

Kemudian apabila muncul pertanyaan “Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?”. Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi.” (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul, hal. 38).

Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama

Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan berikut:

Pertama: Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka (tabi’in).

Ketiga: Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz, hal. 21).

Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.” (Limadza, hal. 30).

Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6).

Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah, “Adapun Salafush shalih, mereka itu adalah generasi awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhaan Allah…” ( lihat Limadza, hal. 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah di jamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf. Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Oleh karena itulah siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz, hal. 22, Limadza, hal. 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah, hal. 8).

Contoh-Contoh Penggunaan Kata “Salaf”

Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata: Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.” Demikian pula perkataan Imam Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum, karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (lihat Limadza, hal. 31-32).

Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar ‘Ali bin Syaqiq mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan) ‘Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum.” (Limadza, hal. 32).

Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim.” (lihat Limadza, hal. 32) Hal ini karena Al Auza’i adalah seorang tabi’in.

Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah

Sedangkan yang dimaksud dengan salafiyah adalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Sehingga bukanlah makna salafiyah sebagaimana yang disangka sebagian orang sebagai aliran pesantren yang menggunakan metode pengajaran yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum mengalami modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka ketika mendengarnya adalah sosok para santri yang berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Sebagaimana itulah kenyataan yang ada pada sebagian kalangan yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, “Adapun salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.” (lihat Limadza, hal. 33).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” (Majmu’ Fatawa, 4/149, lihat Limadza, hal. 33). Maka sungguh aneh apabila ada orang zaman sekarang ini yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang ‘memberontak’ dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran yang membabi buta. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat dengan berbagai aksi penyerangan dan tindakan-tindakan tidak sopan. Atau ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad ‘Abduh pada era penjajahan Inggris di Mesir. Padahal ini semua menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham tentang sejarah munculnya istilah ini.

Syaikh Salim mengatakan, “Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut Salaf). Lihatlah ucapan seorang ahli sejarah Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya Siyar A’laamin Nubalaa’ (16/457) ketika membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, “Tidak ada yang lebih kubenci selain menekuni ilmu kalam/filsafat.” Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada memuji, red), “Orang ini (Ad Daruquthni) belum pernah terjun dalam ilmu kalam sama sekali begitu pula tidak menceburkan dirinya dalam dunia perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi beliau adalah seorang salafi.” (Limadza, hal. 34-35).

Perlu kita ketahui bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai ‘salafi’ oleh Imam Adz Dzahabi di atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115-1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah yang lahir terlebih dahulu. Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum Ad Daruquthni sehingga beliau layak untuk disebut sebagai pengikut mereka berdua. Apakah dengan penukilan semacam ini kita akan menafsirkan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab?? Jawablah wahai kaum yang berakal… Anak kelas 5 SD pun (bukan bermaksud meremehkan, red) tahu kalau yang namanya pengikut itu adanya sesudah keberadaan yang diikuti, bukan sebaliknya. Wallaahul musta’aan.

Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidak digunakan pada masa sahabat radhiyallahu’anhum. Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?! Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.

Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).

Kalaupun masih ada orang yang tetap ngotot mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “Oo, kalau ini berbeda…!” Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’shum…?? Laa haula wa laa quwwata illa billaah… (lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53. Bacalah…!).

Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullahmenjawab, “Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”

Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam shahihain dan selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” (Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19, lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah).

Cinta Salaf Berarti Cinta Islam

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai. Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekedar omong kosong dan bualan belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…

Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul ‘Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar’. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar.” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar (Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.” Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.” (Muslim no. 77). Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.” (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (lihat Fathul Bari, 1/80, Syarah Muslim, 2/138-139).

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “…Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam…” (Syarah Muslim, 2/139).

Selain itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam“Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang sesudah mereka.” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “…Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, hal. 489-490).

Catatan:

Perlu kita perhatikan riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas yaitu hadits yang bunyinya, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku dst” dengan lafazh khairul quruun…. Syaikh Salim Al Hilaly mengatakan, “Hadits ini tersebar di dalam banyak kitab dengan lafazh khairul quruun (sebaik-baik masa). Saya (Syaikh Salim) katakan: Lafazh ini tidak terpelihara keotentikannya. Adapun yang benar adalah yang sudah kami sebutkan (yaitu Khairunnaas; sebaik-baik manusia, red).” (lihat Limadza Ikhtartul Manhaj Salafi, hal. 87).

Benci Salaf Berarti Benci Islam

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29). Di dalam ayat ini disebutkan bahwa salah satu ciri para sahabat yaitu membuat jengkel dan marah orang-orang kafir.

Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya terhadap ayat yang mulia ini, “Dan berdasarkan ayat inilah Imam Malik rahimahullah menarik sebuah kesimpulan hukum sebagaimana tertera dalam salah satu riwayat darinya untuk mengkafirkan kaum Rafidhah (bagian dari Syi’ah) yang membenci para sahabat radhiyallahu’anhum. Beliau (Imam Malik) mengatakan, “Hal itu karena mereka (para sahabat) membuat benci dan jengkel mereka (kaum Rafidhah). Barangsiapa yang membenci para sahabat radhiyallahu’anhum maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Dan sekelompok ulama radhiyallahu’anhum pun ikut menyetujui sikap beliau ini…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/280).

Dari perkataan Imam Malik dan penjelasan Imam Ibnu Katsir ini teranglah bagi kita bahwasanya konflik yang terjadi antara kaum Syi’ah (yang dulu maupun para pengikut Khomeini yang ada sekarang ini) dengan Ahlus Sunnah/Sunni bukanlah konflik politik atau perebutan kekuasaan yang diselimuti dengan jubah agama sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur -semoga Allah memberinya petunjuk-, Kyai ini mengatakan di dalam sebuah wawancaranya dengan JIL (yang sama-sama suka menebarkan syubhat kepada umat Islam), “Konflik itu (maksudnya antara Syi’ah dan Sunni, red) muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiyaan terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya. Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut syî’ah. Selanjutnya kata syî’ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi pengikut Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam. Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan Sunni. Persoalan sesungguhnya waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa.” (wawancara JIL dengan Gus Dur tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) Ini adalah kedustaan… !!! (silakan baca tulisan Ustadz Abdul Hakim Abdat dalam Al Masaa’il jilid 3 Masalah 66, hal 42-72 yang membongkar kedok kaum Syi’ah dengan menyertakan fatwa-fatwa para ulama tentang Rafidhah/Syi’ah. Baca juga Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 dengan tema Agama Syi’ah Semoga Allah memberikan ganjaran yang besar kepada ustadz-ustadz kita karena jasa mereka ini. Bacalah!!).

Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, “…Para sahabat itu memiliki keutamaan lebih, begitu pula lebih dahulu (berjasa bagi umat Islam) dan lebih sempurna, yang tidak ada seorangpun di antara umat ini yang mampu menyamai kehebatan mereka, semoga Allah meridhai mereka dan aku pun ridha kepada mereka. Allah telah menyiapkan surga-surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka, dan Allah telah menetapkan hal itu. (Imam) Muslim mengatakan di dalam shahihnya: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar Gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai (pahala) satu mud sedekah mereka, bahkan setengahnya juga tidak.” (HR. Muslim dalam Fadha’il Shahabah, diriwayatkan juga Al Bukhari dalam kitab Al Manaaqib no. 3673).” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/280).

Allah Meridhai Salaf dan Para Pengikutnya

Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi salafsuh shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah yang disebut sebagai salafi. Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahwa Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang mengikuti perjalanan para Shahabat dari tabi’intabi’ut tabi’in dan setrusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum-nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.” (Al Masaa’il jilid 3, hal. 74).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan bukti keridhaan-Nya kepada mereka adalah dengan mempersiapkan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi mereka…” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/140). Imam Al Alusi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan As Saabiquun adalah seluruh kaum Muhajirin dan Anshar (Ruuhul Ma’aani, Maktabah Syamilah). Imam Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan, “Orang-orang yang mengikuti” di dalam ayat ini adalah orang-orang sesudah mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Adapun kata-kata, “dengan baik” merupakan ciri pembatas yang menunjukkan jati diri mereka. Artinya mereka adalah orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan senantiasa berpegang teguh dengan kebaikan dalam hal perbuatan maupun perkataan sebagai bentuk peniruan mereka terhadap As Sabiquunal Awwaluun, tafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh As Sa’di di dalam tafsirnya (Lihat Fathul Qadir dan Taisir Karimir RahmanMaktabah Syamilah). Imam Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan di dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan “Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” di dalam ayat ini adalah: Orang-orang yang meniti jalan mereka dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam dalam rangka mencari keridhaan Allah..” (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah).

Imam Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “(Ayat) Ini merupakan dalil tegas dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwasanya barangsiapa mencaci mereka (para sahabat) dan membenci mereka maka dia adalah orang yang sesat dan menentang Allah jalla wa ‘ala, dimana dia telah berani membenci suatu kaum yang telah diridhai Allah. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebencian kepada orang yang sudah diridhai Allah merupakan sikap penentangan kepada Allah jalla wa ‘ala, tindakan congkak dan melampaui batas.” (lihat Adhwaa’ul Bayaan, Maktabah Syamilah). Masih dalam konteks penafsiran ayat ini Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan sebuah komentar pedas yang akan membakar telinga ahlul bid’ah pencela shahabat. Beliau mengatakan, “Duhai alangkah celaka orang yang membenci atau mencela mereka (semua sahabat), sungguh celaka orang yang membenci atau mencela sebagian mereka…” Setelah memberitakan sikap orang-orang Rafidhah yang memusuhi, membenci dan mencela orang-orang terbaik sesudah Nabi (diantaranya Abu Bakar dan ‘Umar) Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Sikap ini (yaitu permusuhan, kebencian dan celaan kaum Rafidhah atau Syi’ah) menunjukkan bahwa akal mereka sudah terbalik dan hati mereka juga sudah terbalik. Lalu dimanakah letak keimanan mereka terhadap Al Qur’an sehingga berani-beraninya mereka mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah?…” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/140) Maka hanguslah telinga-telinga ahlul bid’ah;… mereka yang membenci dan mencaci maki para shahabat; generasi terbaik yang pernah hidup di permukaan bumi ini, radhiyallahu ‘anhum wa ardhaahum (Allah ridha kepada mereka dan saya pun ridha kepada mereka).

Pemahaman Salaf Adalah Jalan Keluar Perselisihan

Abu Naajih ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu’anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang hendak berpisah. Maka sudilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami”. Beliau pun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Dan tetaplah mendengar dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sesudahku niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpeganglah dengan Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama). Karena semua bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah sesat.”

Imam Nawawi mengatakan: (hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) menilainya ‘Hadits hasan shahih’. Pen-takhrij Ad Durrah As Salafiyah menyebutkan bahwa derajat hadits ini: shahih. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Al Haakim (1/174), Ibnu Hibaan (1/179) serta dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ hadits no. 2549 (lihat Ad Durrah As Salafiyyah Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, cet. Markaz Fajr lith Thab’ah hal. 199, Lihat juga Lau Kaana Khairan, hal. 164).

Di dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan sebuah solusi bagi umat tatkala menyaksikan sekian banyak perselisihan yang ada sesudah beliau wafat: yaitu berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin. Imam Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud Khulafa’ur Rasyidin adalah para khalifah yang empat yaitu; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum (lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 201). Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied juga menjelaskan bahwa mereka adalah keempat khalifah tersebut berdasarkan ijma’ (lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 202). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita tatkala melihat perselisihan ini (yaitu banyaknya perselisihan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits) supaya berpegang teguh dengan Sunnah beliau. Arti dari ungkapan ‘alaikum bi sunnatii ialah; Berpegang teguhlah dengannya (dengan Sunnah Nabi)…”. Beliau rahimahullah juga berkata, “Sedangkan makna kata Sunnah beliau ‘alaihish shalaatu was salaam adalah: jalan yang beliau tempuh, yang mencakup akidah, akhlak, amal, ibadah dan lain sebagainya. Kita harus berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran) beliau. Dan kita pun berhakim kepadanya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’: 65). Dengan demikian Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi orang yang dikehendaki Allah untuk selamat dari berbagai perselisihan dan berbagai macam kebid’ahan…” (Syarh Riyadhush Shalihin, I/603).

Di dalam keterangan beliau terhadap Hadits Arba’in Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “…Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh dengan Sunnah-nya; yaitu jalan beliau, dan juga supaya berpegang teguh dengan jalan Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyyin. Dan juga termasuk di dalamnya (Khulafa’ur Rasyidin) adalah para khalifah/pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada umatnya, dan sebagai pemuka mereka ialah empat orang Khalifah; yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum.” (lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 203). Keterangan Syaikh ‘Utsaimin ini serupa dengan keterangan Imam Al Mubarakfuri. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya hadits itu umum berlaku bagi setiap khalifah yang lurus dan tidak dikhususkan bagi dua orang Syaikh (Abu Bakar dan ‘Umar) saja. Dan telah dimaklumi berdasarkan kaidah-kaidah syari’at bahwa seorang khalifah yang lurus tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu jalan selain jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/50-51, dinukil dari Limadza, hal. 74-75).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan (Majmu’ Fatawa, 1/282), “Adapun yang dimaksud dengan Sunnah (ajaran) Khulafa’ur Rasyidin maka sebenarnya mereka tidaklah menggariskan sebuah ajaran kecuali berdasarkan perintah beliau (Nabi), maka dengan begitu ia termasuk bagian dari Sunnah beliau…” (dinukil dari Limadza, hal. 73). Di dalam Tuhfatul Ahwadzi (3/50 dan 7/420) Al Mubarakfuri juga mengatakan, “Bukanlah yang dimaksud dengan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin kecuali jalan hidup mereka yang sesuai dengan dengan jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…” (dinukil dari Limadza, hal. 73).

Kesimpulan dari penjelasan para ulama di atas ialah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Salim Al Hilali. Beliau mengatakan, “Dengan demikian kesimpulan semua keterangan ini menunjukkan bahwa Sunnah Khulafa’ur Rasyidin adalah pemahaman para Shahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap agama, karena mereka senantiasa meniti jalan sebagaimana jalan pemahaman dan penerapan Islam yang diajarkan oleh Nabi mereka…” (Limadza, hal. 75) Maka kita juga mengatakan bahwasanya jalan keluar bagi umat Islam dari sekian banyak perselisihan yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita pada hari ini berupa munculnya berbagai macam firqah dan aliran-aliran adalah memegang teguh Sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti pemahaman para Shahabat radhiyallahu’anhum. Atau dengan kalimat yang ringkas kita katakan ‘Dengan mengikuti manhaj salaf’. Inilah hakikat dari istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Barangsiapa tidak mengikuti pemahaman para Shahabat maka dia telah menentang Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini.

Hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah

As Sunnah secara bahasa artinya jalan. Adapun secara istilah As Sunnah adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Dalam hal ini Sunnah menjadi lawan dari bid’ah. Bukan sunnah dalam terminologi fikih. Karena sunnah menurut istilah fikih adalah segala perbuatan ibadah yang bila dikerjakan berpahala akan tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa. Maka sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah adalah seluruh ajaran Rasul dan para sahabat, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah!! (silakan baca Lau Kaana Khairan karya Ustadz Abdul Hakim, hal. 14-17 baca juga Panduan Aqidah Lengkap penerbit Pustaka Ibnu Katsir hal. 36-40).

Al Jama’ah secara bahasa artinya kumpulan orang yang bersepakat untuk suatu perkara. Sedangkan menurut istilah syar’i, al jama’ah berarti orang-orang yang bersatu di atas kebenaran yaitu jama’ah para sahabat beserta orang-orang sesudah mereka hingga hari kiamat yang meniti jejak mereka dalam beragama di atas Al Kitab dan As Sunnah secara lahir maupun batin. Oleh karena itu seorang Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Al Jama’ah adalah segala yang sesuai dengan al haq walaupun engkau seorang diri.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 29 dan 30). Ukuran seseorang berada di atas jama’ah bukanlah jumlah. Akan tetapi ukurannya adalah sejauh mana dia berpegang teguh dengan kebenaran yaitu Islam yang murni yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum. Sebagaimana hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul ketika menceritakan akan terjadi perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu al jama’ah. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beragama sebagaimana Nabi dan para sahabat. Hadits perpecahan umat adalah hadits yang sah menurut ulama ahli hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam Majmu’ Fatawa (3/345), “Hadits tentang perpecahan umat adalah hadits yang shahih dan sangat populer di dalam kitab-kitab sunan dan musnad.” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 348, Silsilah Ash Shahihah no. 203 dan 204 karya Al Imam Al Albani rahimahullah, baca keterangan tentang status dan faidah-faidah dari hadits perpecahan umat di dalam buku Lau Kaana Khairan, hal. 190-196).

Sehingga hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam berkeyakinan, berucap dan mengerjakan amalan, demikian pula orang-orang yang konsisten di atas jalur ittiba’ (mengikuti Sunnah) dan menjauhi jalur ibtida’ (mereka-reka bid’ah). Mereka senantiasa ada, eksis dan mendapatkan pertolongan (dari Allah) hingga datangnya hari kiamat. Oleh sebab itu maka mengikuti mereka adalah hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan. Mereka itulah yang disebut dengan istilah ‘salaf’ (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 30, Panduan Aqidah Lengkap hal. 40, baca juga definisi Ahlus Sunnah di dalam Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 17-18, karya Syaikh Doktor Muhammad bin Husain Al Jizani hafizhahullah).

Sedangkan lawan dari Ahlus Sunnah adalah Ahlul bid’ah yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan bid’ah sesudah ditegakkan hujjah atas mereka, baik bid’ah i’tiqadiyyah (keyakinan) maupun bid’ah amaliyah (amalan), tetapi kemudian mereka tetap istiqamah dengan bid’ahnya (lihat Lau Kaana Khairan, hal. 170). Kita tidak boleh sembarangan dalam menghukumi seseorang atau jama’ah sebagai ahli bid’ah. Syaikh Al Albani berkata, “Terjatuhnya seorang ulama dalam bid’ah tidaklah secara otomatis menjadikannya sebagai seorang ahli bid’ah….” “…Ada dua persyaratan agar seseorang dikatakan sebagai ahli bid’ah:

  1. Ia bukanlah seorang mujtahid, namun seorang pengikut hawa nafsu.
  2. Berbuat bid’ah merupakan kebiasaannya (Silsilah Huda wa Nur, kaset no. 785)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad (Ahli hadits Madinah saat ini) berkata, “Tidak semua orang yang melakukan bid’ah secara otomatis menjadi ahli bid’ah. Hanyalah dikatakan ahli bid’ah bagi orang yang telah jelas dan dikenal dengan bid’ahnya. Sebagian orang sangat berani dalam pembid’ahan sampai-sampai mentabdi’ orang yang memiliki kebaikan dan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat. Sebagian orang menyebut setiap orang yang menyelisihinya sebagai ahli bid’ah.” (dinukil dari Ringkasan buku Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan karya Ustadz Abu Abdil Muhsin hafizhahullah).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Beliau menjawab, “Yang disebut sebagai Ahlus Sunnah wal jama’ah hanyalah orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan As Sunnah (ajaran Nabi) dan mereka bersatu di atasnya. Mereka tidak menyimpang kepada selain ajaran As Sunnah, baik dalam urusan keyakinan ilmiah maupun dalam masalah amal praktik hukum. Oleh sebab inilah mereka disebut dengan Ahlus Sunnah, yaitu karena mereka bersatu padu di atasnya (di atas Sunnah). Dan apabila anda cermati keadaan ahlul bid’ah niscaya anda dapatkan mereka itu berselisih dalam hal metode akidah dan amaliah, ini menunjukkan bahwa mereka itu sangat jauh dari petunjuk As Sunnah, tergantung dengan kadar kebid’ahan yang mereka ciptakan.” (Fatawa Arkanul Islam, hal. 21).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki sebutan lain di kalangan para ulama yaitu: Ash-habul Hadits atau Ahlul Hadits (pengikut dan pembela hadits), Ahlul Atsar (pengikut jejak salaf), Ahlul Ittiba’ (Peniti Sunnah Nabi), Al Ghurabaa’ (Orang-orang yang terasing dari berbagai keburukan), Ath Thaa’ifah Al Manshurah(Kelompok yang mendapatkan pertolongan Allah) dan Al Firqah An Najiyah (Golongan yang selamat). Dan pada saat sekarang ini ketika banyak kelompok dalam tubuh umat Islam yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan pengikut Al Kitab dan As Sunnah namun ternyata praktik dan ajarannya jauh menyimpang dari prinsip-prinsip Salafush Shalih maka bangkitlah para ulama untuk memberikan sebuah istilah pembeda yaitu Salafiyun (para pengikut Salaf) (lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah, hal. 6, Limadza hal. 36-38, Minhaaj Al Firqah An Najiyah, hal. 6-17 dan Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 7-14). Apabila para pembaca ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah munculnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah maka kami sarankan untuk membaca Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang diterbitkan Pustaka At Taqwa hal. 14-17. Di sana beliau sudah menerangkan hal ini, semoga Allah memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau. Dan bagi para pembaca yang ingin membaca keterangan yang menjelaskan bahwa Al Firqatun Najiyah adalah Ath Tha’ifah Al Manshurah juga sama dengan Ahlul Hadits maka silakan baca buku Mereka Adalah Teroris cet. I hal. 77-95. Semoga Allah merahmati para ustadz kita dan menyatukan mereka dalam barisan dakwah Salafiyah dalam membumihanguskan gerombolan dakwah Ahlul bid’ah, …Aammiin.

Hanya Satu yang Selamat!

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan tentang terjadinya perpecahan umatnya sesudah beliau wafat. Kami sangat mengharapkan keterangan dari yang mulia tentang hal itu? Beliau menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam hadits-hadits yang sah (riwayat Abu Dawud di Kitab As Sunnah bab Syarhu Sunnah (4596), At Tirmidzi di Kitabul Iman bab Iftiraqu Hadzihihil Ummah (2642), Ibnu Majah di Kitabul Fitan bab Iftiraqul Ummah (3991)). Hadits-hadits itu menceritakan bahwa kaum Yahudi berpecah belah menjadi 71 kelompok/firqah. Sedangkan kaum Nashara berpecah menjadi 72 firqah. Dan umat ini akan berpecah menjadi 73 firqah. Seluruh firqah ini terancam berada di neraka kecuali satu firqahFirqah tersebut terdiri dari orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran dan pemahaman agama sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Kelompok inilah yang disebut dengan Al Firqah An Najiyah (kelompok yang selamat). Mereka selamat dari kebid’ahan ketika berada di dunia. Dan mereka terselamatkan dari api neraka ketika di akhirat kelak. Inilah Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang diberi pertolongan dan dimenangkan) yang akan tetap eksis hingga datangnya hari kiamat. Mereka senantiasa menang dan mendapatkan ketegaran dalam menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla.”

“Tujuh puluh tiga firqah ini, salah satunya berada di atas kebenaran sedangkan selainnya berada di atas kebatilan. Sebagian ulama berusaha untuk merincinya satu persatu dan menyimpulkannya menjadi lima aliran utama ahlul bida’ (kaum pembela bid’ah). Dari setiap aliran itu mereka bagi lagi menjadi beberapa sekte sampai bisa mencapai total bilangan tersebut yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ulama yang lainnya memandang bahwa dalam hal ini sikap yang lebih baik ialah menahan diri untuk tidak merincinya. Mereka beralasan karena bukan hanya firqah-firqah yang sudah ada ini saja yang tersesat. Tetapi telah banyak kelompok orang yang tersesat dalam jumlah kelompok yang lebih besar di masa sebelumnya. Begitu pula banyak firqah baru yang muncul setelah tujuh puluh dua firqah yang ada sekarang. Mereka berpendapat bahwa bilangan ini tidak akan pernah terhenti dan tidak mungkin bisa diketahui sampai kapan berakhirnya kecuali nanti di akhir zaman ketika hari kiamat datang. Oleh sebab itu sikap yang lebih baik ialah kita sebutkan secara global saja bilangan yang sudah disebutkan secara global oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita katakan bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 firqah, semuanya berada di neraka kecuali satu. Kemudian kita katakan bahwa setiap orang yang menyimpang dari petunjuk dan pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah termasuk dalam firqah-firqah ini. Dan bisa juga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran tentang pokok-pokok aliran sesat yang belum bisa kita ketahui keberadaannya sekarang ini kecuali hanya sebatas sepuluh aliran saja yang baru bisa kita lihat. Atau bisa juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan beberapa pokok aliran sesat yang di dalamnya terkandung cabang-cabang sebagaimana pendapat demikian dipilih oleh sebagian ulama. Adapun ilmu yang sebenarnya ada di sisi Allah ‘azza wa jalla.” (Fatawa Arkaanul Islaam, hal. 21-22).

Firqah-Firqah yang Menyimpang

Setelah kita mengetahui bersama bahwasanya satu-satunya jalan yang diridhai Allah dalam beragama adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; yaitu tegak di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih. Maka tidak kalah pentingnya sekarang adalah mengetahui berbagai kelompok Islam atau firqah yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di sini kami ingin mengingatkan kembali perkataan Imam Ibnul Qayyim yang sangat penting untuk kita cermati. Beliau rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim..” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44) Dari perkataan beliau ini kita bisa menarik kesimpulan berharga bahwasanya sumber penyimpangan manusia dari jalan yang lurus adalah buruknya pemahaman dan buruknya niat. Inilah dua pokok kesesatan yang ada, baik di dalam Islam maupun di luar Islam.

Sebagian besar kelompok menyimpang yang ada sekarang ini pada hakikatnya mewarisi penyimpangan-penyimpangan yang ada pada para pendahulunya, sedikit maupun banyak. Ada di antara mereka yang murni mengikuti sebuah aliran masa silam tapi ada juga yang menggabung-gabungkan penyimpangan dari berbagai aliran masa silam ke dalam tubuh kelompok mereka. Dan kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memakai nama lama. Akan tetapi mereka kelabui umat dengan nama-nama yang indah dan mempesona. Ada lagi orang-orang yang merasa tidak puas dengan referensi-referensi Islam dan mencoba menggali ‘tambahan pelajaran’ dari produk pemikiran orang-orang Kafir. Di antara mereka ada yang masih berada dalam lingkaran Islam. Tetapi ada juga yang sudah mental keluar karena bosan dengan manhaj para ulama Salaf dan lebih senang dengan ajaran Orientalis. Maka jadilah orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang merasa memperjuangkan keagungan nilai ajaran agama Islam. Berdasarkan persangkaan ini maka mereka pun mengumpulkan manusia dan menyebarkan ide-ide mereka dalam bentuk ceramah maupun tulisan. Mereka bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka racuni pikiran para generasi muda dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak jarang ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan mengerahkan massa. Atau lebih sangar lagi ada yang berani mengangkat senjata dan menumpahkan darah manusia tanpa hak. Subhaanallaah…!!

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Setiap golongan yang menamakan dirinya dengan selain identitas Islam dan Sunnah adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) seperti contohnya: Rafidhah (Syi’ah), Jahmiyah, Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, Mu’tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan juga kelompok-kelompok lain yang serupa dengan mereka. Inilah firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok bid’ah, semoga Allah melindungi kita darinya.” (Lum’atul I’tiqad, dinukil dari Al Is’ad fi Syarhi Lum’atil I’tiqad hal 90. Namun di sana tidak disebutkan nama Khawarij, dugaan saya ini adalah salah cetak, sebagaimana tampak dari syarahnya yang juga menjelaskan firqah Khawarij. Silakan bandingkan dengan Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Al ‘Utsaimin, hal. 161). Setelah membawakan perkataan Imam Ibnu Qudamah ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan mengenai sebagian ciri-ciri Ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, “Kaum Ahlul bid’ah itu memiliki beberapa ciri, di antara cirinya adalah:

  1. Mereka memiliki karakter selain karakter Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid’ah-bid’ah yang mereka ciptakan, baik yang menyangkut urusan perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
  2. Mereka sangat fanatik kepada pendapat-pendapat golongan mereka. Sehingga mereka pun tidak mau kembali kepada kebenaran meskipun kebenaran itu sudah tampak jelas bagi mereka.
  3. Mereka membenci para Imam umat Islam dan para pemimpin agama (ulama) (Syarah Lum’atul I’tiqad, hal. 161).

Kemudian Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan satu persatu gambaran firqah sesat tersebut secara singkat. Berikut ini intisari penjelasan beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Mereka itu adalah:

  1. Rafidhah (Syi’ah), yaitu orang-orang yang melampaui batas dalam mengagungkan ahlul bait (keluarga Nabi). Mereka juga mengkafirkan orang-orang selain golongannya, baik itu dari kalangan para Shahabat maupun yang lainnya. Ada juga di antara mereka yang menuduh para Shahabat telah menjadi fasik sesudah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ini pun terdiri dari banyak sekte. Di antara mereka ada yang sangat ekstrim hingga berani mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib, dan ada pula di antara mereka yang lebih rendah kesesatannya dibandingkan mereka ini. Tokoh mereka di zaman ini adalah Khomeini beserta begundal-begundalnya. (Silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 49-53).
  2. Jahmiyah. Disebut demikian karena mereka adalah penganut paham Jahm bin Shofwan yang madzhabnya sesat. Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallaahul musta’aan.
  3. Khawarij. Mereka ini adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena alasan pemutusan hukum. Di antara ciri pemahaman mereka ialah membolehkan pemberontakan kepada penguasa muslim dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Mereka ini juga terbagi menjadi bersekte-sekte lagi. (Tentang Pemberontakan, silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 31-36).
  4. Qadariyah. Mereka ini adalah orang-orang yang berpendapat menolak keberadaan takdir. Sehingga mereka meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan berbuat yang terlepas sama sekali dari kehendak dan kekuasaan Allah. Pelopor yang menampakkan pendapat ini adalah Ma’bad Al Juhani di akhir-akhir periode kehidupan para Shahabat. Di antara mereka ada yang ekstrim dan ada yang tidak. Namun yang tidak ekstrim ini menyatakan bahwa terjadinya perbuatan hamba bukan karena kehendak, kekuasaan dan ciptaan Allah, jadi inipun sama sesatnya.
  5. Murji’ah. Menurut mereka amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu dengan modal pengakuan hati saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka ini merupakan kebalikan dari madzhab Khawarij.
  6. Mu’tazilah. Mereka adalah para pengikut Washil bin ‘Atha’ yang beri’tizal (menyempal) dari majelis pengajian Hasan Al Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan tetapi menurutnya di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang mengikuti jejaknya adalah Amr bin ‘Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma’ wa Shifat adalah menolak (ta’thil) sebagaimana kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah. Sedang dalam masalah pelaku dosa besar mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman. Dengan dua prinsip terakhir ini pada hakikatnya mereka bertentangan dengan Jahmiyah. Karena Jahmiyah menganut paham Jabriyah dan menganggap dosa tidaklah membahayakan keimanan. Inilah anehnya bid’ah, dua prinsip aliran sesat yang bertentangan bisa bertemu dalam satu tubuh. Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa. Kalian lihat mereka itu bersatu padu akan tetapi sebenarnya hati mereka tercerai-berai. (lihat QS. Al Hasyr: 14).
  7. Karramiyah. Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram yang cenderung kepada madzhab Tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan makhluk) dan mengikuti pendapat Murji’ah, mereka ini juga terdiri dari banyak sekte.
  8. Kullabiyah. Mereka ini adalah pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mereka inilah yang mengeluarkan statemen tentang Tujuh Sifat Allah yang mereka tetapkan dengan akal. Kemudian kaum Asya’irah (yang mengaku mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari) pada masa ini pun mengikuti jejak langkah mereka yang sesat itu. Perlu kita ketahui bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari pada awalnya menganut paham Mu’tazilah sampai usia sekitar 40 tahun. Kemudian sesudah itu beliau bertaubat darinya dan membongkar kebatilan madzhab Mu’tazilah. Di tengah perjalanannya kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah beliau sempat memiliki keyakinan semacam ini yang tidak mau mengakui sifat-sifat Allah kecuali tujuh saja yaitu: hidup, mengetahui, berkuasa, berbicara, berkehendak, mendengar dan melihat. Kemudian akhirnya beliau bertaubat secara total dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlus Sunnah, semoga Allah merahmati beliau. (lihat Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 161-163).

Syaikh Abdur Razzaq Al Jaza’iri hafizhahullah mengatakan, “Dan firqah-firqah sesat tidak terbatas pada beberapa firqah yang sudah disebutkan ini saja. Karena ini adalah sebagiannya saja. Di antara firqah sesat lainnya adalah: Kaum Shufiyah dengan berbagai macam tarekatnya, Kaum Syi’ah dengan sekte-sektenya, Kaum Mulahidah (atheis) dengan berbagai macam kelompoknya. Dan juga kelompok-kelompok yang gemar ber-tahazzub (bergolong-golongan) pada masa kini dengan berbagai macam alirannya, seperti contohnya: Jama’ah Hijrah wa Takfir yang menganut aliran Khawarij; yang dampak negatif ulah mereka telah menyebar kemana-mana (yaitu dengan maraknya pengeboman dan pemberontakan kepada penguasa, red), Jama’ah Tabligh dari India yang menganut aliran Sufi, Jama’ah-jama’ah Jihad yang mereka ini termasuk pengusung paham Khawarij tulen, kelompok Al Jaz’arah, begitu juga (gerakan) Al Ikhwan Al Muslimunbaik di tingkat internasional maupun di kawasan regional (bacalah buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin karya Ustadz Andy Abu Thalib Al Atsary hafizhahullah). Sebagian di antara mereka (Ikhwanul Muslimin) ada juga yang tumbuh berkembang menjadi beberapa Jama’ah Takfiri (yang mudah mengkafirkan orang). Dan kelompok-kelompok sesat selain mereka masih banyak lagi.” (lihat Al Is’aad fii Syarhi Lum’atul I’tiqaad, hal. 91-92, bagi yang ingin menelaah lebih dalam tentang hakikat dan bahaya di balik jama’ah-jama’ah yang ada silakan membaca buku Jama’ah-Jama’ah Islam karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhahullah).

Haram Berpecah Belah Menjadi Berbagai Jama’ah dan Partai

Berikut ini sebagian fatwa para ulama yang mengecam keras tindakan mendirikan berbagai jama’ah dan mengkotak-kotakkan umat Islam dalam sekat-sekat partai dan kelompok keagamaan. Komite Tetap urusan fatwa Kerajaan Saudi Arabia yang diketuai oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah hukum berbilangnya jama’ah dan hizb/partai di dalam Islam, dan apakah hukum berloyalitas kepadanya ?” Komite tersebut menjawab: “Tidak diperbolehkan kaum muslimin terpecah belah dalam agama mereka menjadi berbagai kelompok dan golongan… Karena sesungguhnya perpecahan ini tergolong perkara yang dilarang Allah kepada kita. Allah mencela orang yang menciptakan dan juga orang yang mengikuti orang yang mencetuskannya. Dan Allah telah mengancam pelakunya dengan siksaan yang sangat besar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah..” (QS. Ali ‘Imran : 103) sampai firman Allah ta’ala, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan senantiasa berselisih sesudah datang berbagai macam keterangan kepada mereka. Dan bagi mereka itulah siksaan yang sangat besar.” (QS. Ali ‘Imran: 105). Allah ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka pun menjadi bergolong-golongan tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” (QS. Al An’am : 159). Adapun apabila pemegang urusan kaum muslimin (Pemerintah, red) yang melakukan upaya pengaturan terhadap mereka serta memilah-milah mereka dalam berbagai kegiatan agama atau keduniaan (bukan untuk memecah belah, red) maka tindakan semacam ini disyari’atkan.” (Fatwa No. 1674 tertanggal 7/10/1397 H, lihat Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal. 52-53).

Nasihat serupa juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, “Tidak terdapat dalil baik di dalam Al Kitab maupun di dalam As Sunnah yang membolehkan munculnya berbagai macam jama’ah dan hizb/partai. Akan tetapi yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah justru mencela hal itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al Mu’minuun: 53). Dan tidak ragu lagi bahwasanya keberadaan hizb-hizb ini bertentangan dengan perintah Allah, bahkan ia juga bertolak belakang dengan anjuran yang disinggung di dalam firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiyaa’: 92)” (lihat Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal. 54).

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah yang dulunya pernah membolehkan orang untuk khuruj (keluar daerah untuk berdakwah ala Tablighi dalam rentang waktu tertentu) bersama Jama’ah Tabligh pun dalam fatwa terakhirnya mengatakan, “Jama’ah Tabligh tidak memiliki bashirah (ilmu dan keterangan) dalam berbagai permasalahan akidah, sehingga tidak diperbolehkan untuk khuruj bersama mereka, kecuali bagi orang yang sudah mempunyai bekal ilmu dan bashirah (pemahaman yang dalam) dalam hal akidah lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah supaya dia bisa mengarahkan dan menasihati mereka.” (Majalah Ad Da’wah, Riyadh No. 1438 tertanggal 13/1/1414 H dan tercantum dalam Majmu’ Fatawa beliau 8/331, dinukil dengan sedikit perubahan dari Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal. 55-56). Dalam permasalahan ini para ulama lainnya juga memberikan fatwa yang melarang terbentuknya berbagai jama’ahdan hizb semacam ini, di antara mereka adalah Syaikh Shalih Al Fauzan (anggota Lembaga Ulama Besar kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (mujaddid dan ahli hadits abad ini), Syaikh Bakr Abu Zaid dan ulama-ulama yang lainnya dari negeri Saudi, Yaman, Yordan, dan negeri lain, semoga Allah menjaga mereka semua.

Maka pada masa ini di negeri yang kita tempati, kita sungguh dibuat terheran-heran oleh ulah sebagian kelompok umat Islam yang menyerukan persatuan dan mengajak untuk mempererat jalinan ukhuwah di antara sesama muslim namun di saat yang sama mereka justru asyik mendengung-dengungkan kehebatan partainya sembari mengibar-ngibarkan bendera partainya, mengenakan kaos dan beraneka atribut partai, merentangkan spanduk kebanggaannya serta memobilisasi massa untuk mencoblos partai mereka dan tidak memilih partai Islam yang lainnya. Inilah salah satu keajaiban Harakah Islamiyah (Gerakan Islam) abad 21 yang berusaha ‘menegakkan benang basah’ dan rela untuk merengek-rengek kepada Demokrasi demi mendapatkan jatah kursi. Wallahul musta’aan. Adakah orang yang mau merenungkan?

Penutup

Di akhir tulisan ini kami ingin menegaskan ulang bahwa Salaf artinya para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik,>Salaf bukanlah pabrik atau partai atau organisasi atau yayasan atau perkumpulan atau perusahaan… jangan salah paham. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah bersabda mensifati sebuah golongan yang selamat dari perpecahan di dunia dan siksa di akhirat, yang biasa disebut dengan istilah Al Firqah An Najiyah (golongan yang selamat) atau Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang mendapat pertolongan) atau Al Jama’ah atau Al Ghurabaa’ (orang-orang yang asing), beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang beragama sebagaimana caraku dan cara para sahabatku pada hari ini.” (HR. Ahmad, dinukil dari Kitab Tauhid Syaikh Shalih Fauzan hal. 11).

Maka sebenarnya pertanyaan yang harus kita tujukan pertama kali kepada diri-diri kita sekarang adalah; apakah akidah kita, ibadah kita, dakwah kita, garis perjuangan kita sudah selaras dengan petunjuk Rasul dan para sahabat ataukah belum? Pikirkanlah baik-baik dengan hati dan pikiran yang tenang: Benarkah apa yang selama ini kita peroleh dari para ustadz dan Murabbi serta Murabbiyat sudah sesuai dengan pemahaman sahabat ataukah belum? Kalau iya mana buktinya? Marilah kita ikuti jejak dakwah Rasul serta para sahabat dan juga para ulama Salaf dari zaman ke zaman. Ukurlah keadaan kita dengan timbangan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ingat, jangan ta’ashshub (fanatik buta). Pelajari dulu akidah dan manhaj yang benar, baru saudara akan bisa menilai apakah manhaj dan dakwah saudara-saudara sudah cocok dengan pemahaman sahabat ataukah belum cocok tapi dipaksa-paksa biar kelihatan cocok?! Orang yang bijak mengatakan: ‘Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal siapa yang benar!’ Kenapa kita harus ngotot membela seorang tokoh, beberapa individu, sebuah partai, atau yayasan, atau organisasi, atau pergerakan, atau perhimpunan, atau kesatuan aksi, atau apapun namanya kalau ternyata itu semua menyimpang dari jalan Rasul dan para sahabat? Pikirkanlah ini baik-baik sebelum anda bertindak, berorasi, menulis, atau menggalang massa, sadarilah kita semua telah mendapatkan larangan dari Allah Ta’ala dari atas langit sana dengan firman-Nya yang artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa’ : 36). Peganglah akidah ini kuat-kuat!!

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: [katakanlah] kepada manusia [inilah jalanku] artinya: jalan yang kutempuh dan kuajak kamu untuk menempuhnya. Yaitu suatu jalan yang akan mengantarkan menuju Allah dan negeri kemuliaan-Nya (surga). Jalan itu mencakup ilmu terhadap kebenaran dan mengamalkannya, menjunjung tinggi kebenaran serta mengikhlashkan ketaatan beragama hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. [aku mengajak kamu kepada Allah] artinya: aku memotivasi seluruh makhluk dan hamba-hamba agar menempuh jalan menuju Tuhan mereka. Aku senantiasa mendorong mereka untuk itu, dan aku memperingatkan mereka dari bahaya yang dapat menjauhkan dari jalan itu. Bersama itu akupun memiliki [hujjah yang nyata] dari ajaran agamaku, (dakwahku) tegak di atas landasan ilmu dan keyakinan, tidak ada keraguan, kebimbangan dan ketidakpastian. [dan] begitu pula [orang-orang yang mengikutiku], mereka mengajakmu kepada Allah sebagaimana ajakanku, berdasarkan hujjah yang nyata dari agama-Nya. [dan Maha suci Allah] dari segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya tapi tidak sesuai bagi kemuliaan-Nya atau mengurangi kesempurnaan-Nya. [dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik] dalam segala urusanku, tetapi aku menyembah Allah dengan mengikhlashkan agama untuk-Nya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 406).

Demikianlah yang dimudahkan bagi kami untuk menyusun tulisan ini. Tulisan ini memang masih jauh dari kesempurnaan. Yang benar bersumber dari Allah. Sedangkan yang salah berasal dari kami dan dari syaithan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan kami. Dan kami memohon ampun kepada Allah atasnya. Nasihat dan kritik membangun dari para pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi tegaknya kebenaran dan untuk mengharapkan limpahan ridha, rahmat dan barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah menerima amal-amal kita. Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.

Jogjakarta, Jum’at 23 Rabi’ul Awwal 1427 Hijriyah

Catatan:

Mohon kepada ikhwah sekalian untuk menyebarluaskan risalah ini secara utuh tanpa merubah content dan memenggal tulisan di dalamnya, serta jangan lupa untuk tetap mencantumkan sumbernya (muslim.or.id). Jazaakumullahu khoiron…

***

Disusun oleh:
Departemen Ilmiah Divisi Bimbingan Masyarakat, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta (2006)

Artikel www.muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/430-mari-mengenal-manhaj-salaf.html

10 Karakter Pendidik Anak yang Sukses

﷽ 

.

Agama Islam adalah kesempurnaan, rutinitas, dan solusi dalam segala hal, serta kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Islam mengatur berbagai tuntunan termasuk dalam perkara rumah tangga, karena pernikahan merupakan awal dari ujian, bukan puncaknya sebuah hubungan cinta, dan semuanya diuji sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing
.

💬Anak adalah rahmat dan titipan yang Allah berikan buat kita. Namun untuk menjadikan anak seseorang yang mulia atau tidak adalah tugasnya Allah, kita hanya berikhtiar dan bertawakal kepada Allah semampunya, karena Nabi Adam عليه السلام – pun tidak bisa mencegah kedua putranya (Habil & Qabil) dari pertengkaran. Begitu juga dengan kisahnya anak Nabi Nuh عليه السلام yang tidak juga taat kepada Allah dan ayahnya. Maka dalam ujian bukan gagal / sukses yang menjadi tolak ukur, melainkan sabar / bersyukur. Semua yang telah terjadi adalah kehendak Allah, bisa jadi nikmat yang kita peroleh di dunia merupakan musibah, karena tidak semua nikmat bisa membuat kita semakin dekat dengannya

.

.

📝Adapun 10 Karakter Pendidik Anak yang Sukses:

.

1️⃣Ikhlas 👉🏻 Luruskan tujuan niat mendidik anak. Mendidik anak hanya untuk Allah, jadikan jati diri anak hidup untuk beribadah kepada Allah

.

2️⃣Bertakwa kepada Allah 👉🏻 Efek Ibadah. Barangsiapa yang bertakwa kepada الله, maka الله akan beri soulusi. Karena islam memberikan solusi dalam segala hal

.

3️⃣Berilmu 👉🏻 Orang2 yg tinggal / dekat / bergaul dengan orang2 yang bertakwa, maka ia bisa berilmu. Karena seseorang itu tergantung dengan agama temannya. Dan tempat yang akan diturunkan sakinah, yaitu yang selalu dipenuhi dengan ayat suci alquran, majelis2 ilmu, (tempat yang dicari para malaikat) dengan belajar agama yang benar, dosa penuntut ilmu akan terangkat, dan hendaknya hadir dalam keadaan suci (berwudhu)

.

4️⃣Bertanggung jawab 👉🏻 memegang amanah dan dapat dipercaya, menjadi orang yang jujur, dan takut akan dosa (takut kepada Allah)

.

5️⃣Sabar & Tabah 👉🏻 Ujian seseorang diberi الله sesuai dengan kadar keimanannya, semakin tinggi dan mulia seseorang, semakin berat ujiannya (merupakan bukti cinta الله). Setiap anak cenderung memiliki sifat autisme (suka mengulang). Jangan mengomel atau berucap sembarang terhadap anak, karena ucapan yg dikeluarkan thd anak adalah bagian dari doa. Berfikir sebelum bertindak, Jaga lisan. Menurut syari’at Islam bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah ﷺ bersabda;

.

‎لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

.

Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari & Muslim)

.

Anak belum tentu berdoa kpd orgtuanya, tetapi org tua jangan pernah bosan dan berhenti mendoakan kebaikan anak, kita harus yakin thd allah bahwa kita kuat (tidak berburuk sangka / suudzon terhadap Allah atas ujian yg diberikan) 

.

6️⃣Lemah Lembut dan Tidak Kasar 👉🏻 Tidak ada hasil kebaikan jika segala hal dipenuhi oleh amarah / mengikuti ego, karena apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Didik anak laki2 menjadi seorang laki2, didik anak perempuan sbg perempuan (tidak keluar dari fitrah)

.

‎رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (Qs-37:100)

.

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yabg termasuk orang yang shalih”

.

7️⃣Penyayang 👉🏻 (Rahmannya Allah). Seorang yang penuh kasih sayang terhadap anak anaknya maka akan mendatangkan cinta dan kasih sayang balik dari anak-anaknya, bahkan seorang anak yang shalih ia akan terus mendoakan orangtuanya hingga mrk berada di liang lahat. Dan tujuan menjadikan anak shalih adalah aset untuk penolong orang tua dari azab kubur. Malaikat akan menghentikan siksaannya, karena masih mengalir doa yg diberikan anaknya di dunia maupun amal shaleh yang dilakukannya untuk kdua org tuanya. Karena siapa lagi yang akan menolong kita untuk terhindar dari siksa api neraka kelak

.

8️⃣Lunak & Fleksibel 👉🏻 dlm artian, ada saatnya, ada teknik2 dlm mendidik anak sesuai dlm keadaan waktu / situasi, (paham mengkondisikan bahasa tertentu di waktu tertentu dalam situasi yang berbeda-beda, termasuk paham kondisi sang suami, karena istri yg baik adalah yang paling dapat menyenangkan sang suami). Anak perempuan, harus dididik dengan hati, contohi Rasulullah mendidik kepada putrinya, Fatimah. Jangan sampai anak perempuan tersebut tumbuh dewasa dengan perasaan kecewa terhadap ayahnya karena sering menyakitinya

.

9️⃣Tidak mudah marah 👉🏻 Dalam islam, tidak ada mendidik dengan emosi, marah adalah temannya setan. Marah merupakan penyebab kurangnya iman, maka orang itu mudah tidak sabar. Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, Beliau ﷺ bersabda:

.

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”

.

🔟Dekat namun berwibawa 👉🏻 Baitu Jannati (Rumahku, surgaku)

.

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda;

.

“Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

.

penuhi suasana dalam rumah dengan kelembutan, kenyamanan, dan keheningan. Jauhkan dari berbagai kemungkaran termasuk musik (anak panahnya syaithan) atau acara televisi yang tidak berbobot. Jangan membawa emosi ketika pulang atau masuk ke dalam rumah. Karena tujuannya bukan untuk menambah/ menciptakan masalah yang akan membuat anak sedih. Jangan jadikan rumah penuh dengan celaan/ keributan, yang akan membuat anak tidak betah berada di dalam rumah. Jika seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka sang suami adalah kepala sekolahnya

.

Orang tua sebaiknya bergaul dengan orang2 yang baik, agar ketika mereka bertamu ke dalam rumah, anak dapat menilai bahwa mereka berakhlak & beradab, tidak dipenuh dengan ghibah atau cekikikan, tahu mana yang benar dan buruk. Kadarnya kepemimpinan seseorang tergantung makmumnya. Dan Taubatnya orang tua adalah penyebab Allah datangkan hidayah kepada anak-anaknya (karena keshalehan orangtuanya)

.

.

🗒 Mencetak Generasi Rabbani

👤 ust. Subhan Bawazier

🏢 Aston Bogor, 23 Juli 2017

Saling Mencintai Karena Allah adalah Perkara yang Sangat Langka Lebih Langka dari Emas ♥

Oleh ustadz Abu Usamah Syamsul H, Lc –

Diambil dari kajian akhwat @Al- Jannah, Jakarta Selatan

.

Bismillahirrahmanirrahiim

Dalam berumah tangga, sebagian pihak selalu menuntut yang haq daripada kewajiban. Seharusnya muamalah seperti ini adalah salah, sama seperti meminta terus kepada Allah (haq-Nya) tetapi kewajiban terhadap Allah tidak dijalankan. Siapa yang meminta terus haq tanpa ada kewajiban terhadap Allah, maka akan terputus hubungan dengan Allah (tidak harmonis). Setiap pekerjaan atau pelayanan seorang istri terhadap suaminya sama seperti dengan jihad di jalan Allah. Kemudian beberapa kiat cara memperbaiki keluarga untuk menjadi samawa adalah dengan cara :

1. Taubat dan Istighfar

Masalah terjadi karena disebabkan adanya Dosa. Dengan adanya masalah adalah untuk menghapus dosa itu dengan langsung taubat / istighfar kepada Allah dan perbaiki hubungan kita dengan Allah. Maka dengan sendirinya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan pasangan kita.

Ketika suami sedikit berubah, hal yang pertama yang harus dilakukan adalah ber-istighfar bukan berburuk sangka / suudzon. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh kaum wanita terdahulu (salaf) yang senantiasa mengingatkan suaminya dalam perihal ketaatan kepada Allah.

2. Ijtihad Ibadah

Yaitu, perbanyak ibadah secara umum, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah. seperti Berzikir, membaca Al-Qur’an, maupun bersedekah. Melaksanan puasa, shalat sunnah, bersilaturahmi, dsb. Kita juga bisa membuat rumah adalah ladang pahala, selain menjalankan kewajiban dan tugas sebagai seorang Istri, kita hadirkan rumah adalah suasana taman surga dan gudang ilmu, seperti membuat perpustakaan mini, atau mendengarkan ceramah maupun murrital ayat-ayat suci Al-Qur’an, agar senantiasa rumah selalu nyaman dan aman dalam menjalankan ibadah, menjauhi hal-hal yang dilarang dalam agama seperti memelihara binatang yang haram, memasang gambar yang dilarang, dan menjauhi tontonan yang tidak bermanfaat dan juga menjauhi suara-suara nyanyian / musik, merupakan salah satu pintu keberkahan rumah dan selalu didatangi dan dihadiri oleh malaikat pembawa rahmat. Aamiin.

3. Mempertebal Keikhlasan

Kita harus dapat belajar ikhlas dari segala kekurangan pasangan dengan cara bersyukur. Karena jika kita meninginkan yang sempurna adalah dengan cara dibentuk bukan dicari. Bukankah kita harus saling melengkapi antara kekurangan yang ada pada pasangan kita? Kecuali ada hal-hal yang memang tidak bisa ditolerir, apalagi jika sampai batas melanggar dan keluar dari perintah maupun hukum Allah. Salah satu tujuan pernikahan selain menyempurnakan separuh dari agamanya adalah untuk saling menyempurnakan, karena Istri juga bukan Bidadari. Dan karena pernikahan adalah sunnah nabi, pasti akan ada kekurangan, tidak ada yang sempurna seperti kehidupan yang abadi di Surga, justru dengan pernikahan adalah jalan untuk sama-sama memperjuangkan cintanya bukan hanya sebatas di dunia saja, melainkan hingga Surganya Allah.

Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-An’am : 162 bahwasanya Shalat, Ibadah, Hidup dan Mati hanya untuk Allah semata. Maka niat yang harus ada dalam sebuah ikatan pernikahan adalah ikhlas untuk mencari Ridha Allah, bukan ridha Manusia.  Maka semua gerak-gerik dalam berumah tangga jika didasari dengan keikhlasan semuanya akan menjadi pahala, terlebih akan menyelamatkan diri ketimbang tidak menikah. Terutama menyelamatkan 3 hal yaitu; pandangan, perut, dan kemaluan. Ini merupakan hal duniawi yang wajib dipenuhi wanita kepada suaminya. Jadikanlah pasangan atau anak adalah anugerah atau boneka yang Allah titipkan kepada kita. Insya Allah cinta yang diawali dengan ketulusan dan dari Allah (setelah pernikahan) akan diakhiri dengan kebahagiaan. Dan salah satu ciri wanita ahli surga selain memiliki banyak anak adalah yang dapat atau ahli dalam membangkitkan syahwat sang suami, maka seorang wanita dianjurkan berhias hanya untuk suami saja.

4. Isti’anah

Yaitu, meminta tolong kepada Allah, mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada Rabbnya, dan menyerahkan seluruh perkara kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya.

Isti’anah seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 4).

Kita bisa mencontohi suri tauladan para Ibunda atau Istri Nabi (Ummahatul Mu’minin) Seperti Khadijah yang dapat salam langsung dari Allah, kemudian Aisyah mendapat salam dari Jibril, bosnya para malaikat dan malaikat yang paling mulia karena disibukkan dengan wahyu. Sama halnya dengan manusia terbaik di muka bumi yaitu baginda Rasulullah karena ia disibukkan oleh wahyu dari Allah.

FullSizeRender (9)

FullSizeRender (1)

“Aku mencintaimu karena Agama yang ada agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu.” – [ Imam Nawawi ]


Bagaimanakah kiat-kiat memilih kriteria calon pasangan yang baik dan benar?

Oleh Ustadz Subhan Bawazier

Diambil dari kajian “Daurah Cinta” – Masjid WTC Jendral Sudirman, Jakarta Selatan

FullSizeRender (4)

Kriteria Memilih Istri :

  • Menaati agama dan mencintainya

Yaitu, menjadikan taat kepada Allah dan cinta kepada Allah, gemar membaca Al-Qur’an, ayat kursi yang terus dikumandangkan memiliki pengaruh kepada hasil kebaikan rumah tangga. (Diberkahi, dirahmati, dan diridhai Allah)

Qs. An-Nisa : 34 -> Wanita yang shalihah yang taat kepada Allah dimana ketika suami sedang pergi, ia tinggal di dalam rumahnya.

  • Tidak mengenal kata – kata yang tercela, kata-katanya selalu terjaga karena hatinya yang bersih (didasarkan oleh lingkungan disekitarnya) pendengaran yang baik, maka keluar yang baik, selalu melihat hal yang baik /  positif
  • Bersabar, tidak gampang bersedih (tegar) Karena dalam berumah tangga akan diuji. Islam melindungi perempuan, lewat suaminya. Karena jika wanita keluar dari rumahnya, ia diikuti oleh syaithan.
  • Tidak meremehkan dosa, Ujian membuat seseorang lebih cerdas, kreatif, dan menginspirasi (tidak gampang mengeluh) jika dapat mengambil hikmah dari masalah yang dihadapi agar tidak terulang masalah yang sama, dan pengukur ketaatan kepada Allah.
  • Berakhlak Mulia, baik dalam ilmu maupun perbuatan. Bahwa yang menjadikan lemah lembut ialah karena ilmu dan amal yang telah dipelajari sebelum menikah.
  • Tidak suka ghibah. Menceritakan tentang orang lain terhadap suami terutama temannya sendiri karena akan kerap menimbulkan sesuatu yang membawa kepada hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya menceritakan ilmu yang telah didapatkan saja setelah selesai dari majelis ilmu atau hal-hal yang bermanfaat.
  • Tidak suka melihat aurat perempuan lainnya. Karena hal ini juga tetap bisa menjadikan fitnah. Kecantikannya hanya diberikan kepada suaminya, berdandan hanya di dalam rumahnya, menutupi dan menundukkan pandangannya kepada selain suaminya.
  • Taat kepada suami, tidak bermaksiat kepada Allah, bisa menjaga dirinya dengan baik, kemudian tidak gampang meminta cerai karena hukumnya haram dalam islam.
  • Tidak melepas pakaian atau hijabnya selain di dalam rumahnya.
  • Lihat agama dari teman-teman dekatnya untuk melihat pergaulannya
  • Yang bisa membantu suami untuk menaati Allah untuk mendatangkan kebaikan, dapat mendidik anak dengan baik. Dimana ketika tidak keluar dari syariat Islam, keindahan rumah tidak akan hilang.
  • Gemar bersedekah di jalan Allah untuk bekal amal jariyah di alam akhirat mendatang

FullSizeRender

Kriteria Memilih Suami :

  • Berjiwa pemimpin, yaitu seorang muslim yang beriman
  • Yang penuh kelembutan, baik terhadap Ibunya, anak-anak perempuannya, saudari-saudarinya, terutama Istrinya. Karena laki-laki yang paling baik adalah yang paling lembut terhadap mereka.
  • Dalam mendidik atau mendakwahi harus stetp by step, tidak langsung main dalil atau selalu langsung melontarkan hukum kemudian jadi hakim, artinya pelan-pelan dalam mendidik, karena orang beriman yang kuat adalah yang mampu bersabar dan jauh dari perbuatan keras atau kasar.
  • Memiliki Ilmu dan yang Mengamalkannya, karena pengamalan adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada pada kebaikan dan ketaatannya kepada Allah
  • Cari tahu hubungan dia dengan ibunya / adik / kakak perempuannya, maupun saudari2nya, karena pentingnya sebuah akhlak yang ada pada dirinya. Dan Nabi melarang menikahi seorang laki-laki yang keras (suka memukul terhadap perempuan) Orang yang suka memukul dan berteriak-teriak terhadap mereka adalah tidak lain dipenuhi dan telah dikuasai syaithan.
  • Memperoleh rezeki dari yang halal agar membuahkan hasil Rumah Tangga yang baik, menjauhi perkara yang berhubungan dengan Riba, karena setiap yang haram tidak akan mendatangkan kebaikan, dan memberi pengaruh terhadap anak-anak mereka.
  • Mengenal Ulama, karena seorang lelaki yang baik, benar dan bertanggung jawab adalah bentuk dari terbingkainya ia mendidik dam membangun keluarganya dengan Ilmu. Jika ada masalah yang ia tanyakan pertama adalah kepada para ulama, bukan kepada yang tidak memiliki ilmu dalam halnya.
  • Ketika mendapatkan ujian atau musibah, ia selalu bersabar dan istighfar (jujur dalam segala hal) agar selalu ditetapkan dan diberi keberhakan serta kecintaan Allah yang tidak hilang darinya. Sebaliknya, jika ia tidak mampu dan berkeluh kesah dalam ujian yang dihadapi maka khawatir mrka atau kemungkaran yang akan diperoleh.
  • Tidak menduakan Ibunya, karena seorang lelaki yang telah menikah ia masih memiliki kewajiban untuk berbakti kepada sang Ibu.

Demikianlah semua orang mendambakan dan mengimpikan suatu keluarga yang penuh dengan keindahan, kebaikan, dan kenyamanan, serta dipenuhi dengan nilai Islam. Tetapi mengangankan itu sangat jauh, karena Kematian lebih dekat dari sendal jepit yang digunakan. Dunia bukan tempat yang baik, namun Allah memasukkan hamba-hambanya ke dalam surganya bagi orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Semoga kita semua diberi jalan dan pilihan yang terbaik menurut Allah, dilancarkan dan dimudahkan dalam ikhtiar kita, dan diberi petunjuk dalam langkah kita untuk senantiasa berada pada ketaatan dan berpegang teguh diatas sunnah Nabi salallhu’alaihi wassallam hingga diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah dan dikembalikan bersama orang-orang yang kita cintai. Semoga kita semua dapat pulang ke kampung halaman dengan selamat. Aamiin yaa Rabbal Alamiin…

FullSizeRender (6)

FullSizeRender (7)

FullSizeRender (8)

BUDAK HAWA NAFSU

Bismillahirrahmanirrahiim..

Diambil dari rangkuman kajian akhwat, yayasan Al-Jannah 16 Februari

– ustadz Dzajuli, Lc

Apa itu hawa nafsu? perlu kita ketahui, yang berhak menilai apa itu hawa nafsu, harus berdasarkan dalil. Bukan akal atau perasaan. Hawa nafsu, adalah kecenderungan hati, untuk bisa menikmati segala keinginan hati, tanpa didukung dan dibenarkan oleh syariat islam. Hawa nafsu merupakan setiap hal yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu’Alaihi Wassallam, baik berupa perintah, larangan, ibadah, dan ketaatan. Baik dalam hati / lisan yang dilakukan, dan petunjuk yang menyelisihi serta bertentangan dengan petunjuk nabi walaupun orang itu menganggap itu baik. [Ibnu Taimiyah]

Dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat ke 50 : “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Allah menjelaskan, jika mereka tidak mengikuti petunjuknya, berarti mereka mengikuti hawa nafsu mereka, karena Allah menyuruh hidup kita di dunia hanya untuk beribadah kepadanya. Dengan cara, mengisi hidup dengan ikhlas dan dengan sunnah. Baik dalam beribadah, bermuamalah, bersosialisasi, berpolitik, berumah tangga, mendidik, dan lain sebagainya. Sesuatu dikatakan ibadah, apabila adanya ikhlas dan sesuai sunnah, berdasarkan dalil dan pemahaman para sahabat. Allah tidak melihat harta, tetapi amal yang dari hati (sesuai kecintaan kita terhadap Rasulullah). Ibadah hati itu tidak pernah berhenti pahalanya, maka itu yang membuat kita harus selalu cinta dan takut hanya kepada Allah. Dan ini adalah ciri-ciri orang yang memiliki hati yang sehat. Allah memuliakan manusia untuk orang yang bertakwa dan istiqamah di jalan sunnah.

Mengapa nabi selalu konsisten dalam beribadah hingga akhir hayatnya? Karena Nabi memiliki hati yang sehat (lihat awal surat dari An-Najm 1-4) “Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” Lalu mengapa kita wajib mengetahui betapa pentingnya melawan hawa nafsu? yaitu, agar kita selamat dari Virus Kebodohan dan Penyakit Hati (hawa nafsu). Karena akal dan nafsu seorang mukmin akan tunduk pada wahyu. Adapun orang munafik, wahyu dipaksa tunduk pada akal dan nafsunya. Dengan kata lain penyakit hawa nafsu itu kebanyakan diderita oleh orang-0rang yang tersesat, tidak tunduk pada wahyu, dan tidak memiliki keimanan, seperti kaum kuffar. Sejatinya, mereka tidak mengetahui ajaran hukum syariat islam yang sempurna karena sudah dikuasai oleh penyakit hawa nafsu (tunduk kepada keinginan hati). Hal ini tentu saja penyebab utama kerusakan manusia dan kerusakan hati, yang dimana akan menyebabkan jauh dari hidayah Allah. Karena Allah telah menciptakan fitrah hati untuk bisa beribadah kepadanya. Seorang mukmin sejati, akan selalu merasakan nikmat dan lezatnya  sebuah keimanan, sebagaimana orang kafir dan munafik menikmati nikmat dan lezatnya sebuah maksiat. Akan tetapi, penyakit hawa nafsu jauh lebih bahaya dan mematikan hati daripada penyakit syahwat kebodohan, maksutnya adalah suatu hal yang dianggap baik tetapi tidak berdasarkan petunjuk dari Rasulullah, adakala orang-orang seperti ini akan sulit untuk bertaubat kepada Allah, daripada orang yang bermaksiat karena sebuah dosa yang jelas itu mereka tau berdosa apabila melakukannya seperti berbuat maksiat. Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata, Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Seseorang sangat mungkin bertaubat dari maksiatnya, tetapi sangat sulit bertaubat dari perbuatan bid’ahnya.” – Dalam Majmu’ Fatawa  X/9

Perbuatan Bid’ah (Mengadakan sesuatu tanpa ada contoh) dalam beribadah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah / mengadakan perkara hal baru dalam beribadah ini hukumnya haram, karena yang ada dalam Islam itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah). Rasulullah telah bersabda “Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut maka perbuatannya tertolak.” – HR. Bukhari

Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda :

Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara BARU DALAM AGAMA, karena sesungguhnya SETIAP BID’AH adalah SESAT”. [HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

Dan perlu diingat agar untuk hati hati dari terkena Dosa jariyah (mengalir terus walau sudah meninggal) gara-gara mengajarkan bid’ah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”- HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”

Darisini, jelas kita mengetahui bahwa pengikut hawa nafsu itu sendiri yang dinamakan budak hawa nafsu, artinya selalu tunduk pada keinginan hatinya bukan pada wahyu Allah. Maka itu betapa penting sekali Islam dalam mengajarkan akhlak yang baik dan kesabaran yang tinggi. Kaerena puncak dari keislaman seseorang itu bukan berdasarkan panjangnya atau lebarnya hijab saja, tetapi keikhlasan hati. Dalam surat Al-Furqon ayat 43 : “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”

Maka bisa kita lihat, yang suka mengikuti hawa nafsu tanpa dalil atau prerkataan Nabi, maka ia penyembah hawa nafsu atau budak hawa nafsu. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan se-pengetahuannya. Dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Jasiyah : 23)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An-Naziat : 40-41)” Maka begitupun sebaliknya. Hawa nafsu adalah pendorong nomor satu terkuat untuk berbuat maksiat. Ini adalah sumber keburukan dan malapetaka serta musibah, yang terjadi dan diawali oleh sebuah “hawa nafsu”. Maka semua masalah / malapetaka / fitnah adalah sebuah bencana yang terjadi akibat kelalaian dari tunduk kepada petunjuk Rasulullah, baik maksiat, maupun bid’ah. Darisini, kita tentu mengetahui bahwa jalan sunnah adalah sumber kesuksesan terbesar untuk mencapai rahmat dan keridhain Allah bukan hanya sekedar di dunia, tapi hingga jalan menuju kembalinya kita nanti. Kita hidup berawal sendirian, banyaknya manusia kerabat atau keluarga jika tidak berdasarkan petunjuk Rasulullah, tidak akan menjamin kita selamat di hadapan Allah kelak, karena kita akan menghadapnya sendirian bersama amalan dan perbuatan yang telah kita lakukan selama di dunia. Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu, akan Allah jauhkan hati mereka dari hidayah. Mari kita lihat firman Allah betikut ini; “Dan begitupula kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.” (Qs. Al-An’am : 110).” Tentu bagi orang yang meiliki iman, akan sangat takut setiap mendengarkan firman Allah yang nyata ini.

“Semua nikmat yang tidak menyebabkan anda semakin dekat dengan allah adalah bencana.” -H. Abu Hazim Rahimahullah Uddatu asshabirin1/104.

Kebodohan atau maksiat cinta dunia untuk bisa bertaubat masih lebih bisa dilakukan ketimbang hawa nafsu terhadap Bid’ah tersebut yang disebabkan menumpuknya syubhat di dalam dirinya. Apapun perkataan digunakan untuk mengakali pembangkangan wahyu. Kita sebagai muslim harus menyerah pada wahyu, bukan menolak. Karena pola pikir ditentukan dari langkah awal. Ada kisah pada zaman Rasulullah seorang sahabat mundur di medan perang hingga tiga kali yang awalnya ia ingin mengikuti Rasulullah, tetapi ia banyak keraguan, hingga lama lama ia selalu ragu akhirnya iapun tidak ikut lagin ke medan perang. Pada saat itu Rasulullah menyampaikan kepada istrinya lelaki tersebut agar untuk tidak melayani suaminya, maka istrinyapun lebih ingin menanti nanti ditegur oleh perkataan Rasulullah itu dan mengikuti permintaan Nabi. Masya Allah, betapa pentingnya kita harus mengikuti tuntunan beliau. Apalagi di zaman sekarang ini yang mana kaum muslimin sudah banyak terjadi perpecahan, karena jalan satu satunya yang dapat menyelamatkan muslim sejati adalah jalan as-sunnah / khulafaa-ur Raasyidiin agar mendapat jaminanterhindar dari berbagai fitnah dan perpecahan. Manfaatkanlah sunnah untuk mendapatkan hidayah. Karena sesungguhnya menjalani hidup dan beribadah dibawah sunnah terasa nikmatnya daripada kita hidup bersama firqah lain yang sesat. Menjauhkan segala macam bentuk kesyirikan agar terhindar dari syubhat, meninggalkan segala macam perbuatan yang dilarang agar tidak terkena penyakit hawa nafsu, maka hati ini akan senantiasa sehat. Tentunya kita bisa melihat nikmat sunnah di awal hingga akhir. Untuk melihat hasil akhir dari perjalanan sunnah kita apabila kita memulai meninggalkan dunia, apakah kita dalam keadaan khusnul khatimah, atau dalam keadaan suul khatimah. Semoga Allah menyelamatkan amal kita.

Penyakit hawa nafsu juga seperti penyakit Rabies yang ditularkan oleh seekor anjing. Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

Dan sesungguhnya akan muncul kaum-kaum dari umatku yang hawa nafsu mengalir pada mereka sebagaimana penyakit anjing gila mengalir pada penderitanya. Tidak ada satu urat dan persendianpun melainkan dimasukinya.”

Maka, sama halnya penyakit hawa nafsu juga merupakan penyakit yang menular, jika anjing mengigit manusia, maka susah untuk disembuhkan. contohnya, terlanjur berguru kepada guru yang salah. Karena dalam belajar ilmu agama bukan berdasarkan pendapat manusia, tetapi belajar agama dalam sunnah harus sesuai dalil. Jika kita menyampaikan hal yang bertentangan, tentu konsekuensinya akan sangat berat di akhirat nanti, apalagi jika menularkannya terhadap orang banyak. Berguru harus sesuai mazhab, bukan berdasarkan suka atau tidaknya terhadap tampilan luar gurunya atau perilakunya. Karena ilmu dan kebenaran ditentukan oleh dalil. bukan oleh karakter atau sifat guru tersebut, apalagi berdasarkan banyaknya jumlah pengikut.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38).

Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116)

Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang.

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187)

Malah kebanyakan orang adalah fasik.

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102)

Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit.

وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40).

Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220).

Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada.

Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah).

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah,).

Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103).

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116)

Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

Ciri-ciri guru yang bermanhaj lurus adalah, ia tidak gemar mencaci pemerintah. Dan jika ingin melawan musuh Islam, kuncinya harus kembali kepada agama sesuai sunnah, karena dari cara shalat saja masih banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Padahal amalan yang pertamakali ditimbang di akhirat adalah amal shalat. Bagaimana jika selama ini shalat kita salah? Bagaimana ingin mendirikan tauhid jika kita tidak mengenal aqidah? Lahaula walaa quwata illabillah, bagaimana kita melindungi keluarga kita dari api neraka lantas kita langsung ingin menuntut pemerintah? Karena sejatinya perubahan dimulai dari diri sendiri, jika ingin khalifah seperti Umar, rakyatnya harus seperti umar pula. Apabila Allah kasih pemimpin yang zhalim maka itu adalah akibat dari dosa dan perbuatan kita sendiri, karena pemimpin adalah cerminan dari rakyat. Allah sudah menjanjikan kebangkitan islam apabila kita tunduk pada wahyunya dari segala macam bentuk kesyirikan.

Beberapa hal yang dapat menyembuhkan penyakit hawa nafsu :

  1. Mangikuti Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf (ini adalah  obat yang paling manjur) dan Al-Qur’an sesuai pemahaman para sahabat (Obat manjur yang bersifat umum)
  2. Dari Ibnu Tayyim : Pertama, Ilmu yang dituntut harus sesuai dalil yang shahih (perkataan dari nabi) apabila tidak menemukannya, maka jangan diterima dan tinggalkanlah (untuk menghindari syubhat). Kedua, menghayati ketika sedang membaca Al-Qur’an, mentadabburinya. Karena setiap ilmu agama yang sesuai dengan dalil akan membuat hati menambah keimanan dan takut kepada Allah. Maka jika semakin bagus, ini adalah modal yang kuat untuk mendorong penyakit hawa nafsu. Dan jika semakinj takut kepada Allah akan dibukakan pintu untuk melihat kehidupan akhirat jauh daripada dunia. Yang ketiga, jika ingin mencintai sunnah tidak boleh malas, harus selalu punya semangat. baik dalam mengaji, semangat menuntut ilmu syar’i, ibadah harian, dimana ketika semua orang sibuk menggapai kejayaan dan kecintaan dunia, kkita justru beramal untuk kehidupan akhirat. Do’a agar selalu diberikan semangaat dalam menuntut ilmu: “Allahumma as-aluka al azimata ala rusydi” artinya, ya Allah aku mohon kepadamu semangat dalam mengamalkan agamamu.
  3. Sabar dalam ketaatan, maksiat dan musibah.
  4. Berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar; tidak takut cela, dan berani tanggung resiko untuk berjalan diatas sunnah.
  5. Selalu memikirkan dampak untuk kedepan dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu hal
  6. Berusaha menikmati ketaatan sebagaimana dahulu menikmati kemaksiatan (contoh: nikmat mendengarkan musik >< nikmat ketika mengaji / beribadah) hawa nafsu akan selalu terpicu, jika selalu diimbangi atau terus tidak berhenti dari perbuatan maksiat. syirik identik dengan tak jauhnya dari zina dan bentrokan. Karena syair maksiat yang tidak membawa manfaat akan memasuki telinga dan mengakibatkan akal rusak dan cenderung menjadi penyakit hawa nafsu, didorong untuk melakukan keinginan hati tersebut dalam perbuatannya. contoh lain kerusakan rumah tangga. Dalam islam berumah tangga tidak ada artinya jika tidak dibingkai dengan ilmu, jangan heran melihat lelaki hidung belang yang hakikatnya masih sejati bermain wanita. faktornya sederhana, karena tidak memiliki keimanan. akibatnya ia tidak menganggap shalat atau ibadah adalah sarana penyempurna agama. Jika dengan Allah dan Rasul saja yang hukumnya wajib untuk ditaati berani untuk ditinggalkan, jangankan dengan seorang manusia. Maka dalam Islam, menikah sangat tidak layak jika hanya karena berdasarkan cinta. Karena tujuan seorang mukmin tidak hanya berakhir di bahagia di dunia, tetapi untuk saran mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, dalam Islam menikah sangat dianjurkan agar menjaga kehormatan diri dan membantu diri agar terjaga dari pandangan yang haram.
  7. Banyak merenung / bermuhasabah dan menghayati ayat-ayat Allah (contoh buku yang sangat bagus untuk dibaca : Ayat – ayat Allah pada tubuh manusia.
  8. Memikirkan hakikat untuk apa kita hidup, karena Allah memerintahkan hidup hanya untuk beribadah kepadanya, dan dunia adalah sarana untuk menuju kepadanya. Kita diciptakan untuk kembali, kesempatan hanya sekali, jangan sampai kita lewati ilmu yang tidak kita pelajari.
  9. Rutin menghadiri majelis ilmu, mengikuti guru yang sudah jelas manhajnya, tidak sembarangan. Karena ilmu dan tuntutan yang benar hanya berdasarkan dalil sahih yang tadi saya jelaskan. Berdasarkan pengalaman, nikmat yang didapat semakin tinggi dalam menekuninya dan jika bersama para sahabat salihah (karena indah akhlak dan lisannya; patut ditiru karena teman sangat mempengaruhi agama) maupun berada di dalam majelis ilmu seakan suasananya dekat seperti pada zaman Rasulullah, karena yang didengar memang murni hadis yang disampaikan Rasulullah.
  10. Membaca buku fiqih aqidah,belajar mengahafal hadis, mempelajari contoh ibadah nabi, meneladani panduan hidup muslim, kisah para sahabat dan kisah wanita mulia, cara membangun generasi yang berakhlak, hukum-hukum islam sesuai dalil yang shahih dan contoh dari Rasulullah.

 

fullsizerender-42

 

fullsizerender-45

img_4422

Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf dan Pemahaman Para Salafus Shalih

fullsizerender-38

Munculnya kembali wajah Islam yang murni

Ketika Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah tercampuri dengan pemahaman dan pemikiran lain, dan masuk ke dalam Islam yang bukan darinya, muncullah kelompok kelompok yang melenceng dari jalan kebenaran. Mereka semuanya mendakwahkan diri mereka sebagai penganut Islam, maka para penganut sejati Islam merasa berkewajiban memperkenalkan diri dengan nama yang membedakan mereka dengan firqah-­firqah yang lainnya. Muncullah nama­-nama lain yang disyariatkan untuk pemanggilan orang orang yang memeluk Islam sebenarnya, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, Firqatun Najiyah, Thaifah Manshurah.
Siapa Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, Firqatun Najiyah, dan Thaifah Manshurah? Nama-­nama tersebut mengarah kepada satu makna dan pemahaman yaitu Islam  yang  dibawa  oleh  Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam dan  yang  dipraktikkan  oleh para sahabatnya. Islam yang selalu mengedepankan ucapan Allah subhanahu wa taala dan Rasul­Nya dari pada akal, Islam yang selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada al­-Qur’an dan hadits yang shahih dan Islam yang mengagungkan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  sebagai standar pemahaman yang benar.
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :
عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: 
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”
Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.
2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.
3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.
9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.
Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”
Perawi Hadits
a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.
b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
• Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”
• Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
• Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)
Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.
Dalam riwayat lain “al-­Jama’ah” ditafsirkan dengan: “Apa yang ada padaku dan para sahabatku.”
Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak hanya mencukupkan dengan nash al­ Qur’an dan Hadits, tetapi harus dengan pemahaman para sahabat. Karena itu, dalam hadits Irbadh bin Sariyah radliyallahu anhu, setelah menyebutkan kondisi umat akhir zaman dengan banyaknya perselisihan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan solusi: “Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”
Inilah “manhaj salaf” atau “salafi”   yaitu, orang-­orang yang selalu berpegang teguh dengan dua wahyu, al­Qur’an dan as­Sunnah, dengan pemahaman para salafus shalih yaitu para sahabat.
fullsizerender-39

Keistimewaan “Salafi”

Berikut di antara keistimewaan manhaj salaf:
1.  Keistimewaan dalam penamaannya.
Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Hukmul Intimā’ ilal Firaqi wal Ahzābi wal Jamā’ātil Islāmiyyah (hlm. 21), “… Dan nama-­nama yang mulia itu menyelisihi semua nama dari kelompok mana pun dari beberapa segi.” Lalu beliau menyebutkannya enam poin, di antara yang terpenting adalah:
a.  Sesungguhnya ikatan walā’ (loyalitas) dan barā’ (perlepasdirian),  men­cintai  dan  membenci  bagi mereka  hanya terhadap  Islam  tidak dengan bentuk dan nama tertentu, tetapi hanya dengan al­-Kitab dan as­-Sunnah saja.
b.   Nama-nama tersebut tidak menjadikan fanatik kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
c.   Penamaan itu tidak akan mengantarkan mereka kepada perbuatan bid’ah atau maksiat, dan tidak membuat mereka fanatik terhadap seorang pun dan golongan mana pun.
2.  Keautentikan sumber pengambilan hujah yang sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Semua yang pernah terjun dalam dunia firqah (kelompok sempalan), tentu ia tahu bahwa setiap ajaran mempunyai asal-­usul. Luar biasanya, ajaran salaf satu­ satunya ajaran yang bertemu dengan Islamnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sebutlah ajaran Tasawuf misalnya, maka setelah diselami hakikat dan tujuannya, cara ritual dan pengajarannya, kiranya dia adalah hasil perkawinan silang dari semua ajaran agama, sehingga lahirlah Tasawuf.
Begitu juga ajaran dan pemahaman filsafat dari orang-­orang yang menamakan dirinya filosof Islam, seperti Ibnu Sina, al­-Farabi, Ibnu Rusyd. Setelah diselami hakikat dakwah mereka maka bermuara kepada pengajaran Aristoteles, Plato, dan semisalnya dari filosof Yunani.
3.  Selalu bersikap tengah-tengah
Allah subhanahu wa taala berfirman:
Dan demikianlah Kami jadikan kalian (umat Islam) sebagai umat yang tengah-­tengah. (QS. al­Baqarah [2]: 143)
Manhaj salaf selalu bersikap tengah-­tengah dalam setiap permasalahan. Dalam masalah fiqih ia tidak jumud dan fanatik, bersamaan dengan itu ia tidak melepaskan dirinya dari para ulama dan fuqaha. Ia mempelajari mazhab sebagai sarana bukan tujuan yang akan menuntun mereka kepada sumber yang asli yaitu al­-Qur’an dan as-­Sunnah.
Dalam masalah aqidah ia pertengahan dari semua kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam.
Dalam masalah asmā’ (nama­-nama) dan shifāt (sifat-­sifat) Allah  ia pertengah­an antara Jahmiyyah  dan Musyabbihah.
Dalam takdir ia pertengahan antara Qadariyyah  dan Jabariyyah. Dalam janji Allah subhanahu wa taala  ia pertengahan antara Murji’ah dan Wa’idiyyah.
Dalam penamaan iman ia pertengahan antara Haruriyyah  dan Mu’tazilah. Dalam menyikapi sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  ia pertengahan antara Rafidhah dan Khawarij.

AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Lafazh السنة menurut istilah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, baik berupa ilmu, aqidah, perkataan, maupun ketetapan. Istilah السنة juga digunakan untuk menyatakan sunnah2 yang berkaitan dengan ibadah dan aqidah. Maka lawan dari السنة disini adalah bid’ah (بدعة)

.

📝Al-Jamaah (الجماعة) menurut bahasa berarti persatuan, lawan dari perpecahan / perpisahan. Mengandung arti sejumlah orang banyak / sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama (suatu kaum yang bersatu padu dalam suatu urusan, apapun itu)

.

📝Al-Jamaah menurut istilah adalah kaum muslimin, pendahulu dari umat Islam dari kalangan sahabat, Tabi’in, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Mereka bersatu padu diatas Al-Qur’an & As-Sunnah, berjalan diatas petunjuk yang telah ditempuh Rasulullah ﷺ secara lahir maupun batin

.

📜“Dan Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) الله. Janganlah kamu bercerai-berai” (Qs. Ali’Imran:103)

.

Makna Ahlussunnah wal Jama’ah menurut Istilah

👉 Mereka yang berpegang teguh kpd Sunnah (perjalanan) Nabi ﷺ beserta para sahabat dan orang2 yg mengikuti mereka dalam As-Sunnah (aqidah, ibadah, petunjuk, perilaku, akhlak, perkataan, dan perbuatan). Senantiasa istiqmah (konsisten, tetap teguh) dalam mengikuti contoh Nabi ﷺ dan menjauhi perbuatan Bid’ah. Maka dengan itu definisi Ahlussunnah wal Jama’ah tidak keluar dari definisi Salafus Shalih

.

1️⃣ Senantiasa bersikap pertengahan dan adil

2️⃣ Senantiasa merujuk kpd Al-Qur’an & As-Sunnah dan mendahulukak keduanya

3️⃣ Tidak memiliki imam tertentu/pemimpin yang diagungkan

4️⃣ Meninggalkan pertengkaran dalam agama, menjauhi orang yang senang melakukannya

5️⃣ Menghimpun dan memperhatikan berbagai nash dalam memecahkan satu masalah

6️⃣ Sosok teladan orang2 shalih yang mendapat petunjuk kepada kebenaran

7️⃣ Menyebarkan aqidah yang shahih dan agama yang lurus

8️⃣ Manusia paling sabar dalam menanggung konsekuensi dari perkataan, aqidah dan dakwah mereka

9️⃣ Gemar untuk bersatu & bersahabat, mencintai, menyayangi, dan saling menolong satu sama lain

‎🔟 الله melindungi Ahlussunnah wal Jama’ah dari saling mengkafirkan satu sama lain

Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidak digunakan pada masa sahabat radhiyallahu’anhum. Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?! Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.

Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).

Kalaupun masih ada orang yang tetap ngotot mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “Oo, kalau ini berbeda…!” Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’shum…?? Laa haula wa laa quwwata illa billaah… (lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53. Bacalah…!).

Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullah menjawab, “Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”

Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam shahihain dan selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” (Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19, lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah).

Cinta Salaf Berarti Cinta Islam

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai. Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekedar omong kosong dan bualan belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…

Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul ‘Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar’. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar.” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar (Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.” Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.” (Muslim no. 77). Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.” (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (lihat Fathul Bari, 1/80, Syarah Muslim, 2/138-139).

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “…Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam…” (Syarah Muslim, 2/139).

Selain itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang sesudah mereka.” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “…Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, hal. 489-490).


Oleh : Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
.

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan agama Islam bagi kita, meridhai dan menyempurnakan serta melengkapinya. Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [Al-Maidah :3]

Allah Ta’ala telah menjelaskannya secara gamblang dan menguraikannya dengan keterangan sangat rinci. Allah menerangkan melalui utusan dan bayan (penjelasan) Nabi kita Muhammad. Allah berfirman :

“Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (al Qur’an), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.”[An-Nahl : 44]

Di antara penjelasan yang beliau sampaikan, yaitu mengenai wajah Islam yang shahih (asli) yang masih utuh, dalam situasi perpecahan umat dan silang pendapat yang menerpa mereka, seperti yang dialami umat sebelumnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bangsa Yahudi telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Dan umat Nashara telah tercerai-berai menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu (golongan),” kemudian ada yang bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah,” beliau menjawab: “(Yaitu golongan) yang berada di atas jalanku sekarang ini dan para sahabatku”.[1]

Agama Islam saat permulaan penyebarannya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hingga kedatangan masa para khulafaur-rasyidin adalah Islam yang satu; Islam (berdasarkan) al Kitab dan as-Sunnah dan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, muncullah golongan-golongan, aliran-aliran pemikiran dan kelompok-kelompok. Masing-masing menggagas metode tersendiri untuk memahami agama. Silang pendapat ini kebanyakan bersifat ikhtilaf tadhadd (kontradiktif). Golongan-golongan yang banyak dan bermacam-macam ini, masing-masing mengklaim diri berada di atas Islam yang shahih, berada di atas kebenaran; sekalipun mereka adalah ahli bid’ah, saat melangsungkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bid’ah-bid’ah (ibadah ciptaan mereka), (dan) mereka menyangka sedang menjalankan sebuah kebajikan. Atas dasar ini, bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat. Pasalnya, orang yang bermaksiat tidak berpikir sedang beribadah dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya. Sedangkan ahli bid’ah, maka setan menghias amalan bid’ah pada pandangan ahli bid’ah, sehingga ia memandangnya sebagai kebaikan. Karena itu, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Bid’ah lebih disukai oleh iblis ketimbang maksiat-maksiat. Karena maksiat masih disesali dengan taubat. Sedangkan bid’ah tidak disesali dengan bertaubat” [2]

Dari sini, mungkin ada yang bertanya atau diam sejenak untuk melontarkan pertanyaan: “Atas dasar pemahaman apa, Islam yang shahih itu dibangun? Apakah merujuk pemahaman kaum Khawarij, pemahaman golongan Mu’tazilah, kerangka berpikir kelompok Murji`ah? Ataukah berdasarkan pemahaman golongan-golongan yang termuat di dalam kitab-kitab tentang firoq (golongan-golongan yang sesat)?

Oleh sebab itu, perlu disampaikan penjelasan mengenai Islam yang shahih sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai oleh-Nya bagi kita, serta yang sudah disampaikan penjelasannya oleh Rasulullah dan memerintahkan kita untuk konsisten di atasnya pada masa munculnya ikhtilaf (perbedaan) dan perpecahan.

Saya ingin mengetengahkan satu masalah penting, yakni, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan para sahabat di masa terjadinya perpecahan umat dalam dua kesempatan (dua hadits), dan (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memerintahkan untuk memegangi manhaj para sahabat beliau.

Hadits Pertama. Hadits al ‘Irbadh bin Sariyah :

“Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . .” [3]

Di sini, beliau memberitahukan adanya ikhtilaf (perbedaan pandangan), dan disertai penyebutan jalan keluar dari perpecahan itu. Yaitu, (memegangi) Sunnah Rasulullah sebagaimana telah diamalkan oleh para sahabat beliau. Yang dimaksud khulafaur-rasyidin (para pengganti yang mendapatkan petunjuk), yaitu para sahabat Nabi. Makna yang dinginkan di sini (dalam hadits di atas, Red.), adalah iradatu fahmin (pengalihan wewenang pemahaman), bukan iradatu hukmin (pengalihan wewenang kekuasaan). Setiap sahabat Nabi merupakan penerus Nabi dalam aspek pemahaman, manhaj dan agamanya.

Hadits Kedua : Hadits ‘Amr bin al ‘Ash yang diriwayatkan at-Tirmidzi dengan isnad yang hasan.

Umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu. Kata beliau: “(Yaitu golongan yang berpegang teguh dengan jalan yang) aku dan para sahabatku berada di atasnya sekarang ini”.

Tatkala menyebutkan terjadinya perbedaan pendapat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan manhaj (metode) yang masih eksis berada di atas jalan dan Sunnah beliau. Yakni, jalan yang telah dipegangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dengan ini, maka memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang berlandaskan pemahaman para sahabat, itulah agama Islam yang diridhai.

Allah berfirman : “Dan Kuridhai Islam menjadi agama kalian”. Maksudnya, yaitu agama yang dijalankan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Muhammad radhiallahu’anhum ajma’in. Dan lagi, tugas para sahabat di tengah umat ini ibarat tugas Nabi Muhammad di hadapan para sahabat. Tanggung jawab Nabi di tengah umat ini dan di hadapan para sahabat ialah menjadi saksi atas mereka. Dan keberadaan sahabat di hadapan umat menjadi saksi atas umat ini.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” [Al-Baqarah :143]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saksi atas umat ini. Setelah beliau wafat, tinggallah sahabat Rasulullah menjadi saksi atas umat. Karena itu, terdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Musa al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bintang-bintang merupakan amanah bagi langit. Apabila bintang-bintang lenyap, maka tibalah perkara yang sudah ditetapkan bagi langit. Dan aku penjaga amanah di tengah sahabatku. Bila aku telah pergi, maka datanglah kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan sahabatku penjaga amanah di tengah umatku. Apabila para sahabatku telah pergi, maka datanglah kepada umatku perkara yang dijanjikan kepada mereka” [4]

Maknanya, bila bintang-bintang itu telah pergi, tidak kembali lagi. Dan bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi, maka datanglah pada para sahabat masalah yang telah dikabarkan kepada mereka. Dan jika para sahabat telah pergi, maka muncullah kejadian yang sudah dijanjikan kepada umatku.

Melalui pemaparan hadits-hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Islam yang benar ialah yang berlandaskan pada jalan Rasulullah dan para sahabat Rasulullah radhiallahu’anhum ajma’in .

Masalah yang sudah kami kemukakan dan manhaj yang telah kami menepatinya ini, didukung oleh al Qur`an dan dikuatkan oleh as-Sunnah, para sahabat dan generasi Tabi’in, serta para ulama umat Islam. Satu per satu hendak saya sampaikan bukti-buktinya:

Sebagian Dalil Dari Al Qur`an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan seorang muslim untuk mengikuti al Kitab dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An Nisa : 115]

Sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jamrah: Para ulama berkata, bahwa sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah . . “[At-Taubah :100]

(Dalam ayat ini), Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dua thabaqat (tingkatan) manusia.
Tingkatan Pertama : Yaitu orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Tingkatan Kedua : Yaitu tingkatan orang-orang yang mengikuti mereka, mengikuti Muhajirin dan Anshar.

Tingkatan Muhajirin dan Anshar adalah para sahabat Rasulullah. Karena yang dimaksud dengan “dahulu” di sini adalah generasinya. Sehingga setiap sahabat, (mereka) mendahului para generasi Tabi’in.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung para generasi Sabiqunal-Awwalun dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mengikuti Sabiqunal-Awwalun? Karena mereka mengikuti jalan kaum Muhajirin dan Anshar.

Dalam ayat ini tersirat sebuah pelajaran manhaj, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan mengenai ittiba’ur-Rasul (mengikuti Rasulullah). Tujuannya, untuk menjelaskan kepada kita semua, bahwa ittiba’ur-Rasul tidak akan terwujud, kecuali dengan perantara, yang mengambil manhaj, istidlal dan talaqqi. Yakni para sahabat radhiallahu’anhum ajma’in . Maka, seorang muslim belum menempuh jalan ittiba’ur-Rasullah sebelum memahami manhaj beliau berdasarkan pemahaman para sahabat Rasulullah.

Sebagian Dalil Dari Hadits.
Sedangkan hadits-hadits yang menyatakan kewajiban mengikuti al Kitab dan as-Sunnah dengan merujuk pemahaman para sahabat yang mulia sangat banyak. Sebagian sudah dipaparkan. Di antaranya, hadits al ‘Irbadh bin Sariyah:

“Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . . .’

Maksudnya, pegangi sunnah para sahabatku. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan ‘adhdhu ‘alaihima (pegangi keduanya), akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ‘adhdhu alaiha, pegangi dia, dijadikan satu kesatuan dalam satu kata ganti, Red.). Artinya, sunnah para sahabat merupakan sunnah beliau juga. Merekalah yang menyampaikan sunnah beliau. Orang-orang yang menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah; mereka adalah para sahabat Nabi.

Oleh karena itu, para ulama menetapkan, siapa saja yang menikam kehormatan para sahabat, ia adalah zindiq. Maksudnya, dengan mencela atau berkomentar miring terhadap sahabat atau mengkafirkan mereka, (maka) orang-orang tersebut (adalah) zindiq. Abu Zur’ah rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang menikam kehormatan para sahabat. Beliau rahimahullah menjawab:

Mereka itu ingin menciderai reputasi merusak kehormatan para saksi kita untuk menggugurkan al Kitab dan as-Sunnah. Padahal mereka itulah (yang) lebih pantas ditikam kehormatannya. Mereka itu kaum zindiq.[5]

Mereka itu ingin menghancurkan kedudukan orang-orang yang telah menyampaikan al- Qur`an dan as-Sunnah kepada kita. (Padahal), justru mereka itulah yang lebih pantas untuk dijatuhkan kehormatannya.

Hadits yang lainnya masih banyak. Misalnya, hadits:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku. Kemudian generasi selanjutnya, dan kemudian generasi selanjutnya” [6]

Aspek puncak kebaikan pada hadits ini, ialah ditinjau dari aspek ilmu dan pemahaman, bukan (dari aspek) kebaikan fisik, nasab (keturunan) atau lainnya. Kemudian datang generasi sahabat. Yang menjadikan manhaj dan pemahaman mereka sebagai hujjah di hadapan umat setelahnya. Terutama, saat mereka beradu argumentasi dengan golongan-golongan sesat.

Sebut saja ‘Abdullah bin Mas’ud. Suatu hari, beliau memasuki masjid Kufah. Di dalamnya, beliau menyaksikan sekumpulan orang-orang duduk melingkar sambil mengucapkan tasbih, takbir dan tahmid dengan hitungan kerikil-kerikil. (Berikut dialog antara sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud dengan mereka).

“Beliau (‘Abdullah bin Mas’ud) bertanya (kepada mereka),”Perbuatan apakah yang sedang aku lihat kalian mengerjakannya?”
Mereka menjawab,”Wahai Abu Abdir-Rahman! Ini adalah kerikil-kerikil. Kami membaca takbir, tahlil dan tasbih dengannya.”
Maka beliau menimpali: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian. Sesungguhnya aku menjamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kalian terseret kepada kebinasaan. Para sahabat Nabi kalian pun masih banyak. Lihatlah, baju-baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum rusak. Periuk-periuk beliau belum pecah”.
Mereka berdalih,”Kami hanya ingin berbuat baik saja.”
Beliau pun berkata: “Berapa banyak orang menginginkan kebaikan, akan tetapi tidak meraihnya atau tidak sampai kepadanya”.

Syahid (bukti yang bisa dipegangi) dari pernyataan itu ialah, “sedangkan para sahabat masih banyak”. Seandainya kalian berada di atas jalan kebenaran, sudah pasti ada sahabat yang bersama dengan kalian. Ketika tidak ada seorang pun dari mereka yang bersama kalian, berarti kalian berada dalam pintu kesesatan.

Lihatlah, logika berikut yang dipakai ‘Abdullah bin Mas’ud dalam membungkam mereka. Beliau mengatakan selanjutnya :

“Demi Allah, wahai orang-orang, kalian itu berada di atas ajaran, kalau tidak lebih baik dari ajaran Muhammad (dan ini merupakan bentuk kekufuran) atau kalian sedang membuka pintu kesesatan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami ada kaum yang membaca al Qur`an tapi tidak menembus kerongkongan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, mungkin kebanyakan dari kalian termasuk mereka “.

Perawi hadits ini, ‘Amr bin Salimah berkata: “Kami menyaksikan kebanyakan orang-orang itu mememerangi kami di perang Nahrawan bersama Khawarij”.[7]

Jadi, ketika mereka keluar dari pemahaman para sahabat Rasulullah, hal itu menyebabkan mereka khuruj (melepaskan diri) dari umat Rasulullah.

Juga cara yang ditempuh oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu saat Khalifah Ali radhiallahu’anhu mengutusnya menghadapi orang-orang Khawarij.

Mereka bertanya,”Darimana engkau?”

Beliau (Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu ) menjawab,”Aku datang dari saudara sepupu Rasulullah dan menantu beliau dan dari para sahabat. Kepada merekalah al Qur`an turun. Mereka adalah orang-orang yang lebih berilmu daripada kalian. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyertai kalian”.

Lihatlah, ‘Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mendesak pionir-pionir kaum Khawarij dengan manhaj para sahabat Rasulullah, dan menjadikan pemahaman para sahabat sebagai sumber argumentasi di hadapan mereka.

Setelah itu, melalui pergantian generasi demi generasi, ternyata kita menjumpai para ulama di setiap generasi dan abad itu, mereka bersepakat satu kata dalam masalah ini. Yaitu, keharusan memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dengan merujuk (kepada) pemahaman para sahabat, hingga pada masa kita sekarang ini.

Kita melihat ulama-ulama besar pada zaman sekarang, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; mereka semua sepakat, bahwa seorang muslim seharusnya memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi. Inilah yang disebut manhaj Salaf. Pasalnya, bila menyaksikan keadaan golongan-golongan yang ada, baik pada zaman dahulu atau firqoh pada masa sekarang ini, sangat bertentangan dengan manhaj para sahabat.
Ambil contoh, Khawarij. Perkara prinsip (yang ada) pada mereka, (yaitu) mengkafirkan para sahabat dan bahkan memeranginya. Mereka telah melakukan pemberontakan terhadap ‘Utsman, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka juga melancarkan pemberontakan kepada ‘Ali, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka memerangi para sahabat dan membunuhi dan mengkafirkannya. Bagaimana bisa dikatakan, mereka berada di atas manhaj yang sesuai dengan manhaj para sahabat Nabi yang sudah mereka perangi dan mereka bunuh?

Begitu pula, kaum Syi’ah, yang telah mengkafirkan para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang sahabat saja yang selamat dari vonis mereka. Salah seorang ulama Syi’ah melontarkan perkataan: “Telah binasa para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang saja”. Mereka selalu melaknat Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga memiliki bacaan sholawat yang berbunyi: “Ya Allah, laknatlah dua berhala Quraisy, jibt dan thaghut mereka (Abu Bakr dan Umar), yang telah melakukan tahrif (perubahan) terhadap kitab-Mu”. Bagaimana mungkin Syi’ah berada di atas pemahaman para sahabat Rasulullah?!

Atau lihat saja Mu’tazilah. Tokoh besarnya, Washil bin ‘Atha` berkomentar miring terhadap sahabat ‘Ali, az-Zubair dan Thalhah yang telah menerima kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa masuk syurga.

Ia (Washil bin ‘Atha`) berkata,”Seandainya Thalhah, az-Zubair dan ‘Ali bersaksi mengenai setumpuk sayuran di depanku, aku tidak akan menerima persaksiannya.”

Bagaimana mungkin mereka berada di atas manhaj para sahabat, sebab mereka saja menolak persaksian sahabat?!

Lihat juga pentolan Mu’tazilah lainnya, (yaitu) ‘Amr bin ‘Ubaid. (Dia) berkomentar tentang sahabat dengan berkata: “(Mereka itu) amwatun ghairu ahya` (orang-orang mati, tidak hidup)”.

Menikam dan menghina para sahabat Rasulullah! Jadi, golongan-golongan itu, banyak yang melancarkan penghinaan kepada sebagian sahabat.

Demikian pula, bila kita perhatikan kelompok-kelompok pergerakan pada zaman sekarang ini; akan kita jumpai sebagian pendiri dan tokoh-tokohnya menjatuhkan kehormatan sebagian sahabat. Ada yang menyatakannya dengan sindiran. Contoh-contohnya sangat banyak.

Coba lihat, penulis kitab adh-Dhilal (Dhilalul-Qur`an). Penulis kitab itu (telah) menghina sahabat ‘Amr bin al ‘Ash dan Mu’awiyyah. Bahkan menganggap kekhilafahan (kekuasaan) Khalifah ‘Utsman sebagai pengisi kekosongan belaka antara ‘Umar dan ‘Ali. Artinya, orang ini mengesampingkan kekhilafahan ‘Utsman.

Sebagian lagi melontarkan celaan kepada sahabat Mu’awiyyah. Sejumlah orang begitu meremehkan masalah penghinaan yang dialamatkan kepada beliau. Sebagian ulama Salaf berkata: “Mu’awiyyah adalah sitr (kain pelindung) para sahabat. Bila penutup ini sudah tersibak, maka pintu itu akan termasuki”. Maksudnya, bila orang sudah berani mencaci-maki Mu’awiyyah, maka pada gilirannya, ia akan terjerumus dalam cacian yang dilontarkan kepada Abu Musa al Asy’ari, ‘Utsman, ‘Ali dan sahabat lainnya.

Kita tidak akan mendapati golongan yang menghormati para sahabat dan mengagungkan serta menilai mereka sebagai orang-orang ‘udul (adil, bersih), kecuali Ahli Sunnah wal Jama’ah. Mereka itulah yang berjalan di atas pemahaman Salafush-Shalih, manhaj ahli hadits.

Apakah berarti golongan-golongan itu telah keluar dari agama Islam? Tidak demikian adanya.

Ibnul-Qayyim telah mengeluarkan pernyataan yang layak menjadi kaidah emas dalam masalah ini. Beliau mengatakan, syariat ada tiga macam: aturan syari’at yang munazzal (diturunkan), aturan syari’at yang muawwal (hasil takwil), dan syari’at mubaddal (yang telah dirubah). Golongan yang menjalankan syari’at yang munazzal (yang diturunkan) oleh Allah kepada Rasulullah adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Mereka itulah yang mengamalkan al Qur`an dan as-Sunnah dengan dasar pemahaman Salaful-Ummah. Sedangkan manhaj-manhaj atau golongan lainnya, kalau tidak bertumpu pada syari’at yang sudah ditakwilkan, maka berlandaskan syari’at yang sudah mengalami perubahan. Setiap golongan itu, hukumnya tergantung dengan kondisinya.

Meskipun sudah sangat jelas kebenaran manhaj Salaf ini, masih saja ada orang yang melontarkan tuduhan-tuduhan, syubuhat, keraguan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada umat Muhammad dan meneguhkan kita di atas manhaj yang benar ini.

Washallallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam.

.
– Ceramah umum yang beliau disampaikan Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali di Masjid Jakarta Islamic Centre, pada hari Ahad, 23 Muharram 1427 H bertepatan dengan 11 Februari 2007. Diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Abul Minhal.

 


 

fullsizerender-40

MEDIA – MEDIA SUNNAH NUSANTARA :

img_2784

#dakwahtauhid #dakwahsunnah #dakwahsalaf

 

Tegak diatas Hidayah, Tegak diatas Sunnah.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Hidayah, adalah salah satu bukti cinta Allah dan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hambanya. Mengapa paling besar? Karena nikmatnya terus dirasakan hingga terus sampai kepada bertemu dengan Allah. Beda dengan uang, yang tidak selalu nikmat bahkan cenderung habis maupun nikmat dunia yang unsurnya tidak akan bertahan lama (pasti akan ditinggalkan). Nikmat dari hidayah tersebut letaknya di hati. Karena, nikmatnya kita rasakan hingga menggapai surga. Hanya hidayah yang merupakan kenikmatan mencapai bahagia dunia dan akhirat. Karena semua nikmat belum tentu membuat cinta kepada Allah, justru sebagian besar adalah cobaan, yang membuat lupa terhadap Allah, dan hakikatnya, semua manusia adalah tersesat, kecuali yang diberi petunjuk. Siapa saja yang melihat aib atau kejelekan orang lain yang tidak ada pada diri kita, hendaknya kita bersyukur, karena kita diselamatkan Allah dari perkara itu. Kemudian, tutup aib itu, jangan disebar. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim di dunia, maka Allah akan tutup aibnya di hari kiamat. Allah meminta untuk selalu bersyukur dengan cara ikhlas jika telah mendapat hidayah, apapun yang kita lakukan, berikan, dapatkan harus berujung ikhlas karena Allah, jika ingin Allah cintai, karena Allah akan jaga hatinya. Jaga hati dengan segala keikhlasan. Karena amal yang paling mulia dan dicintai hanya “ikhlas”. Dan banyak ilmu juga belum menjamin jika tidak ada rasa ikhlas, karena ikhlas merupakan bagian terbesar dari seorang mukmin. Sebagai muslim sejati, kita harus berjanji agar selalu mengikuti sunnah Rasulullahi alaihi wassalam karena itu merupakan pembuktian kita mencintai Rasulullah. Mempelajari dan menerapkan semua anjurannya, bercita-cita bertemu dengannya, senantiasa bershalawat dan mengikuti kebiasaannya. Karena nabi kita merupakan teladan manusia sepanjang abad dalam sejarah di muka bumi. Jika semua sifat dan akhlak terpuji itu berbagai macam seperti jujur, murah hati, penyabar, amanah, adil, maka semua itu didapati oleh Nabi besar kita. Sunnah Rasulullah merupakan satu-satunya jalan untuk membuat ikhlas. Tidak mungkin seseorang dikatakan istiqamah dalam mendapat hidayah tanpa menegakkan SUNNAH Rasulullah. Di akhir zaman ini, kita telah masuk dalam kehidupan yang dipenuhi berbagai ujian. Yaitu Tauhid, Aqidah, perkara Bid’ah, pemahaman Islam yang bersih/murni dari penyimpangan yang mengakibatkan kabut hitam dalam hati seorang mukmin. Dikarenakan penyakit utama yaitu, tidak beradabnya kita kepada Allah, tidak beradab pula kita kepada jalan Rasulullah. Selama manusia tidak beradab, ujian akan terus ditimpakan oleh Allah. Jika kita telah banyak melihat fitnah atau perpecahan umat islam, kuncinya adalah “berpegang teguh dengan Sunnah.” Mengapa juga masih banyak yang tidak bisa ikhlas? Karena, tuntunan hidup manusia sekarang adalah jauh dan tidak berdasarkan Sunnah Rasulullah alaihi wassalam.

Rasulullah menyuruh kita agar beribadah dengan rasa cinta yang dalam terhadap Allah, karena kualitas cinta menentukan iman kita hingga dapat merasakan nikmat itu adalah kedekatan kita dengan Allah semata. Jika cinta kita masih lemah, penyebabnya adalah rasa akibat cinta kita yang masih tergantung kepada dunia. Kita bisa mendekatkan diri kita dengan Allah melalui ibadah dan mengenal nama-nama Allah (Asmaul Husna). Dengan mempertebal sabar dan keikhlasan merupakan kunci untuk meluluhkan iman. Ilmu agama adalah satu-satunya ilmu yang tidak pernah menyimpang. Poin besar dari sebab penghalang hidayah adalah karena syahwat dan syubhat. Jika ada seseorang berbicara atau meminta doakan agar segera diberi hidayah, kita harus membalas dan menyampaikan agar ia cepat bertaubat. Karena artinya, orang tsb masih cinta dunia dan belum ingin melepaskan perihal-perihalnya. Kunci dari semua kebaikan dan ibadah adalah “Cinta Allah.” dan Shalat adalah penentu amal kebaikan yang lain (paling utama) sebab ibadah yang paling pertama kali dihisab adalah jumlah shalat. Orang yang paling beriman tentu tidak akan lepas dari ilmu dan amal. Para ahlusunnah, Tidak pernah lepas dari majelis ilmu, cenderung meninggalkan hal yang banyak mudharat, menjalankan yang wajib kemudian sunnah, dan mengaplikasikan pemahaman sesuai dengan para sahabat dengan cara yang benar. Ingat, orang Islam belum tentu semuanya muslim atau beriman, karena dari 73 golongan yang ada, hanya 1 yang diridhai, dan masuk ke dalam surganya Allah swt. Jauhi diri kita dari paham takfiri, khawarij, murjiah, syiah, qodariah, jabariah, mutajiah, jamilah, dll.

Syukur dan taqwa adalah buah dari ilmu dan amal. Iman seorang mukmin, bisa dilihat dari kebersihan dan ucapan lisan, karena bersih dan lisan merupakan faktor penentu keimanan seseorang. Semangat dakwah juga merupakan buah dari hidayah Allah, karena ia menerapkan amar ma’ruf nahi munkar, membedakan yang haq dan yang bathil. Ia tidak ingin melihat orang-orang yang belum mendapat hidayah, petunjuk, dan kebenaran. Ini semua merupakan tanggung jawab dan tugas seorang muslim dan mukmin untuk memperingati saudara-saudaranya. Percaya kita melakukan ini karena Allah akan menghadap kita di akhirat dan bertanya jika kita membiarkan saudara muslim kita berada dalam kezhaliman yang nyata, bertanya juga jika ilmu yang kita miliki tidak dibagikan kepada para yang membutuhkannya. Namun jika dakwah sudah tuntas, kita ikhtiar dan serahkan kepada sang maha pembulak balik hati hambanya. Dan mereka yang tidak tahu, tidaklah berdosa, tetapi dosa mereka tidak menuntut ilmu. Maka tidak ada alasan esok jika mereka menghadap Allah, dan Allah bangkitkan mereka dalam keadaan buta karena selama hidup di dunia ia tidak mengejar petunjuk itu karena dianggap tidak penting. Padahal tauhid adalah merupakan inti dakwah dari para rasul. Dan tugas mereka sampai akhir zaman melalui kitab suci yang dibawa, tentunya Al-Qur’an yang tidak berubah sedikitpun sepanjang masa, pelengkap kitab sebelumnya. Maka para ulama adalah pewaris nabi, yang melanjutkan perjuangan para nabi. Sejatinya dunia ini adalah tempat yang diasingkan bagi para orang yang beriman, bagi orang kafir, Allah telah memberikan kenikmatan yang luas tetapi janji Allah hanya sebatas di dunia saja kepada mereka. Karena hati tersadar diasingkan di bumi Allah, namun sejatinya hati merasakan letak di kampung halaman tempat kembali pada Allah. rasul kita juga berpesan agar menjadi orang yang asing atau musafir. Seolah kita hidup hanya lewat. Beruntung bagi siapa saja yang merasa diasingkan karena menegakkan syariat Islam dan hukum Allah. Kenikmatan orang yang beriman selama di dunia adalah, ketika ibadah (khususnya ketika bisa bersujud kepada Allah di malam tahajud), kemudian setiap mendatangi majelis ilmu, tempat berkumpulnya hamba hamba Allah yang terpilih, dengan mendatangi majelis ilmu, itu merupakan kunci kita agar terus mengenal dan mendekatkan diri kita terhadap Allah. Dan di akhirat sudah tidak adalagi Al-Qur’an. Salah satu ibadah yang dicemburui oleh malaikat, yaitu kita bisa membaca ayat suci Al-Qur’an. Dan tugas mereka hanya bertasbih dan berzikir (makhluk Allah paling suci). Diantara tingkatan malaikat, manusia, hingga hewan, tentu kita berharap agar tidak seperti hewan yang hanya makan, liri-lirik betina, kemudian tidur. Jangan ikut-ikutan dan samakan kita “like an animals.” yang berperilaku sebebas-bebasnya, tanpa busana, yang membedakan adalah akal, namun akal disini dipakai untuk menuntut ilmu syar’i yang menyadarkan kita akan dibangkitkan kembali, dan dimintai semua yang telah kita lakukan. (bedanya dengan hewan).

Sunnah Rasulullah juga menentukan kita semakin bisa ikhlas dan menjauhkan diri dari terkena syubhat. Sesungguhnya Allah berada di Arsy’, tetapi ilmunya ada dimana mana. Maka tugas kita diciptakan oleh Allah adalah tidak lain untuk beribadah kepadanya. Orang yang menggantungkan nasib dan percaya diatas suatu ramalan (salah satu syubhat) adalah yang dapat merusak keyakinan, karena jauh dari Sunnah dan dekat dengan bid’ah. jadi kuncinya harus selalu minta hidayah agar terhindar dari syahwat dan syubhat. Hidayah itu bagikan rezeki, yang harus terus dicari dan dikejar, walaupun orang tsb tinggal di pedalaman manapun adalah hak (fitrah) karena kita dikasih pilihan oleh Allah untuk menjadi orang yang beriman atau kufur, selama kita berada di dunia. Semua manusia dalam keadaan lahir diberikan perangkat/fitrah beriman kepada Allah, baik dalam keadaan nasrani, yahudi, budha, dll walau dilahirkan dr seorang musyrik, ia adalah tetap islam, jika ia meninggal langsung masuk surga (bayi) dan berlangsung terus hingga dirusak oleh orangtuanya dari kebenaran. contoh: SALMAN, dari persia yang berhasil mendapati jejak kebenaran walau ia berjuang sendiri dari keluarganya yang kufur, tetapi ada juga Abu jahal, adalah paman nabi Muhammad yang dalam islam tetapi dia dalah menjadi kufur karena menolak kebenaran (sombong). Rasul-rasul diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia. dan semua orang kafir meyakini bahwa mereka atau bumi diciptakan oleh Allah, tetapi mereka menolak ketika disuruh meninggalkan sesembahan. Serta mereka juga belum mempelajari dan menamati aqidah ahlusunnah wal jama’ah, karena islam adalah penyempurna agama-agama sebelumnya. Sama seperti nabi Muhammad, adalah sebagai penutup para nabi dan rasul sebelumnya.

Sunnah Rasul adalah ajaran nabi, yang membuat merindukan ummatnya, walaupun yang belum pernah ia temuinya (kita). Disebutkan juga adalah saudara beliau, dengan tanda-tanda wajah yang akan bercahaya karena bersahabat dengan sunnah Rasul. Inti dari hijrah bukan pada penampilan. Yang pria memelihara janggut, dan memakai celana diatas mata kaki. Yang wanita berhijab secara syar’i, bukan hijab jahiliyah. Karena jika menganggap inti dari penampilan saja, makan itu penyebabnya dari tidak istiqamah untuk berlanjut. sehingga mengakibatkan susah pula menggapai keikhlasan, dan tawadhu’ (kerendahan hati atas segala kelebihan yang telah dimiliki). Jadi intinya, terdapat pada Aqidah, tauhid, dan amalan hati. PR besar ummat muslim adalah menata hati secara bersih, sebening mata air; Ibadah, shalat, dakwah, dzikir, bersih dari hasad, tersentuh saat saudaranya dibantai, dll). Jika ada yang mencaci, menyinyir, atau membully, itu semua sudah ada semenjak zaman nabi Nuh, ketika ia berdakwah selama 950 tahun, orang orang begitu jahil dan sombong seraya menutup telinga hingga menutup wajah memakai pakaian mereka. Tetapi kunci beliau, tidak mengajak berkelahi selama dizhalimi, ia dakwah terang-terangan, dan secara 4 mata. “Istighfarlah kepada Rab-Mu”. Semua manusia hakikatnya sedang diuji untuk melihat siapa saja yang bertahan dan siapa yang hanya jlan demi kepentingan dunia saja. surga disiapkan bagi orang-orang yang tidak ingin tampil di dunia, tidak mau menikmati tipu daya dunia, tidak menikmati keindahan diri yang didapat, tidak gila hormat, dan disambut atau dihargai oleh orang, tidak ingin menjadi populer dan terpandangan dihadapan orang banyak. hanya bagi mereka yang merendah hati. maka jika populer, jangan senang. Orang yang tidak suka popularitas, akan menjadi populer sendirinya, karena ilmu-ilmunya atau jasa-jasanya yang disampaikan atau diberikan kepada orang banyak sehingga orang itu akan selalu mengingat dan menggunakan kembali, maka orang lain pun akan tahu sendiri bahwa orang tersebutlah yang telah memberikan pengaruh terhadap orang banyak.

Diambil dari rangkuman kajian ust. Djazuli, Lc – Al-Jannah, tentang sebab-sebabnya penghalang seseorang dari hidayah:

1). Tidak mengenal agama / bodoh terhadap ajaran Islam.

Karena yang membedakan adalah otak dan hatinya. (Al-Kahfi : 68) “Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

2). Hati yang sakit. (Al-Anfal : 23)

(Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan pada mereka) bakat yang baik di dalam mendengarkan perkara yang hak (tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar) dengan pendengaran yang disertai pemahaman. (Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar) sebagai perumpamaan, karena Allah telah mengetahui bahwa tidak ada kebaikan dalam diri mereka (niscaya mereka pasti berpaling juga) dari perkara yang hak itu (sedangkan mereka memalingkan diri”) dari menerima perkara hak yang mereka dengar itu karena keras hati dan ingkar.

3). Sombong, Dengki, Iri / Hasad. (Al-Baqarah : 146)

(Orang-orang yang Kami beri Alkitab mengenalnya) Muhammad (sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri) karena disebutkan ciri-cirinya dalam kitab-kitab suci mereka. Kata Ibnu Salam, “Sesungguhnya ketika aku melihatnya, maka aku pun segera mengenalnya, sebagaimana aku mengenal putraku sendiri, bahkan lebih kuat lagi mengenal Muhammad.” (Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran) maksudnya ciri-cirinya itu (padahal mereka mengetahui) keadaanmu dan siapa kamu yang sebenarnya.

4) Jabatan dan Pangkat sebagai Tujuan, bukan sarana Ibadah. (Al-Mu’minun : 47)

(Dan mereka berkata, “Apakah pantas kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga, padahal kaum mereka adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”) yakni kaum Bani Israel; mereka tunduk dan dianggap hina oleh Firaun.

5) Terlalu Mencintai Dunia, Terutama Harta. (Al-Ahqaf : 32)

(Dan orang yang tidak menerima seruan orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi) artinya ia tidak akan dapat melemahkan Allah dengan cara lari dari-Nya sehingga ia selamat dari azab-Nya (dan tidak ada baginya) yakni bagi orang yang tidak menerima seruan itu (selain Allah) (pelindung-pelindung) yang dapat menolak azab Allah daripada dirinya. (dalam kesesatan yang nyata”) jelas sesatnya.

6) Terlalu mencintai keluarga secara berlebihan (Takut dijauhi keluarga karena mengenal Islam) Terlalu mencintai tanah air (Pancasila, UUD, dll-> Thoghut). Karena sumber hidup manusia adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kita cinta tanah air karena tidak dibelenggu oleh teroris, sehingga kita bisa menuntut ilmu, dan beribadah dibawahnya dengan aman. Kita cinta akhirat karena adalah tempat kita kembali yang menentukan, yang sifatnya abdi, bukan sementara.

Diambil dari rangkuman kajian ust. Abu Islama Aminuddin, Lc, MA – Al Jannah, cara kita senantiasa beradab kepada Allah:

1). Menjalankan semua ibadah kita hanya untuk Allah.

Mewaspadai diri dari syaithan yang memalingkan keikhlasan diri kita saat ibadah thd Allah (tidak khusyu). Barangsiapa yang setiap nafas dikeluarkannya selama hidup adalah karena dan hanya untuk Allah (ketaatan kpd Allah) maka buahnya akan manis ketika dipetik. Sebaliknya jika nafas yang dikeluarkan karena bnyak kemaksiatan maka buahnya adalah pahit (ketika dipetik di hari kiamat). Selama hidup wajib seorang muslim mempelajari “Maa Rabbuka?” hakikatnya segala yang dilakukan karena dan untuk Allah bukan hanya di perihal shalat saja atau agama dijadikan musiman (shalat ikut shalat, ramadhan ikut puasa, hari raya hanya formalitas, dll. tanpa diperdalam secara menyeluruh dlm aspek kegiatan hidup).

2). Mengagungkan Allah, memuliakan Allah.

Yang dituntut hanya semua orang muslim, karena orang kafir tidak akan pernah memuliakan Allah, dan orang kafir adalah orang yang paling jahil. Kecerdasan berikutnya adalah dengan tidak pernah mengeluh dan bersyukur atas segala kenikmatan walau hanya dengan melihat kenikmatan seorang pedagang yang memotong daging. bersyukur dari bangun tidur, dari hari-hari yang diberkahi. satu sendok makan suami terhadap istri adalah sebuah sodakoh. Jangan pernah luput dari ucapan terimakasih walau sekecil apapun tawaran kebaikan.

3) Menanamkan Rasa Takut Kita Terhadap Allah.

Termasuk adab yang mulia. Kemenangan hanya berdasarkan ilmu dan iman. Tugas kita hanyalah terus belajar, tidak pernah takut dengan ancaman orang kafir, karena jika kita merasa takut, sama halnya dengan kita tidak percaya kepada Allah, hilang rasa takut kita kepada Allah, maka justru akan mudah dikuasai orang kafir. Orang-orang Ummul mukminin terdahulu banyak diwafatkan oleh Allah karena memang hakikatnya kehidupan orang yang beriman dan mukmin sejati bukan di dunia (tempat singgah dan lewat saja). Kemudian penyakit lemah, yaitu takut mati.

4) Mencintai Allah Melebihi Segalanya.

Allah bersih dari segala kekurangan (Maha Sempurna). Jika pasangan kita meninggalkan kita saat bekerja dan luput dari kita, masih ada Allah yang 24 jam mengawasi dan melindungi kita. Karena Allah maha lembut, maha kasih, ia berikan kita terus kenikmatan hidup walau banyak dosa, maka terkadang kita akan merasakan teguran berupa rasa penyakit. Karena azab di akhirat adalah lebih dahsyat pedih. Siapa saja yang berjalan untuk menuntut Ilmu ia adalah sedang berjalan di jalan Allah hingga ia kembali; orang-orang yang apabila ia berbuat dosa atau menzalimi diri sendiri ia langsung ingat dan bertaubat terhadap Allah, beristighfar, dan memohon ampun adalah ciri ciri orang yang bertakwa. Meninggalkan yang Allah larang, menjalankan yang diperintahkan adalah bukti kecintaan kita terhadap Allah. Sedangkan orang munafik, menyebut nama Allah hanya sedikit, jikapun mereka beribadah hanya karena untuk dilihat orang lain saja (tidak ada keikhlasan).

5) Bertawakal Kepada Allah.

Zaman ini, orang banyak berserah diri thd orang lain, diri sendiri, atau pasangannya, maupun apa saja kepunyaannya, tidak kepada Allah. Tawakal adalah menyerahkan seluruh perkara atau urusan dan bersandar kepada Allah setelah kita berikhtiar. Ini juga merupakan hasil dari seorang mukmin yang mengenal Allah. sifat orang yang beriman, kurang sempurna jika tidak bertawakal sepenuhnya. ( Al-Maidah : 23) jika benar-benar tawakal akan dicukupkan kehidupannya, jika tawakal setengah-setangah, maka dicukupkan pula ia hanya setengah-setengah. Kelompok orang yang mencari ilmu : a. Ingin mendapat ilmu = Allah kasih ilmu. b. Datang dengan malu-malu / fikiran banyak alasan = Allahpun malu kasih ilmu. c. Berpaling dari ilmu, (hanya mengetes spt apa majelis ilmu) = Allah tidak berikan ia ilmu samasekali.

At – Talaq : 3

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

berpurdah.jpg

FullSizeRender (32).jpg