Saling Mencintai Karena Allah adalah Perkara yang Sangat Langka Lebih Langka dari Emas ♥

Oleh ustadz Abu Usamah Syamsul H, Lc –

Diambil dari kajian akhwat @Al- Jannah, Jakarta Selatan

.

Bismillahirrahmanirrahiim

Dalam berumah tangga, sebagian pihak selalu menuntut yang haq daripada kewajiban. Seharusnya muamalah seperti ini adalah salah, sama seperti meminta terus kepada Allah (haq-Nya) tetapi kewajiban terhadap Allah tidak dijalankan. Siapa yang meminta terus haq tanpa ada kewajiban terhadap Allah, maka akan terputus hubungan dengan Allah (tidak harmonis). Setiap pekerjaan atau pelayanan seorang istri terhadap suaminya sama seperti dengan jihad di jalan Allah. Kemudian beberapa kiat cara memperbaiki keluarga untuk menjadi samawa adalah dengan cara :

1. Taubat dan Istighfar

Masalah terjadi karena disebabkan adanya Dosa. Dengan adanya masalah adalah untuk menghapus dosa itu dengan langsung taubat / istighfar kepada Allah dan perbaiki hubungan kita dengan Allah. Maka dengan sendirinya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan pasangan kita.

Ketika suami sedikit berubah, hal yang pertama yang harus dilakukan adalah ber-istighfar bukan berburuk sangka / suudzon. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh kaum wanita terdahulu (salaf) yang senantiasa mengingatkan suaminya dalam perihal ketaatan kepada Allah.

2. Ijtihad Ibadah

Yaitu, perbanyak ibadah secara umum, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah. seperti Berzikir, membaca Al-Qur’an, maupun bersedekah. Melaksanan puasa, shalat sunnah, bersilaturahmi, dsb. Kita juga bisa membuat rumah adalah ladang pahala, selain menjalankan kewajiban dan tugas sebagai seorang Istri, kita hadirkan rumah adalah suasana taman surga dan gudang ilmu, seperti membuat perpustakaan mini, atau mendengarkan ceramah maupun murrital ayat-ayat suci Al-Qur’an, agar senantiasa rumah selalu nyaman dan aman dalam menjalankan ibadah, menjauhi hal-hal yang dilarang dalam agama seperti memelihara binatang yang haram, memasang gambar yang dilarang, dan menjauhi tontonan yang tidak bermanfaat dan juga menjauhi suara-suara nyanyian / musik, merupakan salah satu pintu keberkahan rumah dan selalu didatangi dan dihadiri oleh malaikat pembawa rahmat. Aamiin.

3. Mempertebal Keikhlasan

Kita harus dapat belajar ikhlas dari segala kekurangan pasangan dengan cara bersyukur. Karena jika kita meninginkan yang sempurna adalah dengan cara dibentuk bukan dicari. Bukankah kita harus saling melengkapi antara kekurangan yang ada pada pasangan kita? Kecuali ada hal-hal yang memang tidak bisa ditolerir, apalagi jika sampai batas melanggar dan keluar dari perintah maupun hukum Allah. Salah satu tujuan pernikahan selain menyempurnakan separuh dari agamanya adalah untuk saling menyempurnakan, karena Istri juga bukan Bidadari. Dan karena pernikahan adalah sunnah nabi, pasti akan ada kekurangan, tidak ada yang sempurna seperti kehidupan yang abadi di Surga, justru dengan pernikahan adalah jalan untuk sama-sama memperjuangkan cintanya bukan hanya sebatas di dunia saja, melainkan hingga Surganya Allah.

Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-An’am : 162 bahwasanya Shalat, Ibadah, Hidup dan Mati hanya untuk Allah semata. Maka niat yang harus ada dalam sebuah ikatan pernikahan adalah ikhlas untuk mencari Ridha Allah, bukan ridha Manusia.  Maka semua gerak-gerik dalam berumah tangga jika didasari dengan keikhlasan semuanya akan menjadi pahala, terlebih akan menyelamatkan diri ketimbang tidak menikah. Terutama menyelamatkan 3 hal yaitu; pandangan, perut, dan kemaluan. Ini merupakan hal duniawi yang wajib dipenuhi wanita kepada suaminya. Jadikanlah pasangan atau anak adalah anugerah atau boneka yang Allah titipkan kepada kita. Insya Allah cinta yang diawali dengan ketulusan dan dari Allah (setelah pernikahan) akan diakhiri dengan kebahagiaan. Dan salah satu ciri wanita ahli surga selain memiliki banyak anak adalah yang dapat atau ahli dalam membangkitkan syahwat sang suami, maka seorang wanita dianjurkan berhias hanya untuk suami saja.

4. Isti’anah

Yaitu, meminta tolong kepada Allah, mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada Rabbnya, dan menyerahkan seluruh perkara kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya.

Isti’anah seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 4).

Kita bisa mencontohi suri tauladan para Ibunda atau Istri Nabi (Ummahatul Mu’minin) Seperti Khadijah yang dapat salam langsung dari Allah, kemudian Aisyah mendapat salam dari Jibril, bosnya para malaikat dan malaikat yang paling mulia karena disibukkan dengan wahyu. Sama halnya dengan manusia terbaik di muka bumi yaitu baginda Rasulullah karena ia disibukkan oleh wahyu dari Allah.

FullSizeRender (9)

FullSizeRender (1)

“Aku mencintaimu karena Agama yang ada agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu.” – [ Imam Nawawi ]


Bagaimanakah kiat-kiat memilih kriteria calon pasangan yang baik dan benar?

Oleh Ustadz Subhan Bawazier

Diambil dari kajian “Daurah Cinta” – Masjid WTC Jendral Sudirman, Jakarta Selatan

FullSizeRender (4)

Kriteria Memilih Istri :

  • Menaati agama dan mencintainya

Yaitu, menjadikan taat kepada Allah dan cinta kepada Allah, gemar membaca Al-Qur’an, ayat kursi yang terus dikumandangkan memiliki pengaruh kepada hasil kebaikan rumah tangga. (Diberkahi, dirahmati, dan diridhai Allah)

Qs. An-Nisa : 34 -> Wanita yang shalihah yang taat kepada Allah dimana ketika suami sedang pergi, ia tinggal di dalam rumahnya.

  • Tidak mengenal kata – kata yang tercela, kata-katanya selalu terjaga karena hatinya yang bersih (didasarkan oleh lingkungan disekitarnya) pendengaran yang baik, maka keluar yang baik, selalu melihat hal yang baik /  positif
  • Bersabar, tidak gampang bersedih (tegar) Karena dalam berumah tangga akan diuji. Islam melindungi perempuan, lewat suaminya. Karena jika wanita keluar dari rumahnya, ia diikuti oleh syaithan.
  • Tidak meremehkan dosa, Ujian membuat seseorang lebih cerdas, kreatif, dan menginspirasi (tidak gampang mengeluh) jika dapat mengambil hikmah dari masalah yang dihadapi agar tidak terulang masalah yang sama, dan pengukur ketaatan kepada Allah.
  • Berakhlak Mulia, baik dalam ilmu maupun perbuatan. Bahwa yang menjadikan lemah lembut ialah karena ilmu dan amal yang telah dipelajari sebelum menikah.
  • Tidak suka ghibah. Menceritakan tentang orang lain terhadap suami terutama temannya sendiri karena akan kerap menimbulkan sesuatu yang membawa kepada hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya menceritakan ilmu yang telah didapatkan saja setelah selesai dari majelis ilmu atau hal-hal yang bermanfaat.
  • Tidak suka melihat aurat perempuan lainnya. Karena hal ini juga tetap bisa menjadikan fitnah. Kecantikannya hanya diberikan kepada suaminya, berdandan hanya di dalam rumahnya, menutupi dan menundukkan pandangannya kepada selain suaminya.
  • Taat kepada suami, tidak bermaksiat kepada Allah, bisa menjaga dirinya dengan baik, kemudian tidak gampang meminta cerai karena hukumnya haram dalam islam.
  • Tidak melepas pakaian atau hijabnya selain di dalam rumahnya.
  • Lihat agama dari teman-teman dekatnya untuk melihat pergaulannya
  • Yang bisa membantu suami untuk menaati Allah untuk mendatangkan kebaikan, dapat mendidik anak dengan baik. Dimana ketika tidak keluar dari syariat Islam, keindahan rumah tidak akan hilang.
  • Gemar bersedekah di jalan Allah untuk bekal amal jariyah di alam akhirat mendatang

FullSizeRender

Kriteria Memilih Suami :

  • Berjiwa pemimpin, yaitu seorang muslim yang beriman
  • Yang penuh kelembutan, baik terhadap Ibunya, anak-anak perempuannya, saudari-saudarinya, terutama Istrinya. Karena laki-laki yang paling baik adalah yang paling lembut terhadap mereka.
  • Dalam mendidik atau mendakwahi harus stetp by step, tidak langsung main dalil atau selalu langsung melontarkan hukum kemudian jadi hakim, artinya pelan-pelan dalam mendidik, karena orang beriman yang kuat adalah yang mampu bersabar dan jauh dari perbuatan keras atau kasar.
  • Memiliki Ilmu dan yang Mengamalkannya, karena pengamalan adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada pada kebaikan dan ketaatannya kepada Allah
  • Cari tahu hubungan dia dengan ibunya / adik / kakak perempuannya, maupun saudari2nya, karena pentingnya sebuah akhlak yang ada pada dirinya. Dan Nabi melarang menikahi seorang laki-laki yang keras (suka memukul terhadap perempuan) Orang yang suka memukul dan berteriak-teriak terhadap mereka adalah tidak lain dipenuhi dan telah dikuasai syaithan.
  • Memperoleh rezeki dari yang halal agar membuahkan hasil Rumah Tangga yang baik, menjauhi perkara yang berhubungan dengan Riba, karena setiap yang haram tidak akan mendatangkan kebaikan, dan memberi pengaruh terhadap anak-anak mereka.
  • Mengenal Ulama, karena seorang lelaki yang baik, benar dan bertanggung jawab adalah bentuk dari terbingkainya ia mendidik dam membangun keluarganya dengan Ilmu. Jika ada masalah yang ia tanyakan pertama adalah kepada para ulama, bukan kepada yang tidak memiliki ilmu dalam halnya.
  • Ketika mendapatkan ujian atau musibah, ia selalu bersabar dan istighfar (jujur dalam segala hal) agar selalu ditetapkan dan diberi keberhakan serta kecintaan Allah yang tidak hilang darinya. Sebaliknya, jika ia tidak mampu dan berkeluh kesah dalam ujian yang dihadapi maka khawatir mrka atau kemungkaran yang akan diperoleh.
  • Tidak menduakan Ibunya, karena seorang lelaki yang telah menikah ia masih memiliki kewajiban untuk berbakti kepada sang Ibu.

Demikianlah semua orang mendambakan dan mengimpikan suatu keluarga yang penuh dengan keindahan, kebaikan, dan kenyamanan, serta dipenuhi dengan nilai Islam. Tetapi mengangankan itu sangat jauh, karena Kematian lebih dekat dari sendal jepit yang digunakan. Dunia bukan tempat yang baik, namun Allah memasukkan hamba-hambanya ke dalam surganya bagi orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Semoga kita semua diberi jalan dan pilihan yang terbaik menurut Allah, dilancarkan dan dimudahkan dalam ikhtiar kita, dan diberi petunjuk dalam langkah kita untuk senantiasa berada pada ketaatan dan berpegang teguh diatas sunnah Nabi salallhu’alaihi wassallam hingga diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah dan dikembalikan bersama orang-orang yang kita cintai. Semoga kita semua dapat pulang ke kampung halaman dengan selamat. Aamiin yaa Rabbal Alamiin…

FullSizeRender (6)

FullSizeRender (7)

FullSizeRender (8)

BUDAK HAWA NAFSU

Bismillahirrahmanirrahiim..

Diambil dari rangkuman kajian akhwat, yayasan Al-Jannah 16 Februari

– ustadz Dzajuli, Lc

Apa itu hawa nafsu? perlu kita ketahui, yang berhak menilai apa itu hawa nafsu, harus berdasarkan dalil. Bukan akal atau perasaan. Hawa nafsu, adalah kecenderungan hati, untuk bisa menikmati segala keinginan hati, tanpa didukung dan dibenarkan oleh syariat islam. Hawa nafsu merupakan setiap hal yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu’Alaihi Wassallam, baik berupa perintah, larangan, ibadah, dan ketaatan. Baik dalam hati / lisan yang dilakukan, dan petunjuk yang menyelisihi serta bertentangan dengan petunjuk nabi walaupun orang itu menganggap itu baik. [Ibnu Taimiyah]

Dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat ke 50 : “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Allah menjelaskan, jika mereka tidak mengikuti petunjuknya, berarti mereka mengikuti hawa nafsu mereka, karena Allah menyuruh hidup kita di dunia hanya untuk beribadah kepadanya. Dengan cara, mengisi hidup dengan ikhlas dan dengan sunnah. Baik dalam beribadah, bermuamalah, bersosialisasi, berpolitik, berumah tangga, mendidik, dan lain sebagainya. Sesuatu dikatakan ibadah, apabila adanya ikhlas dan sesuai sunnah, berdasarkan dalil dan pemahaman para sahabat. Allah tidak melihat harta, tetapi amal yang dari hati (sesuai kecintaan kita terhadap Rasulullah). Ibadah hati itu tidak pernah berhenti pahalanya, maka itu yang membuat kita harus selalu cinta dan takut hanya kepada Allah. Dan ini adalah ciri-ciri orang yang memiliki hati yang sehat. Allah memuliakan manusia untuk orang yang bertakwa dan istiqamah di jalan sunnah.

Mengapa nabi selalu konsisten dalam beribadah hingga akhir hayatnya? Karena Nabi memiliki hati yang sehat (lihat awal surat dari An-Najm 1-4) “Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” Lalu mengapa kita wajib mengetahui betapa pentingnya melawan hawa nafsu? yaitu, agar kita selamat dari Virus Kebodohan dan Penyakit Hati (hawa nafsu). Karena akal dan nafsu seorang mukmin akan tunduk pada wahyu. Adapun orang munafik, wahyu dipaksa tunduk pada akal dan nafsunya. Dengan kata lain penyakit hawa nafsu itu kebanyakan diderita oleh orang-0rang yang tersesat, tidak tunduk pada wahyu, dan tidak memiliki keimanan, seperti kaum kuffar. Sejatinya, mereka tidak mengetahui ajaran hukum syariat islam yang sempurna karena sudah dikuasai oleh penyakit hawa nafsu (tunduk kepada keinginan hati). Hal ini tentu saja penyebab utama kerusakan manusia dan kerusakan hati, yang dimana akan menyebabkan jauh dari hidayah Allah. Karena Allah telah menciptakan fitrah hati untuk bisa beribadah kepadanya. Seorang mukmin sejati, akan selalu merasakan nikmat dan lezatnya  sebuah keimanan, sebagaimana orang kafir dan munafik menikmati nikmat dan lezatnya sebuah maksiat. Akan tetapi, penyakit hawa nafsu jauh lebih bahaya dan mematikan hati daripada penyakit syahwat kebodohan, maksutnya adalah suatu hal yang dianggap baik tetapi tidak berdasarkan petunjuk dari Rasulullah, adakala orang-orang seperti ini akan sulit untuk bertaubat kepada Allah, daripada orang yang bermaksiat karena sebuah dosa yang jelas itu mereka tau berdosa apabila melakukannya seperti berbuat maksiat. Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata, Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Seseorang sangat mungkin bertaubat dari maksiatnya, tetapi sangat sulit bertaubat dari perbuatan bid’ahnya.” – Dalam Majmu’ Fatawa  X/9

Perbuatan Bid’ah (Mengadakan sesuatu tanpa ada contoh) dalam beribadah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah / mengadakan perkara hal baru dalam beribadah ini hukumnya haram, karena yang ada dalam Islam itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah). Rasulullah telah bersabda “Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut maka perbuatannya tertolak.” – HR. Bukhari

Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda :

Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara BARU DALAM AGAMA, karena sesungguhnya SETIAP BID’AH adalah SESAT”. [HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

Dan perlu diingat agar untuk hati hati dari terkena Dosa jariyah (mengalir terus walau sudah meninggal) gara-gara mengajarkan bid’ah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”- HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”

Darisini, jelas kita mengetahui bahwa pengikut hawa nafsu itu sendiri yang dinamakan budak hawa nafsu, artinya selalu tunduk pada keinginan hatinya bukan pada wahyu Allah. Maka itu betapa penting sekali Islam dalam mengajarkan akhlak yang baik dan kesabaran yang tinggi. Kaerena puncak dari keislaman seseorang itu bukan berdasarkan panjangnya atau lebarnya hijab saja, tetapi keikhlasan hati. Dalam surat Al-Furqon ayat 43 : “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”

Maka bisa kita lihat, yang suka mengikuti hawa nafsu tanpa dalil atau prerkataan Nabi, maka ia penyembah hawa nafsu atau budak hawa nafsu. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan se-pengetahuannya. Dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Jasiyah : 23)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An-Naziat : 40-41)” Maka begitupun sebaliknya. Hawa nafsu adalah pendorong nomor satu terkuat untuk berbuat maksiat. Ini adalah sumber keburukan dan malapetaka serta musibah, yang terjadi dan diawali oleh sebuah “hawa nafsu”. Maka semua masalah / malapetaka / fitnah adalah sebuah bencana yang terjadi akibat kelalaian dari tunduk kepada petunjuk Rasulullah, baik maksiat, maupun bid’ah. Darisini, kita tentu mengetahui bahwa jalan sunnah adalah sumber kesuksesan terbesar untuk mencapai rahmat dan keridhain Allah bukan hanya sekedar di dunia, tapi hingga jalan menuju kembalinya kita nanti. Kita hidup berawal sendirian, banyaknya manusia kerabat atau keluarga jika tidak berdasarkan petunjuk Rasulullah, tidak akan menjamin kita selamat di hadapan Allah kelak, karena kita akan menghadapnya sendirian bersama amalan dan perbuatan yang telah kita lakukan selama di dunia. Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu, akan Allah jauhkan hati mereka dari hidayah. Mari kita lihat firman Allah betikut ini; “Dan begitupula kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.” (Qs. Al-An’am : 110).” Tentu bagi orang yang meiliki iman, akan sangat takut setiap mendengarkan firman Allah yang nyata ini.

“Semua nikmat yang tidak menyebabkan anda semakin dekat dengan allah adalah bencana.” -H. Abu Hazim Rahimahullah Uddatu asshabirin1/104.

Kebodohan atau maksiat cinta dunia untuk bisa bertaubat masih lebih bisa dilakukan ketimbang hawa nafsu terhadap Bid’ah tersebut yang disebabkan menumpuknya syubhat di dalam dirinya. Apapun perkataan digunakan untuk mengakali pembangkangan wahyu. Kita sebagai muslim harus menyerah pada wahyu, bukan menolak. Karena pola pikir ditentukan dari langkah awal. Ada kisah pada zaman Rasulullah seorang sahabat mundur di medan perang hingga tiga kali yang awalnya ia ingin mengikuti Rasulullah, tetapi ia banyak keraguan, hingga lama lama ia selalu ragu akhirnya iapun tidak ikut lagin ke medan perang. Pada saat itu Rasulullah menyampaikan kepada istrinya lelaki tersebut agar untuk tidak melayani suaminya, maka istrinyapun lebih ingin menanti nanti ditegur oleh perkataan Rasulullah itu dan mengikuti permintaan Nabi. Masya Allah, betapa pentingnya kita harus mengikuti tuntunan beliau. Apalagi di zaman sekarang ini yang mana kaum muslimin sudah banyak terjadi perpecahan, karena jalan satu satunya yang dapat menyelamatkan muslim sejati adalah jalan as-sunnah / khulafaa-ur Raasyidiin agar mendapat jaminanterhindar dari berbagai fitnah dan perpecahan. Manfaatkanlah sunnah untuk mendapatkan hidayah. Karena sesungguhnya menjalani hidup dan beribadah dibawah sunnah terasa nikmatnya daripada kita hidup bersama firqah lain yang sesat. Menjauhkan segala macam bentuk kesyirikan agar terhindar dari syubhat, meninggalkan segala macam perbuatan yang dilarang agar tidak terkena penyakit hawa nafsu, maka hati ini akan senantiasa sehat. Tentunya kita bisa melihat nikmat sunnah di awal hingga akhir. Untuk melihat hasil akhir dari perjalanan sunnah kita apabila kita memulai meninggalkan dunia, apakah kita dalam keadaan khusnul khatimah, atau dalam keadaan suul khatimah. Semoga Allah menyelamatkan amal kita.

Penyakit hawa nafsu juga seperti penyakit Rabies yang ditularkan oleh seekor anjing. Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

Dan sesungguhnya akan muncul kaum-kaum dari umatku yang hawa nafsu mengalir pada mereka sebagaimana penyakit anjing gila mengalir pada penderitanya. Tidak ada satu urat dan persendianpun melainkan dimasukinya.”

Maka, sama halnya penyakit hawa nafsu juga merupakan penyakit yang menular, jika anjing mengigit manusia, maka susah untuk disembuhkan. contohnya, terlanjur berguru kepada guru yang salah. Karena dalam belajar ilmu agama bukan berdasarkan pendapat manusia, tetapi belajar agama dalam sunnah harus sesuai dalil. Jika kita menyampaikan hal yang bertentangan, tentu konsekuensinya akan sangat berat di akhirat nanti, apalagi jika menularkannya terhadap orang banyak. Berguru harus sesuai mazhab, bukan berdasarkan suka atau tidaknya terhadap tampilan luar gurunya atau perilakunya. Karena ilmu dan kebenaran ditentukan oleh dalil. bukan oleh karakter atau sifat guru tersebut, apalagi berdasarkan banyaknya jumlah pengikut.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38).

Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116)

Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang.

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187)

Malah kebanyakan orang adalah fasik.

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102)

Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit.

وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40).

Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220).

Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada.

Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah).

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah,).

Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103).

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116)

Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

Ciri-ciri guru yang bermanhaj lurus adalah, ia tidak gemar mencaci pemerintah. Dan jika ingin melawan musuh Islam, kuncinya harus kembali kepada agama sesuai sunnah, karena dari cara shalat saja masih banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Padahal amalan yang pertamakali ditimbang di akhirat adalah amal shalat. Bagaimana jika selama ini shalat kita salah? Bagaimana ingin mendirikan tauhid jika kita tidak mengenal aqidah? Lahaula walaa quwata illabillah, bagaimana kita melindungi keluarga kita dari api neraka lantas kita langsung ingin menuntut pemerintah? Karena sejatinya perubahan dimulai dari diri sendiri, jika ingin khalifah seperti Umar, rakyatnya harus seperti umar pula. Apabila Allah kasih pemimpin yang zhalim maka itu adalah akibat dari dosa dan perbuatan kita sendiri, karena pemimpin adalah cerminan dari rakyat. Allah sudah menjanjikan kebangkitan islam apabila kita tunduk pada wahyunya dari segala macam bentuk kesyirikan.

Beberapa hal yang dapat menyembuhkan penyakit hawa nafsu :

  1. Mangikuti Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf (ini adalah  obat yang paling manjur) dan Al-Qur’an sesuai pemahaman para sahabat (Obat manjur yang bersifat umum)
  2. Dari Ibnu Tayyim : Pertama, Ilmu yang dituntut harus sesuai dalil yang shahih (perkataan dari nabi) apabila tidak menemukannya, maka jangan diterima dan tinggalkanlah (untuk menghindari syubhat). Kedua, menghayati ketika sedang membaca Al-Qur’an, mentadabburinya. Karena setiap ilmu agama yang sesuai dengan dalil akan membuat hati menambah keimanan dan takut kepada Allah. Maka jika semakin bagus, ini adalah modal yang kuat untuk mendorong penyakit hawa nafsu. Dan jika semakinj takut kepada Allah akan dibukakan pintu untuk melihat kehidupan akhirat jauh daripada dunia. Yang ketiga, jika ingin mencintai sunnah tidak boleh malas, harus selalu punya semangat. baik dalam mengaji, semangat menuntut ilmu syar’i, ibadah harian, dimana ketika semua orang sibuk menggapai kejayaan dan kecintaan dunia, kkita justru beramal untuk kehidupan akhirat. Do’a agar selalu diberikan semangaat dalam menuntut ilmu: “Allahumma as-aluka al azimata ala rusydi” artinya, ya Allah aku mohon kepadamu semangat dalam mengamalkan agamamu.
  3. Sabar dalam ketaatan, maksiat dan musibah.
  4. Berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar; tidak takut cela, dan berani tanggung resiko untuk berjalan diatas sunnah.
  5. Selalu memikirkan dampak untuk kedepan dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu hal
  6. Berusaha menikmati ketaatan sebagaimana dahulu menikmati kemaksiatan (contoh: nikmat mendengarkan musik >< nikmat ketika mengaji / beribadah) hawa nafsu akan selalu terpicu, jika selalu diimbangi atau terus tidak berhenti dari perbuatan maksiat. syirik identik dengan tak jauhnya dari zina dan bentrokan. Karena syair maksiat yang tidak membawa manfaat akan memasuki telinga dan mengakibatkan akal rusak dan cenderung menjadi penyakit hawa nafsu, didorong untuk melakukan keinginan hati tersebut dalam perbuatannya. contoh lain kerusakan rumah tangga. Dalam islam berumah tangga tidak ada artinya jika tidak dibingkai dengan ilmu, jangan heran melihat lelaki hidung belang yang hakikatnya masih sejati bermain wanita. faktornya sederhana, karena tidak memiliki keimanan. akibatnya ia tidak menganggap shalat atau ibadah adalah sarana penyempurna agama. Jika dengan Allah dan Rasul saja yang hukumnya wajib untuk ditaati berani untuk ditinggalkan, jangankan dengan seorang manusia. Maka dalam Islam, menikah sangat tidak layak jika hanya karena berdasarkan cinta. Karena tujuan seorang mukmin tidak hanya berakhir di bahagia di dunia, tetapi untuk saran mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, dalam Islam menikah sangat dianjurkan agar menjaga kehormatan diri dan membantu diri agar terjaga dari pandangan yang haram.
  7. Banyak merenung / bermuhasabah dan menghayati ayat-ayat Allah (contoh buku yang sangat bagus untuk dibaca : Ayat – ayat Allah pada tubuh manusia.
  8. Memikirkan hakikat untuk apa kita hidup, karena Allah memerintahkan hidup hanya untuk beribadah kepadanya, dan dunia adalah sarana untuk menuju kepadanya. Kita diciptakan untuk kembali, kesempatan hanya sekali, jangan sampai kita lewati ilmu yang tidak kita pelajari.
  9. Rutin menghadiri majelis ilmu, mengikuti guru yang sudah jelas manhajnya, tidak sembarangan. Karena ilmu dan tuntutan yang benar hanya berdasarkan dalil sahih yang tadi saya jelaskan. Berdasarkan pengalaman, nikmat yang didapat semakin tinggi dalam menekuninya dan jika bersama para sahabat salihah (karena indah akhlak dan lisannya; patut ditiru karena teman sangat mempengaruhi agama) maupun berada di dalam majelis ilmu seakan suasananya dekat seperti pada zaman Rasulullah, karena yang didengar memang murni hadis yang disampaikan Rasulullah.
  10. Membaca buku fiqih aqidah,belajar mengahafal hadis, mempelajari contoh ibadah nabi, meneladani panduan hidup muslim, kisah para sahabat dan kisah wanita mulia, cara membangun generasi yang berakhlak, hukum-hukum islam sesuai dalil yang shahih dan contoh dari Rasulullah.

 

fullsizerender-42

 

fullsizerender-45

img_4422

Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf dan Pemahaman Para Salafus Shalih

fullsizerender-38

Munculnya kembali wajah Islam yang murni

Ketika Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah tercampuri dengan pemahaman dan pemikiran lain, dan masuk ke dalam Islam yang bukan darinya, muncullah kelompok kelompok yang melenceng dari jalan kebenaran. Mereka semuanya mendakwahkan diri mereka sebagai penganut Islam, maka para penganut sejati Islam merasa berkewajiban memperkenalkan diri dengan nama yang membedakan mereka dengan firqah-­firqah yang lainnya. Muncullah nama­-nama lain yang disyariatkan untuk pemanggilan orang orang yang memeluk Islam sebenarnya, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, Firqatun Najiyah, Thaifah Manshurah.
Siapa Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, Firqatun Najiyah, dan Thaifah Manshurah? Nama-­nama tersebut mengarah kepada satu makna dan pemahaman yaitu Islam  yang  dibawa  oleh  Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam dan  yang  dipraktikkan  oleh para sahabatnya. Islam yang selalu mengedepankan ucapan Allah subhanahu wa taala dan Rasul­Nya dari pada akal, Islam yang selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada al­-Qur’an dan hadits yang shahih dan Islam yang mengagungkan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  sebagai standar pemahaman yang benar.
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :
عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: 
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”
Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.
2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.
3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.
9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.
Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”
Perawi Hadits
a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.
b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
• Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”
• Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
• Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)
Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.
Dalam riwayat lain “al-­Jama’ah” ditafsirkan dengan: “Apa yang ada padaku dan para sahabatku.”
Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak hanya mencukupkan dengan nash al­ Qur’an dan Hadits, tetapi harus dengan pemahaman para sahabat. Karena itu, dalam hadits Irbadh bin Sariyah radliyallahu anhu, setelah menyebutkan kondisi umat akhir zaman dengan banyaknya perselisihan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan solusi: “Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”
Inilah “manhaj salaf” atau “salafi”   yaitu, orang-­orang yang selalu berpegang teguh dengan dua wahyu, al­Qur’an dan as­Sunnah, dengan pemahaman para salafus shalih yaitu para sahabat.
fullsizerender-39

Keistimewaan “Salafi”

Berikut di antara keistimewaan manhaj salaf:
1.  Keistimewaan dalam penamaannya.
Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Hukmul Intimā’ ilal Firaqi wal Ahzābi wal Jamā’ātil Islāmiyyah (hlm. 21), “… Dan nama-­nama yang mulia itu menyelisihi semua nama dari kelompok mana pun dari beberapa segi.” Lalu beliau menyebutkannya enam poin, di antara yang terpenting adalah:
a.  Sesungguhnya ikatan walā’ (loyalitas) dan barā’ (perlepasdirian),  men­cintai  dan  membenci  bagi mereka  hanya terhadap  Islam  tidak dengan bentuk dan nama tertentu, tetapi hanya dengan al­-Kitab dan as­-Sunnah saja.
b.   Nama-nama tersebut tidak menjadikan fanatik kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
c.   Penamaan itu tidak akan mengantarkan mereka kepada perbuatan bid’ah atau maksiat, dan tidak membuat mereka fanatik terhadap seorang pun dan golongan mana pun.
2.  Keautentikan sumber pengambilan hujah yang sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Semua yang pernah terjun dalam dunia firqah (kelompok sempalan), tentu ia tahu bahwa setiap ajaran mempunyai asal-­usul. Luar biasanya, ajaran salaf satu­ satunya ajaran yang bertemu dengan Islamnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sebutlah ajaran Tasawuf misalnya, maka setelah diselami hakikat dan tujuannya, cara ritual dan pengajarannya, kiranya dia adalah hasil perkawinan silang dari semua ajaran agama, sehingga lahirlah Tasawuf.
Begitu juga ajaran dan pemahaman filsafat dari orang-­orang yang menamakan dirinya filosof Islam, seperti Ibnu Sina, al­-Farabi, Ibnu Rusyd. Setelah diselami hakikat dakwah mereka maka bermuara kepada pengajaran Aristoteles, Plato, dan semisalnya dari filosof Yunani.
3.  Selalu bersikap tengah-tengah
Allah subhanahu wa taala berfirman:
Dan demikianlah Kami jadikan kalian (umat Islam) sebagai umat yang tengah-­tengah. (QS. al­Baqarah [2]: 143)
Manhaj salaf selalu bersikap tengah-­tengah dalam setiap permasalahan. Dalam masalah fiqih ia tidak jumud dan fanatik, bersamaan dengan itu ia tidak melepaskan dirinya dari para ulama dan fuqaha. Ia mempelajari mazhab sebagai sarana bukan tujuan yang akan menuntun mereka kepada sumber yang asli yaitu al­-Qur’an dan as-­Sunnah.
Dalam masalah aqidah ia pertengahan dari semua kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam.
Dalam masalah asmā’ (nama­-nama) dan shifāt (sifat-­sifat) Allah  ia pertengah­an antara Jahmiyyah  dan Musyabbihah.
Dalam takdir ia pertengahan antara Qadariyyah  dan Jabariyyah. Dalam janji Allah subhanahu wa taala  ia pertengahan antara Murji’ah dan Wa’idiyyah.
Dalam penamaan iman ia pertengahan antara Haruriyyah  dan Mu’tazilah. Dalam menyikapi sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  ia pertengahan antara Rafidhah dan Khawarij.

AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Lafazh السنة menurut istilah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, baik berupa ilmu, aqidah, perkataan, maupun ketetapan. Istilah السنة juga digunakan untuk menyatakan sunnah2 yang berkaitan dengan ibadah dan aqidah. Maka lawan dari السنة disini adalah bid’ah (بدعة)

.

📝Al-Jamaah (الجماعة) menurut bahasa berarti persatuan, lawan dari perpecahan / perpisahan. Mengandung arti sejumlah orang banyak / sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama (suatu kaum yang bersatu padu dalam suatu urusan, apapun itu)

.

📝Al-Jamaah menurut istilah adalah kaum muslimin, pendahulu dari umat Islam dari kalangan sahabat, Tabi’in, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Mereka bersatu padu diatas Al-Qur’an & As-Sunnah, berjalan diatas petunjuk yang telah ditempuh Rasulullah ﷺ secara lahir maupun batin

.

📜“Dan Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) الله. Janganlah kamu bercerai-berai” (Qs. Ali’Imran:103)

.

Makna Ahlussunnah wal Jama’ah menurut Istilah

👉 Mereka yang berpegang teguh kpd Sunnah (perjalanan) Nabi ﷺ beserta para sahabat dan orang2 yg mengikuti mereka dalam As-Sunnah (aqidah, ibadah, petunjuk, perilaku, akhlak, perkataan, dan perbuatan). Senantiasa istiqmah (konsisten, tetap teguh) dalam mengikuti contoh Nabi ﷺ dan menjauhi perbuatan Bid’ah. Maka dengan itu definisi Ahlussunnah wal Jama’ah tidak keluar dari definisi Salafus Shalih

.

1️⃣ Senantiasa bersikap pertengahan dan adil

2️⃣ Senantiasa merujuk kpd Al-Qur’an & As-Sunnah dan mendahulukak keduanya

3️⃣ Tidak memiliki imam tertentu/pemimpin yang diagungkan

4️⃣ Meninggalkan pertengkaran dalam agama, menjauhi orang yang senang melakukannya

5️⃣ Menghimpun dan memperhatikan berbagai nash dalam memecahkan satu masalah

6️⃣ Sosok teladan orang2 shalih yang mendapat petunjuk kepada kebenaran

7️⃣ Menyebarkan aqidah yang shahih dan agama yang lurus

8️⃣ Manusia paling sabar dalam menanggung konsekuensi dari perkataan, aqidah dan dakwah mereka

9️⃣ Gemar untuk bersatu & bersahabat, mencintai, menyayangi, dan saling menolong satu sama lain

‎🔟 الله melindungi Ahlussunnah wal Jama’ah dari saling mengkafirkan satu sama lain

Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidak digunakan pada masa sahabat radhiyallahu’anhum. Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?! Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.

Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).

Kalaupun masih ada orang yang tetap ngotot mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “Oo, kalau ini berbeda…!” Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’shum…?? Laa haula wa laa quwwata illa billaah… (lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53. Bacalah…!).

Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullah menjawab, “Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”

Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam shahihain dan selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” (Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19, lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah).

Cinta Salaf Berarti Cinta Islam

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai. Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekedar omong kosong dan bualan belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…

Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul ‘Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar’. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar.” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar (Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.” Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.” (Muslim no. 77). Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.” (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (lihat Fathul Bari, 1/80, Syarah Muslim, 2/138-139).

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “…Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam…” (Syarah Muslim, 2/139).

Selain itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang sesudah mereka.” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “…Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, hal. 489-490).


Oleh : Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
.

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan agama Islam bagi kita, meridhai dan menyempurnakan serta melengkapinya. Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [Al-Maidah :3]

Allah Ta’ala telah menjelaskannya secara gamblang dan menguraikannya dengan keterangan sangat rinci. Allah menerangkan melalui utusan dan bayan (penjelasan) Nabi kita Muhammad. Allah berfirman :

“Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (al Qur’an), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.”[An-Nahl : 44]

Di antara penjelasan yang beliau sampaikan, yaitu mengenai wajah Islam yang shahih (asli) yang masih utuh, dalam situasi perpecahan umat dan silang pendapat yang menerpa mereka, seperti yang dialami umat sebelumnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bangsa Yahudi telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Dan umat Nashara telah tercerai-berai menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu (golongan),” kemudian ada yang bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah,” beliau menjawab: “(Yaitu golongan) yang berada di atas jalanku sekarang ini dan para sahabatku”.[1]

Agama Islam saat permulaan penyebarannya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hingga kedatangan masa para khulafaur-rasyidin adalah Islam yang satu; Islam (berdasarkan) al Kitab dan as-Sunnah dan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, muncullah golongan-golongan, aliran-aliran pemikiran dan kelompok-kelompok. Masing-masing menggagas metode tersendiri untuk memahami agama. Silang pendapat ini kebanyakan bersifat ikhtilaf tadhadd (kontradiktif). Golongan-golongan yang banyak dan bermacam-macam ini, masing-masing mengklaim diri berada di atas Islam yang shahih, berada di atas kebenaran; sekalipun mereka adalah ahli bid’ah, saat melangsungkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bid’ah-bid’ah (ibadah ciptaan mereka), (dan) mereka menyangka sedang menjalankan sebuah kebajikan. Atas dasar ini, bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat. Pasalnya, orang yang bermaksiat tidak berpikir sedang beribadah dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya. Sedangkan ahli bid’ah, maka setan menghias amalan bid’ah pada pandangan ahli bid’ah, sehingga ia memandangnya sebagai kebaikan. Karena itu, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Bid’ah lebih disukai oleh iblis ketimbang maksiat-maksiat. Karena maksiat masih disesali dengan taubat. Sedangkan bid’ah tidak disesali dengan bertaubat” [2]

Dari sini, mungkin ada yang bertanya atau diam sejenak untuk melontarkan pertanyaan: “Atas dasar pemahaman apa, Islam yang shahih itu dibangun? Apakah merujuk pemahaman kaum Khawarij, pemahaman golongan Mu’tazilah, kerangka berpikir kelompok Murji`ah? Ataukah berdasarkan pemahaman golongan-golongan yang termuat di dalam kitab-kitab tentang firoq (golongan-golongan yang sesat)?

Oleh sebab itu, perlu disampaikan penjelasan mengenai Islam yang shahih sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai oleh-Nya bagi kita, serta yang sudah disampaikan penjelasannya oleh Rasulullah dan memerintahkan kita untuk konsisten di atasnya pada masa munculnya ikhtilaf (perbedaan) dan perpecahan.

Saya ingin mengetengahkan satu masalah penting, yakni, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan para sahabat di masa terjadinya perpecahan umat dalam dua kesempatan (dua hadits), dan (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memerintahkan untuk memegangi manhaj para sahabat beliau.

Hadits Pertama. Hadits al ‘Irbadh bin Sariyah :

“Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . .” [3]

Di sini, beliau memberitahukan adanya ikhtilaf (perbedaan pandangan), dan disertai penyebutan jalan keluar dari perpecahan itu. Yaitu, (memegangi) Sunnah Rasulullah sebagaimana telah diamalkan oleh para sahabat beliau. Yang dimaksud khulafaur-rasyidin (para pengganti yang mendapatkan petunjuk), yaitu para sahabat Nabi. Makna yang dinginkan di sini (dalam hadits di atas, Red.), adalah iradatu fahmin (pengalihan wewenang pemahaman), bukan iradatu hukmin (pengalihan wewenang kekuasaan). Setiap sahabat Nabi merupakan penerus Nabi dalam aspek pemahaman, manhaj dan agamanya.

Hadits Kedua : Hadits ‘Amr bin al ‘Ash yang diriwayatkan at-Tirmidzi dengan isnad yang hasan.

Umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu. Kata beliau: “(Yaitu golongan yang berpegang teguh dengan jalan yang) aku dan para sahabatku berada di atasnya sekarang ini”.

Tatkala menyebutkan terjadinya perbedaan pendapat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan manhaj (metode) yang masih eksis berada di atas jalan dan Sunnah beliau. Yakni, jalan yang telah dipegangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dengan ini, maka memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang berlandaskan pemahaman para sahabat, itulah agama Islam yang diridhai.

Allah berfirman : “Dan Kuridhai Islam menjadi agama kalian”. Maksudnya, yaitu agama yang dijalankan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Muhammad radhiallahu’anhum ajma’in. Dan lagi, tugas para sahabat di tengah umat ini ibarat tugas Nabi Muhammad di hadapan para sahabat. Tanggung jawab Nabi di tengah umat ini dan di hadapan para sahabat ialah menjadi saksi atas mereka. Dan keberadaan sahabat di hadapan umat menjadi saksi atas umat ini.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” [Al-Baqarah :143]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saksi atas umat ini. Setelah beliau wafat, tinggallah sahabat Rasulullah menjadi saksi atas umat. Karena itu, terdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Musa al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bintang-bintang merupakan amanah bagi langit. Apabila bintang-bintang lenyap, maka tibalah perkara yang sudah ditetapkan bagi langit. Dan aku penjaga amanah di tengah sahabatku. Bila aku telah pergi, maka datanglah kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan sahabatku penjaga amanah di tengah umatku. Apabila para sahabatku telah pergi, maka datanglah kepada umatku perkara yang dijanjikan kepada mereka” [4]

Maknanya, bila bintang-bintang itu telah pergi, tidak kembali lagi. Dan bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi, maka datanglah pada para sahabat masalah yang telah dikabarkan kepada mereka. Dan jika para sahabat telah pergi, maka muncullah kejadian yang sudah dijanjikan kepada umatku.

Melalui pemaparan hadits-hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Islam yang benar ialah yang berlandaskan pada jalan Rasulullah dan para sahabat Rasulullah radhiallahu’anhum ajma’in .

Masalah yang sudah kami kemukakan dan manhaj yang telah kami menepatinya ini, didukung oleh al Qur`an dan dikuatkan oleh as-Sunnah, para sahabat dan generasi Tabi’in, serta para ulama umat Islam. Satu per satu hendak saya sampaikan bukti-buktinya:

Sebagian Dalil Dari Al Qur`an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan seorang muslim untuk mengikuti al Kitab dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An Nisa : 115]

Sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jamrah: Para ulama berkata, bahwa sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah . . “[At-Taubah :100]

(Dalam ayat ini), Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dua thabaqat (tingkatan) manusia.
Tingkatan Pertama : Yaitu orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Tingkatan Kedua : Yaitu tingkatan orang-orang yang mengikuti mereka, mengikuti Muhajirin dan Anshar.

Tingkatan Muhajirin dan Anshar adalah para sahabat Rasulullah. Karena yang dimaksud dengan “dahulu” di sini adalah generasinya. Sehingga setiap sahabat, (mereka) mendahului para generasi Tabi’in.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung para generasi Sabiqunal-Awwalun dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mengikuti Sabiqunal-Awwalun? Karena mereka mengikuti jalan kaum Muhajirin dan Anshar.

Dalam ayat ini tersirat sebuah pelajaran manhaj, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan mengenai ittiba’ur-Rasul (mengikuti Rasulullah). Tujuannya, untuk menjelaskan kepada kita semua, bahwa ittiba’ur-Rasul tidak akan terwujud, kecuali dengan perantara, yang mengambil manhaj, istidlal dan talaqqi. Yakni para sahabat radhiallahu’anhum ajma’in . Maka, seorang muslim belum menempuh jalan ittiba’ur-Rasullah sebelum memahami manhaj beliau berdasarkan pemahaman para sahabat Rasulullah.

Sebagian Dalil Dari Hadits.
Sedangkan hadits-hadits yang menyatakan kewajiban mengikuti al Kitab dan as-Sunnah dengan merujuk pemahaman para sahabat yang mulia sangat banyak. Sebagian sudah dipaparkan. Di antaranya, hadits al ‘Irbadh bin Sariyah:

“Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . . .’

Maksudnya, pegangi sunnah para sahabatku. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan ‘adhdhu ‘alaihima (pegangi keduanya), akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ‘adhdhu alaiha, pegangi dia, dijadikan satu kesatuan dalam satu kata ganti, Red.). Artinya, sunnah para sahabat merupakan sunnah beliau juga. Merekalah yang menyampaikan sunnah beliau. Orang-orang yang menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah; mereka adalah para sahabat Nabi.

Oleh karena itu, para ulama menetapkan, siapa saja yang menikam kehormatan para sahabat, ia adalah zindiq. Maksudnya, dengan mencela atau berkomentar miring terhadap sahabat atau mengkafirkan mereka, (maka) orang-orang tersebut (adalah) zindiq. Abu Zur’ah rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang menikam kehormatan para sahabat. Beliau rahimahullah menjawab:

Mereka itu ingin menciderai reputasi merusak kehormatan para saksi kita untuk menggugurkan al Kitab dan as-Sunnah. Padahal mereka itulah (yang) lebih pantas ditikam kehormatannya. Mereka itu kaum zindiq.[5]

Mereka itu ingin menghancurkan kedudukan orang-orang yang telah menyampaikan al- Qur`an dan as-Sunnah kepada kita. (Padahal), justru mereka itulah yang lebih pantas untuk dijatuhkan kehormatannya.

Hadits yang lainnya masih banyak. Misalnya, hadits:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku. Kemudian generasi selanjutnya, dan kemudian generasi selanjutnya” [6]

Aspek puncak kebaikan pada hadits ini, ialah ditinjau dari aspek ilmu dan pemahaman, bukan (dari aspek) kebaikan fisik, nasab (keturunan) atau lainnya. Kemudian datang generasi sahabat. Yang menjadikan manhaj dan pemahaman mereka sebagai hujjah di hadapan umat setelahnya. Terutama, saat mereka beradu argumentasi dengan golongan-golongan sesat.

Sebut saja ‘Abdullah bin Mas’ud. Suatu hari, beliau memasuki masjid Kufah. Di dalamnya, beliau menyaksikan sekumpulan orang-orang duduk melingkar sambil mengucapkan tasbih, takbir dan tahmid dengan hitungan kerikil-kerikil. (Berikut dialog antara sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud dengan mereka).

“Beliau (‘Abdullah bin Mas’ud) bertanya (kepada mereka),”Perbuatan apakah yang sedang aku lihat kalian mengerjakannya?”
Mereka menjawab,”Wahai Abu Abdir-Rahman! Ini adalah kerikil-kerikil. Kami membaca takbir, tahlil dan tasbih dengannya.”
Maka beliau menimpali: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian. Sesungguhnya aku menjamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kalian terseret kepada kebinasaan. Para sahabat Nabi kalian pun masih banyak. Lihatlah, baju-baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum rusak. Periuk-periuk beliau belum pecah”.
Mereka berdalih,”Kami hanya ingin berbuat baik saja.”
Beliau pun berkata: “Berapa banyak orang menginginkan kebaikan, akan tetapi tidak meraihnya atau tidak sampai kepadanya”.

Syahid (bukti yang bisa dipegangi) dari pernyataan itu ialah, “sedangkan para sahabat masih banyak”. Seandainya kalian berada di atas jalan kebenaran, sudah pasti ada sahabat yang bersama dengan kalian. Ketika tidak ada seorang pun dari mereka yang bersama kalian, berarti kalian berada dalam pintu kesesatan.

Lihatlah, logika berikut yang dipakai ‘Abdullah bin Mas’ud dalam membungkam mereka. Beliau mengatakan selanjutnya :

“Demi Allah, wahai orang-orang, kalian itu berada di atas ajaran, kalau tidak lebih baik dari ajaran Muhammad (dan ini merupakan bentuk kekufuran) atau kalian sedang membuka pintu kesesatan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami ada kaum yang membaca al Qur`an tapi tidak menembus kerongkongan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, mungkin kebanyakan dari kalian termasuk mereka “.

Perawi hadits ini, ‘Amr bin Salimah berkata: “Kami menyaksikan kebanyakan orang-orang itu mememerangi kami di perang Nahrawan bersama Khawarij”.[7]

Jadi, ketika mereka keluar dari pemahaman para sahabat Rasulullah, hal itu menyebabkan mereka khuruj (melepaskan diri) dari umat Rasulullah.

Juga cara yang ditempuh oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu saat Khalifah Ali radhiallahu’anhu mengutusnya menghadapi orang-orang Khawarij.

Mereka bertanya,”Darimana engkau?”

Beliau (Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu ) menjawab,”Aku datang dari saudara sepupu Rasulullah dan menantu beliau dan dari para sahabat. Kepada merekalah al Qur`an turun. Mereka adalah orang-orang yang lebih berilmu daripada kalian. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyertai kalian”.

Lihatlah, ‘Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mendesak pionir-pionir kaum Khawarij dengan manhaj para sahabat Rasulullah, dan menjadikan pemahaman para sahabat sebagai sumber argumentasi di hadapan mereka.

Setelah itu, melalui pergantian generasi demi generasi, ternyata kita menjumpai para ulama di setiap generasi dan abad itu, mereka bersepakat satu kata dalam masalah ini. Yaitu, keharusan memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dengan merujuk (kepada) pemahaman para sahabat, hingga pada masa kita sekarang ini.

Kita melihat ulama-ulama besar pada zaman sekarang, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; mereka semua sepakat, bahwa seorang muslim seharusnya memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi. Inilah yang disebut manhaj Salaf. Pasalnya, bila menyaksikan keadaan golongan-golongan yang ada, baik pada zaman dahulu atau firqoh pada masa sekarang ini, sangat bertentangan dengan manhaj para sahabat.
Ambil contoh, Khawarij. Perkara prinsip (yang ada) pada mereka, (yaitu) mengkafirkan para sahabat dan bahkan memeranginya. Mereka telah melakukan pemberontakan terhadap ‘Utsman, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka juga melancarkan pemberontakan kepada ‘Ali, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka memerangi para sahabat dan membunuhi dan mengkafirkannya. Bagaimana bisa dikatakan, mereka berada di atas manhaj yang sesuai dengan manhaj para sahabat Nabi yang sudah mereka perangi dan mereka bunuh?

Begitu pula, kaum Syi’ah, yang telah mengkafirkan para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang sahabat saja yang selamat dari vonis mereka. Salah seorang ulama Syi’ah melontarkan perkataan: “Telah binasa para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang saja”. Mereka selalu melaknat Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga memiliki bacaan sholawat yang berbunyi: “Ya Allah, laknatlah dua berhala Quraisy, jibt dan thaghut mereka (Abu Bakr dan Umar), yang telah melakukan tahrif (perubahan) terhadap kitab-Mu”. Bagaimana mungkin Syi’ah berada di atas pemahaman para sahabat Rasulullah?!

Atau lihat saja Mu’tazilah. Tokoh besarnya, Washil bin ‘Atha` berkomentar miring terhadap sahabat ‘Ali, az-Zubair dan Thalhah yang telah menerima kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa masuk syurga.

Ia (Washil bin ‘Atha`) berkata,”Seandainya Thalhah, az-Zubair dan ‘Ali bersaksi mengenai setumpuk sayuran di depanku, aku tidak akan menerima persaksiannya.”

Bagaimana mungkin mereka berada di atas manhaj para sahabat, sebab mereka saja menolak persaksian sahabat?!

Lihat juga pentolan Mu’tazilah lainnya, (yaitu) ‘Amr bin ‘Ubaid. (Dia) berkomentar tentang sahabat dengan berkata: “(Mereka itu) amwatun ghairu ahya` (orang-orang mati, tidak hidup)”.

Menikam dan menghina para sahabat Rasulullah! Jadi, golongan-golongan itu, banyak yang melancarkan penghinaan kepada sebagian sahabat.

Demikian pula, bila kita perhatikan kelompok-kelompok pergerakan pada zaman sekarang ini; akan kita jumpai sebagian pendiri dan tokoh-tokohnya menjatuhkan kehormatan sebagian sahabat. Ada yang menyatakannya dengan sindiran. Contoh-contohnya sangat banyak.

Coba lihat, penulis kitab adh-Dhilal (Dhilalul-Qur`an). Penulis kitab itu (telah) menghina sahabat ‘Amr bin al ‘Ash dan Mu’awiyyah. Bahkan menganggap kekhilafahan (kekuasaan) Khalifah ‘Utsman sebagai pengisi kekosongan belaka antara ‘Umar dan ‘Ali. Artinya, orang ini mengesampingkan kekhilafahan ‘Utsman.

Sebagian lagi melontarkan celaan kepada sahabat Mu’awiyyah. Sejumlah orang begitu meremehkan masalah penghinaan yang dialamatkan kepada beliau. Sebagian ulama Salaf berkata: “Mu’awiyyah adalah sitr (kain pelindung) para sahabat. Bila penutup ini sudah tersibak, maka pintu itu akan termasuki”. Maksudnya, bila orang sudah berani mencaci-maki Mu’awiyyah, maka pada gilirannya, ia akan terjerumus dalam cacian yang dilontarkan kepada Abu Musa al Asy’ari, ‘Utsman, ‘Ali dan sahabat lainnya.

Kita tidak akan mendapati golongan yang menghormati para sahabat dan mengagungkan serta menilai mereka sebagai orang-orang ‘udul (adil, bersih), kecuali Ahli Sunnah wal Jama’ah. Mereka itulah yang berjalan di atas pemahaman Salafush-Shalih, manhaj ahli hadits.

Apakah berarti golongan-golongan itu telah keluar dari agama Islam? Tidak demikian adanya.

Ibnul-Qayyim telah mengeluarkan pernyataan yang layak menjadi kaidah emas dalam masalah ini. Beliau mengatakan, syariat ada tiga macam: aturan syari’at yang munazzal (diturunkan), aturan syari’at yang muawwal (hasil takwil), dan syari’at mubaddal (yang telah dirubah). Golongan yang menjalankan syari’at yang munazzal (yang diturunkan) oleh Allah kepada Rasulullah adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Mereka itulah yang mengamalkan al Qur`an dan as-Sunnah dengan dasar pemahaman Salaful-Ummah. Sedangkan manhaj-manhaj atau golongan lainnya, kalau tidak bertumpu pada syari’at yang sudah ditakwilkan, maka berlandaskan syari’at yang sudah mengalami perubahan. Setiap golongan itu, hukumnya tergantung dengan kondisinya.

Meskipun sudah sangat jelas kebenaran manhaj Salaf ini, masih saja ada orang yang melontarkan tuduhan-tuduhan, syubuhat, keraguan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada umat Muhammad dan meneguhkan kita di atas manhaj yang benar ini.

Washallallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam.

.
– Ceramah umum yang beliau disampaikan Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali di Masjid Jakarta Islamic Centre, pada hari Ahad, 23 Muharram 1427 H bertepatan dengan 11 Februari 2007. Diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Abul Minhal.

 


 

fullsizerender-40

MEDIA – MEDIA SUNNAH NUSANTARA :

img_2784

#dakwahtauhid #dakwahsunnah #dakwahsalaf

 

Tegak diatas Hidayah, Tegak diatas Sunnah.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Hidayah, adalah salah satu bukti cinta Allah dan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hambanya. Mengapa paling besar? Karena nikmatnya terus dirasakan hingga terus sampai kepada bertemu dengan Allah. Beda dengan uang, yang tidak selalu nikmat bahkan cenderung habis maupun nikmat dunia yang unsurnya tidak akan bertahan lama (pasti akan ditinggalkan). Nikmat dari hidayah tersebut letaknya di hati. Karena, nikmatnya kita rasakan hingga menggapai surga. Hanya hidayah yang merupakan kenikmatan mencapai bahagia dunia dan akhirat. Karena semua nikmat belum tentu membuat cinta kepada Allah, justru sebagian besar adalah cobaan, yang membuat lupa terhadap Allah, dan hakikatnya, semua manusia adalah tersesat, kecuali yang diberi petunjuk. Siapa saja yang melihat aib atau kejelekan orang lain yang tidak ada pada diri kita, hendaknya kita bersyukur, karena kita diselamatkan Allah dari perkara itu. Kemudian, tutup aib itu, jangan disebar. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim di dunia, maka Allah akan tutup aibnya di hari kiamat. Allah meminta untuk selalu bersyukur dengan cara ikhlas jika telah mendapat hidayah, apapun yang kita lakukan, berikan, dapatkan harus berujung ikhlas karena Allah, jika ingin Allah cintai, karena Allah akan jaga hatinya. Jaga hati dengan segala keikhlasan. Karena amal yang paling mulia dan dicintai hanya “ikhlas”. Dan banyak ilmu juga belum menjamin jika tidak ada rasa ikhlas, karena ikhlas merupakan bagian terbesar dari seorang mukmin. Sebagai muslim sejati, kita harus berjanji agar selalu mengikuti sunnah Rasulullahi alaihi wassalam karena itu merupakan pembuktian kita mencintai Rasulullah. Mempelajari dan menerapkan semua anjurannya, bercita-cita bertemu dengannya, senantiasa bershalawat dan mengikuti kebiasaannya. Karena nabi kita merupakan teladan manusia sepanjang abad dalam sejarah di muka bumi. Jika semua sifat dan akhlak terpuji itu berbagai macam seperti jujur, murah hati, penyabar, amanah, adil, maka semua itu didapati oleh Nabi besar kita. Sunnah Rasulullah merupakan satu-satunya jalan untuk membuat ikhlas. Tidak mungkin seseorang dikatakan istiqamah dalam mendapat hidayah tanpa menegakkan SUNNAH Rasulullah. Di akhir zaman ini, kita telah masuk dalam kehidupan yang dipenuhi berbagai ujian. Yaitu Tauhid, Aqidah, perkara Bid’ah, pemahaman Islam yang bersih/murni dari penyimpangan yang mengakibatkan kabut hitam dalam hati seorang mukmin. Dikarenakan penyakit utama yaitu, tidak beradabnya kita kepada Allah, tidak beradab pula kita kepada jalan Rasulullah. Selama manusia tidak beradab, ujian akan terus ditimpakan oleh Allah. Jika kita telah banyak melihat fitnah atau perpecahan umat islam, kuncinya adalah “berpegang teguh dengan Sunnah.” Mengapa juga masih banyak yang tidak bisa ikhlas? Karena, tuntunan hidup manusia sekarang adalah jauh dan tidak berdasarkan Sunnah Rasulullah alaihi wassalam.

Rasulullah menyuruh kita agar beribadah dengan rasa cinta yang dalam terhadap Allah, karena kualitas cinta menentukan iman kita hingga dapat merasakan nikmat itu adalah kedekatan kita dengan Allah semata. Jika cinta kita masih lemah, penyebabnya adalah rasa akibat cinta kita yang masih tergantung kepada dunia. Kita bisa mendekatkan diri kita dengan Allah melalui ibadah dan mengenal nama-nama Allah (Asmaul Husna). Dengan mempertebal sabar dan keikhlasan merupakan kunci untuk meluluhkan iman. Ilmu agama adalah satu-satunya ilmu yang tidak pernah menyimpang. Poin besar dari sebab penghalang hidayah adalah karena syahwat dan syubhat. Jika ada seseorang berbicara atau meminta doakan agar segera diberi hidayah, kita harus membalas dan menyampaikan agar ia cepat bertaubat. Karena artinya, orang tsb masih cinta dunia dan belum ingin melepaskan perihal-perihalnya. Kunci dari semua kebaikan dan ibadah adalah “Cinta Allah.” dan Shalat adalah penentu amal kebaikan yang lain (paling utama) sebab ibadah yang paling pertama kali dihisab adalah jumlah shalat. Orang yang paling beriman tentu tidak akan lepas dari ilmu dan amal. Para ahlusunnah, Tidak pernah lepas dari majelis ilmu, cenderung meninggalkan hal yang banyak mudharat, menjalankan yang wajib kemudian sunnah, dan mengaplikasikan pemahaman sesuai dengan para sahabat dengan cara yang benar. Ingat, orang Islam belum tentu semuanya muslim atau beriman, karena dari 73 golongan yang ada, hanya 1 yang diridhai, dan masuk ke dalam surganya Allah swt. Jauhi diri kita dari paham takfiri, khawarij, murjiah, syiah, qodariah, jabariah, mutajiah, jamilah, dll.

Syukur dan taqwa adalah buah dari ilmu dan amal. Iman seorang mukmin, bisa dilihat dari kebersihan dan ucapan lisan, karena bersih dan lisan merupakan faktor penentu keimanan seseorang. Semangat dakwah juga merupakan buah dari hidayah Allah, karena ia menerapkan amar ma’ruf nahi munkar, membedakan yang haq dan yang bathil. Ia tidak ingin melihat orang-orang yang belum mendapat hidayah, petunjuk, dan kebenaran. Ini semua merupakan tanggung jawab dan tugas seorang muslim dan mukmin untuk memperingati saudara-saudaranya. Percaya kita melakukan ini karena Allah akan menghadap kita di akhirat dan bertanya jika kita membiarkan saudara muslim kita berada dalam kezhaliman yang nyata, bertanya juga jika ilmu yang kita miliki tidak dibagikan kepada para yang membutuhkannya. Namun jika dakwah sudah tuntas, kita ikhtiar dan serahkan kepada sang maha pembulak balik hati hambanya. Dan mereka yang tidak tahu, tidaklah berdosa, tetapi dosa mereka tidak menuntut ilmu. Maka tidak ada alasan esok jika mereka menghadap Allah, dan Allah bangkitkan mereka dalam keadaan buta karena selama hidup di dunia ia tidak mengejar petunjuk itu karena dianggap tidak penting. Padahal tauhid adalah merupakan inti dakwah dari para rasul. Dan tugas mereka sampai akhir zaman melalui kitab suci yang dibawa, tentunya Al-Qur’an yang tidak berubah sedikitpun sepanjang masa, pelengkap kitab sebelumnya. Maka para ulama adalah pewaris nabi, yang melanjutkan perjuangan para nabi. Sejatinya dunia ini adalah tempat yang diasingkan bagi para orang yang beriman, bagi orang kafir, Allah telah memberikan kenikmatan yang luas tetapi janji Allah hanya sebatas di dunia saja kepada mereka. Karena hati tersadar diasingkan di bumi Allah, namun sejatinya hati merasakan letak di kampung halaman tempat kembali pada Allah. rasul kita juga berpesan agar menjadi orang yang asing atau musafir. Seolah kita hidup hanya lewat. Beruntung bagi siapa saja yang merasa diasingkan karena menegakkan syariat Islam dan hukum Allah. Kenikmatan orang yang beriman selama di dunia adalah, ketika ibadah (khususnya ketika bisa bersujud kepada Allah di malam tahajud), kemudian setiap mendatangi majelis ilmu, tempat berkumpulnya hamba hamba Allah yang terpilih, dengan mendatangi majelis ilmu, itu merupakan kunci kita agar terus mengenal dan mendekatkan diri kita terhadap Allah. Dan di akhirat sudah tidak adalagi Al-Qur’an. Salah satu ibadah yang dicemburui oleh malaikat, yaitu kita bisa membaca ayat suci Al-Qur’an. Dan tugas mereka hanya bertasbih dan berzikir (makhluk Allah paling suci). Diantara tingkatan malaikat, manusia, hingga hewan, tentu kita berharap agar tidak seperti hewan yang hanya makan, liri-lirik betina, kemudian tidur. Jangan ikut-ikutan dan samakan kita “like an animals.” yang berperilaku sebebas-bebasnya, tanpa busana, yang membedakan adalah akal, namun akal disini dipakai untuk menuntut ilmu syar’i yang menyadarkan kita akan dibangkitkan kembali, dan dimintai semua yang telah kita lakukan. (bedanya dengan hewan).

Sunnah Rasulullah juga menentukan kita semakin bisa ikhlas dan menjauhkan diri dari terkena syubhat. Sesungguhnya Allah berada di Arsy’, tetapi ilmunya ada dimana mana. Maka tugas kita diciptakan oleh Allah adalah tidak lain untuk beribadah kepadanya. Orang yang menggantungkan nasib dan percaya diatas suatu ramalan (salah satu syubhat) adalah yang dapat merusak keyakinan, karena jauh dari Sunnah dan dekat dengan bid’ah. jadi kuncinya harus selalu minta hidayah agar terhindar dari syahwat dan syubhat. Hidayah itu bagikan rezeki, yang harus terus dicari dan dikejar, walaupun orang tsb tinggal di pedalaman manapun adalah hak (fitrah) karena kita dikasih pilihan oleh Allah untuk menjadi orang yang beriman atau kufur, selama kita berada di dunia. Semua manusia dalam keadaan lahir diberikan perangkat/fitrah beriman kepada Allah, baik dalam keadaan nasrani, yahudi, budha, dll walau dilahirkan dr seorang musyrik, ia adalah tetap islam, jika ia meninggal langsung masuk surga (bayi) dan berlangsung terus hingga dirusak oleh orangtuanya dari kebenaran. contoh: SALMAN, dari persia yang berhasil mendapati jejak kebenaran walau ia berjuang sendiri dari keluarganya yang kufur, tetapi ada juga Abu jahal, adalah paman nabi Muhammad yang dalam islam tetapi dia dalah menjadi kufur karena menolak kebenaran (sombong). Rasul-rasul diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia. dan semua orang kafir meyakini bahwa mereka atau bumi diciptakan oleh Allah, tetapi mereka menolak ketika disuruh meninggalkan sesembahan. Serta mereka juga belum mempelajari dan menamati aqidah ahlusunnah wal jama’ah, karena islam adalah penyempurna agama-agama sebelumnya. Sama seperti nabi Muhammad, adalah sebagai penutup para nabi dan rasul sebelumnya.

Sunnah Rasul adalah ajaran nabi, yang membuat merindukan ummatnya, walaupun yang belum pernah ia temuinya (kita). Disebutkan juga adalah saudara beliau, dengan tanda-tanda wajah yang akan bercahaya karena bersahabat dengan sunnah Rasul. Inti dari hijrah bukan pada penampilan. Yang pria memelihara janggut, dan memakai celana diatas mata kaki. Yang wanita berhijab secara syar’i, bukan hijab jahiliyah. Karena jika menganggap inti dari penampilan saja, makan itu penyebabnya dari tidak istiqamah untuk berlanjut. sehingga mengakibatkan susah pula menggapai keikhlasan, dan tawadhu’ (kerendahan hati atas segala kelebihan yang telah dimiliki). Jadi intinya, terdapat pada Aqidah, tauhid, dan amalan hati. PR besar ummat muslim adalah menata hati secara bersih, sebening mata air; Ibadah, shalat, dakwah, dzikir, bersih dari hasad, tersentuh saat saudaranya dibantai, dll). Jika ada yang mencaci, menyinyir, atau membully, itu semua sudah ada semenjak zaman nabi Nuh, ketika ia berdakwah selama 950 tahun, orang orang begitu jahil dan sombong seraya menutup telinga hingga menutup wajah memakai pakaian mereka. Tetapi kunci beliau, tidak mengajak berkelahi selama dizhalimi, ia dakwah terang-terangan, dan secara 4 mata. “Istighfarlah kepada Rab-Mu”. Semua manusia hakikatnya sedang diuji untuk melihat siapa saja yang bertahan dan siapa yang hanya jlan demi kepentingan dunia saja. surga disiapkan bagi orang-orang yang tidak ingin tampil di dunia, tidak mau menikmati tipu daya dunia, tidak menikmati keindahan diri yang didapat, tidak gila hormat, dan disambut atau dihargai oleh orang, tidak ingin menjadi populer dan terpandangan dihadapan orang banyak. hanya bagi mereka yang merendah hati. maka jika populer, jangan senang. Orang yang tidak suka popularitas, akan menjadi populer sendirinya, karena ilmu-ilmunya atau jasa-jasanya yang disampaikan atau diberikan kepada orang banyak sehingga orang itu akan selalu mengingat dan menggunakan kembali, maka orang lain pun akan tahu sendiri bahwa orang tersebutlah yang telah memberikan pengaruh terhadap orang banyak.

Diambil dari rangkuman kajian ust. Djazuli, Lc – Al-Jannah, tentang sebab-sebabnya penghalang seseorang dari hidayah:

1). Tidak mengenal agama / bodoh terhadap ajaran Islam.

Karena yang membedakan adalah otak dan hatinya. (Al-Kahfi : 68) “Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

2). Hati yang sakit. (Al-Anfal : 23)

(Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan pada mereka) bakat yang baik di dalam mendengarkan perkara yang hak (tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar) dengan pendengaran yang disertai pemahaman. (Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar) sebagai perumpamaan, karena Allah telah mengetahui bahwa tidak ada kebaikan dalam diri mereka (niscaya mereka pasti berpaling juga) dari perkara yang hak itu (sedangkan mereka memalingkan diri”) dari menerima perkara hak yang mereka dengar itu karena keras hati dan ingkar.

3). Sombong, Dengki, Iri / Hasad. (Al-Baqarah : 146)

(Orang-orang yang Kami beri Alkitab mengenalnya) Muhammad (sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri) karena disebutkan ciri-cirinya dalam kitab-kitab suci mereka. Kata Ibnu Salam, “Sesungguhnya ketika aku melihatnya, maka aku pun segera mengenalnya, sebagaimana aku mengenal putraku sendiri, bahkan lebih kuat lagi mengenal Muhammad.” (Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran) maksudnya ciri-cirinya itu (padahal mereka mengetahui) keadaanmu dan siapa kamu yang sebenarnya.

4) Jabatan dan Pangkat sebagai Tujuan, bukan sarana Ibadah. (Al-Mu’minun : 47)

(Dan mereka berkata, “Apakah pantas kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga, padahal kaum mereka adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”) yakni kaum Bani Israel; mereka tunduk dan dianggap hina oleh Firaun.

5) Terlalu Mencintai Dunia, Terutama Harta. (Al-Ahqaf : 32)

(Dan orang yang tidak menerima seruan orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi) artinya ia tidak akan dapat melemahkan Allah dengan cara lari dari-Nya sehingga ia selamat dari azab-Nya (dan tidak ada baginya) yakni bagi orang yang tidak menerima seruan itu (selain Allah) (pelindung-pelindung) yang dapat menolak azab Allah daripada dirinya. (dalam kesesatan yang nyata”) jelas sesatnya.

6) Terlalu mencintai keluarga secara berlebihan (Takut dijauhi keluarga karena mengenal Islam) Terlalu mencintai tanah air (Pancasila, UUD, dll-> Thoghut). Karena sumber hidup manusia adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kita cinta tanah air karena tidak dibelenggu oleh teroris, sehingga kita bisa menuntut ilmu, dan beribadah dibawahnya dengan aman. Kita cinta akhirat karena adalah tempat kita kembali yang menentukan, yang sifatnya abdi, bukan sementara.

Diambil dari rangkuman kajian ust. Abu Islama Aminuddin, Lc, MA – Al Jannah, cara kita senantiasa beradab kepada Allah:

1). Menjalankan semua ibadah kita hanya untuk Allah.

Mewaspadai diri dari syaithan yang memalingkan keikhlasan diri kita saat ibadah thd Allah (tidak khusyu). Barangsiapa yang setiap nafas dikeluarkannya selama hidup adalah karena dan hanya untuk Allah (ketaatan kpd Allah) maka buahnya akan manis ketika dipetik. Sebaliknya jika nafas yang dikeluarkan karena bnyak kemaksiatan maka buahnya adalah pahit (ketika dipetik di hari kiamat). Selama hidup wajib seorang muslim mempelajari “Maa Rabbuka?” hakikatnya segala yang dilakukan karena dan untuk Allah bukan hanya di perihal shalat saja atau agama dijadikan musiman (shalat ikut shalat, ramadhan ikut puasa, hari raya hanya formalitas, dll. tanpa diperdalam secara menyeluruh dlm aspek kegiatan hidup).

2). Mengagungkan Allah, memuliakan Allah.

Yang dituntut hanya semua orang muslim, karena orang kafir tidak akan pernah memuliakan Allah, dan orang kafir adalah orang yang paling jahil. Kecerdasan berikutnya adalah dengan tidak pernah mengeluh dan bersyukur atas segala kenikmatan walau hanya dengan melihat kenikmatan seorang pedagang yang memotong daging. bersyukur dari bangun tidur, dari hari-hari yang diberkahi. satu sendok makan suami terhadap istri adalah sebuah sodakoh. Jangan pernah luput dari ucapan terimakasih walau sekecil apapun tawaran kebaikan.

3) Menanamkan Rasa Takut Kita Terhadap Allah.

Termasuk adab yang mulia. Kemenangan hanya berdasarkan ilmu dan iman. Tugas kita hanyalah terus belajar, tidak pernah takut dengan ancaman orang kafir, karena jika kita merasa takut, sama halnya dengan kita tidak percaya kepada Allah, hilang rasa takut kita kepada Allah, maka justru akan mudah dikuasai orang kafir. Orang-orang Ummul mukminin terdahulu banyak diwafatkan oleh Allah karena memang hakikatnya kehidupan orang yang beriman dan mukmin sejati bukan di dunia (tempat singgah dan lewat saja). Kemudian penyakit lemah, yaitu takut mati.

4) Mencintai Allah Melebihi Segalanya.

Allah bersih dari segala kekurangan (Maha Sempurna). Jika pasangan kita meninggalkan kita saat bekerja dan luput dari kita, masih ada Allah yang 24 jam mengawasi dan melindungi kita. Karena Allah maha lembut, maha kasih, ia berikan kita terus kenikmatan hidup walau banyak dosa, maka terkadang kita akan merasakan teguran berupa rasa penyakit. Karena azab di akhirat adalah lebih dahsyat pedih. Siapa saja yang berjalan untuk menuntut Ilmu ia adalah sedang berjalan di jalan Allah hingga ia kembali; orang-orang yang apabila ia berbuat dosa atau menzalimi diri sendiri ia langsung ingat dan bertaubat terhadap Allah, beristighfar, dan memohon ampun adalah ciri ciri orang yang bertakwa. Meninggalkan yang Allah larang, menjalankan yang diperintahkan adalah bukti kecintaan kita terhadap Allah. Sedangkan orang munafik, menyebut nama Allah hanya sedikit, jikapun mereka beribadah hanya karena untuk dilihat orang lain saja (tidak ada keikhlasan).

5) Bertawakal Kepada Allah.

Zaman ini, orang banyak berserah diri thd orang lain, diri sendiri, atau pasangannya, maupun apa saja kepunyaannya, tidak kepada Allah. Tawakal adalah menyerahkan seluruh perkara atau urusan dan bersandar kepada Allah setelah kita berikhtiar. Ini juga merupakan hasil dari seorang mukmin yang mengenal Allah. sifat orang yang beriman, kurang sempurna jika tidak bertawakal sepenuhnya. ( Al-Maidah : 23) jika benar-benar tawakal akan dicukupkan kehidupannya, jika tawakal setengah-setangah, maka dicukupkan pula ia hanya setengah-setengah. Kelompok orang yang mencari ilmu : a. Ingin mendapat ilmu = Allah kasih ilmu. b. Datang dengan malu-malu / fikiran banyak alasan = Allahpun malu kasih ilmu. c. Berpaling dari ilmu, (hanya mengetes spt apa majelis ilmu) = Allah tidak berikan ia ilmu samasekali.

At – Talaq : 3

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

berpurdah.jpg

FullSizeRender (32).jpg

Untuk Kalian Para Pencari Surga dan Cinta ♥

Siapakah wanita yang hidupnya tidak ingin bahagia?
Namun bahagia mempunyai arti yang berbeda
Ada yang bahagia memiliki cinta karena ingin harta maupun dunia
Ada yang bahagia memiliki cinta karena ingin ikut ternama
Dan ada pula yang bahagia karena hanya ia satu-satunya yang dianggap paling bermakna

Tetapi bagi kami sebagai wanita yang taat, hanya ingin memiliki cinta karena untuk ridha Allah semata.
Iya, kami percaya dengan janji dan ayat cinta Allah ta’ala dalam firmannya surat An-Nur : 26.
Bahwasanya perempuan yang baik untuk lelaki yang baik. Dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik. Begitupula dengan sebaliknya.

Maka dari itu, kami menghabiskan waktu kesendirian kami dengan bertahan dibawah perlindungannya.
Karena kami cinta kepadanya, dan kamipun percaya bahwa Allah juga mencintai kita.

Wahai lelaki yang beriman,
Dimanakah kalian bersembunyi?

Kami percaya kalian sedang jauh disana masih dengan hal yang akan membawa makna.
Hingga waktu itu akan tiba, Allah pasti akan mendatangkannya, apa itu arti cinta.

Kami percaya, kalian akan selalu mengingat Allah dimanapun kalian berada.
Kalian selalu menghindari perbuatan dan perkataan yang jauh dari akhlak mulia.
Kalian tetap kuat mengendalikan hawa nafsu serta mampu menundukkan pandangan agar tidak menjadikan kaum hawa sebagai sosok pemuas objek mata.

Kami tahu bilamana waktu itu telah tiba bagi kita, Kalian hadir dan menepati janji diatas perkataan sebuah cinta.
Kalian tidak akan menjerumuskan kami ke hal yang akan membuat Allah murka.
Kami tahu kalian tidak akan menyiakan waktu dan melewati hari dengan saling melengkapi dalam ibadah kepada Allah ta’ala.

Hingga kami yakin bahwa tidak hanya di dunia tempat kita akan bersama. Melainkan hingga di akhirat pula, tempat kebahagiaan abadi bagi para pejuangnya cinta Allahu ta’ala.
Semangat menjadi calon pemimpin dan imam yang akan membawa berkah nan manfaat bagi keluarga tercinta.
Karena bagi kami, mereka yang selalu memberi cokelat dalam rangka hari cinta, akan kalah dengan pria saleh yang memberi seperangkat alat shalat di hari yang bahagia.

By: @kamiliayasmin

muslim-marriage-quotes-quran.jpg

Berdakwah Bukan Hanya Diatas Mimbar

Assalamualaikum Wr. wb

Akhirnya setelah sebulan berlalu ana baru sempet nulis lagi, dikarenakan belakangan kemarin banyak bepergian keluar kota maupun keluar provinsi untuk ngurusin hal maupun kewajiban tugas hidup (sok orang penting bgt plis >,< haha). Kali ini ana masih membahas kelanjutan dari postingan ana sebelumnya dan mengenai realita kehidupan kita yang terjadi saat ini di tengah-tengah ketidaksadaran ancaman kapitalis asing dan bagaimana solusi  yang tepat untuk kita aplikasikan di era yang sedang kita jalani ini. Kalau menurut ana, solusi sebelumnya yang telah ditawarkan dan dipaparkan oleh para ulama, maupun pendakwah yang bijak dan kritis jelaslah sangat benar, karena itupun memang tidak akan pernah berubah dari zaman ke zaman dimana sumber dan solusinya hanya ada pada Al-Qur’an (Pedoman Hidup Umat Muslim) dan Sunnah (Jalan Rasulullah dan para sahabat). Sebenarnya mereka menguasai dunia ini sudah direncanakan jauh-jauh sebelum kita semua ada, karena apa? Tentu visi mereka ingin menciptakan new world order, one nation, one religion, one government and of course, and if you know what I mean.. One-Eye, the illuminati. Tentu saja mereka telah mengetahui dan mempelajari Al-Qur’an bertahun-tahun untuk mencari kelemahan umat muslim dan mulai mencari berbagai macam cara agar bagaimana mereka bisa menyesatkan kita walaupun mereka sudah mengetahui kebenaran Allah swt tetapi mereka adalah memang kaum yang paling suka melawan dan tidak mau menerima aturan Allah swt serta memusuhi umat muslim. Maka dari itu, mereka bergerak perlahan-lahan menjadi musuh dalam selimut baik kafir maupun munafik (yang membela kafir) dengan cara merusak Islam melalui citranya. Baik melalui perusakan akhlak generasi penerus muslim, ideologi modern yang sesat, media liberal, jaringan atau organisasi abal-abal yang berkedok islam maupun berkedok jihad untuk dibisniskan.

Ini langsung aja ya ana bahas kenapa kita umat muslim harus segera melawan kapitalis. “Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang zhalim, namun mereka tidak mencegahnya, dikhawatirkan Allah segera menimpakan hukuman dari sisi-Nya.” – Sabda Rasul dalam riwayat Nasai.

Sebelumnya ana memang sangat sedih, melihat dan menyadari keadaan kita yang memang sudah hidup di akhir zaman. Tetapi dibalik semua ini juga ana sangat-sangat bersyukur tiada hentinya kepada Allah swt karena ana disegerakan atas pentingnya pemahaman mengenai apa itu sejatinya arti kehidupan dan manusia dalam hidup ini. Ga ada yang paling ana nikmati dari kado petunjuk dan hidayah dari Allah untuk ana, karena orang-orang pilihan Allah hanyalah orang-orang yang beriman, mengikuti Rasul, dan yang mencintai Allah sebagaimana Allahpun mencintai mereka. Sesungguhnya seberat-berat hukuman yang Allah berikan kepada manusia adalah manakala ia telah berpaling darimu, dia tidak lagi mau berbicara dan mendengar pembicaraan darimu, ia biarkan engkau terlena oleh dunia tanpa perasaan menyesal disaat meninggalkannya. Cukuplah Allah menarik nikmat dan kelezatan ibadah dalam dirimu itu sebagai hukuman kepadamu (Al-Imam Hasan Al Bashri RA).

Berdakwah bukan hanya diatas mimbar. Mungkin ini judul yang tepat, karena dalam keadaan era demonstrasi (bahan olok-olokan) Indo yang sedang berlangsung sinema hukum tertukar antara Buni Yani dan Ahok ini, para anak-anak hedon dan generasi muda penerus bangsa sebagian besar sudah enggak lagi berada di Masjid, melainkan di sosmed atau internet lewat EYEphone EYEphone-nya mereka. Bahkan udah ga jarang ana liat banyak sekali yang dengan puas membuat jokes orang-orang yang membela Al-Qur’an, melontarkan perkataan tanpa disaring, ada juga yang bangga karena ninggalin kewajiban dan pamer maksiat di muka umum, serta ejekan, caci maki, canda tawaan, gosip-gibah, geng kaya miskin, maupun penyakit dengki hasad sudah merupakan makanan sehari-hari kebanyakan manusia tanpa dirasai perasaan takut. Ana juga sudah kebal dengan mereka yang melihat ana agak aneh dengan kefanatikan agama ana ini. Dari yang ngetawain ana pecinta rasul, anak pesantren, pake syar’i, calon suami teroris atau celana cingkrang, sampe dikatain mimpi jadi calon bidadari surga. Tapi justru ana malah kasihan sama mereka, bukan dendam sama sekali. Karena mau pembelaan gimanapun kalo pahamnya belum kesampean juga ga akan ngerti gitu, dan ana selalu ingat nasihat Imam Syafi’i dan Rasul, kalo dilarangnya bedebat dengan orang-orang yang bodoh, karena mereka akan menyakiti hati. Dan bagi kami, hal yang paling sia-sia adalah berdebat dan bergosip. “Orang yang paling sabar diantara kamu ialah orang yang memaafkan kesalahan orang lain padahal dia berkuasa untuk membalasnya.” -HR. Baihaqi.

Padahal ilmu agama itu luas. Kalo kita lihat ada tembok hitam dan ada titik putih lalu kita zoom-in itu titik putihnya bagaikan lautan. Dan sejatinya wanita yang saleh di dunia akan jauh lebih indah dari bidadari surga nanti karena ujian dan kesabaran yang mereka jalani di dunia ini terhadap ketaatan Allah, ibarat mereka seperti jajanan dan wanita salih ini nasinya. Allah maha adil kan? Jadi bagi ana nyesel banget tuh mereka yang hidupnya ikut mendewakan propaganda penyembah si one-eye ini. Secara ga sadar, mereka bangga ikut-ikutan trend bid’ah. contoh: pesta tahun baru, ulang-tahun, perayaan hari khusus, infotainment, drugs and alcohol, and even the most special offers are the music, high material and of course sex. Itu agenda penghancuran mereka, yang dimana intinya cari cara untuk misahin dari ilmu agamanya Allah, atau Tauhid. Masih banyak bid’ah lainnya yang buat kok hidup kaga enak-enaknya. Ya sejatinya itulah yang mereka tawarkan, jalan ke nereka. keasyikan dan kebebasan. Jadi bagi ana, mereka yang udah “sadar” kebenaran tapi udah terlanjur “keenakan” dan mendukung sistem “kebebasannya” (orang-orang munafikun), sejatinya bagaikan pengikut dajjal yang tersembunyi, kalau yang engga tobat-tobat dan sudah menjadi darah daging ya. Sorry to say, karena “pengikut hawa nafsu” dan apapun yang diawali dengan itu akan mengakibatkan kebatilan. Kalo yang belum sadar, dengan tulus hati ana doakan semoga segera bertaubat dan menjemput hidayah maupun petunjuk itu. Kejarlah seperti bola, bukan bola yang mengejar kita.

Perubahan memang memerlukan proses yang panjang. Apalagi dalam menuntut ilmu, dan proses memerlukan waktu. Namun waktu kita di dunia tidaklah banyak. Maka lakukan sekarang sebelum waktumu habis sia-sia. Itulah yang akan berdampak jika orang tidak punya ilmu agama atau tidak diterapkan dari kecil, ia hanya akan tumbuh dengan tujuan memenuhi dan memuja hawa nafsunya, demi mengejar duniawi saja, demi mencintai dan mengharapkan manusia saja. Materi yang tak dirasa cukup, popularitas-eksistensi, jabatan, kekasih maupun geng berkelas. Sad isn’t it? Beda dengan hal-nya yang berlomba dalam kebaikan dan ingin menjadi pasukan serta menanti sang Al-Mahdi, pemimpin khilafah kami yang pasti akan memimpin kembali kejayaan umat muslim di dunia. Tapi dikira gampang jadi pengikut Al-Mahdi? Hendaknya kita belajar. karena yang tersisa pada akhir zaman ini hanya akan ada pengikut Dajjal dan pengikut Al-Mahdi. Ingat, dajjal ini akan mempunyai jutaan pengikut dan bisa menjelma. Dan yang akan menjadi pengikut Al-Mahdi adalah hanyalah orang-orang yang beriman, yang berilmu, yang dapat memahami  Al-Qur’an dan Assunnah (Al-Hadits) sehingga mereka dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Adanya kabar Shahih dan Sah dari Rasulullah, Ahlussunnah wajib meyakini kedatangan Imam Mahdi. Bahkan kabar dan info yang di teliti oleh para Ulama Rabbaniyyun dan para Muhadits derajatnya Hadits ini adalah sampai Muttawattir. Dimana turunnya Imam Mahdi akan dinanti-nantikan seantero jagad raya ini bersamaan bersama Nabi Isa Alaihissalatuwassalam. Kita pun diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu AlaihissalatuWassalam apabila telah tiba kedatangannya untuk berbaiat dengan Imam Mahdi dengan cara apapun walaupun dengan cara merangkak. Jika di larang negara (itu pun kalo masih ada negara tsb di zaman itu) maka dengan senang hati harus melepaskan semua nya. Kewarganegaraan, perlindungan dari sistem thagut (hukum yang tidak berdasarkan syariat islam), riba, dan sebagainya. Tapi hanya orang beriman sajalah yang bisa. Untuk orang kafir dan munafik akan menyebut orang beriman ini sebagai teroris. Wallahu a’lamu. Bahkan ana pernah denger ada ulama yang cinta dunia tapi berujung jadi pengikut Dajjal (Ya allah T_T). Maka dari itu mumpung kita masih dikasih kesempatan oleh Allahu Tabaraka Wata’ala marilah kita perbanyak belajar mengkaji, memahami dan mengamalkan isi yang terkandung didalam kitab Alqur’an & Assunnah sehingga kita tidak tersesat dikemudian hari dan bisa berdiri dibarisan para prajurit Al-imam Mahdi. Carilah guru atau ustadz yang benar yag pengamalannya sesuai dgn Alqur’an dan Assunnah. Jika tidak sesuai dari tuntunan Rasulullah jangan diikuti. Karena dizaman skrg banyk sekali aliran2 yang menyimpang dr tuntunan Rasulullah. Misalnya yang merujuk pada kaum takfiri dan menjadikan kelompok ahli bid’ah atau khawarij. Amit-amit apalagi kalo ada yang gasadar Syi’ah. karena di kita udah banyak yang masuk. Ana juga serem sendiri. Pokonya banyak pengalaman ana menghadapi kelompok2 yang keras hati dan keras kepala, sampe gatel pengen marah liat ustad-ustad dicaci dan ana komen di grup facebook yang radikal, juga gasadar ke pengajian yang menipu (padahal ana sblmnya udah tanya abi ana dulu). Nyali ana sebesar apa coba demi mencari jalan kebenaran. Ana selalu banyak berdoa dan selalu mohon perlindungan sama Allah. Padahal ana ini wanita dan ana harusnya engga boleh tergesa-gesa. Yang penting kita niati belajar, dan hafalkan 10 ayat pertama surat Al-Kahfi setiap malam jum’at dan di hari jum’at agar kita semua dijauhkan dari fitnah akhir zaman atau dajjal. Allahumma Aamiin.

Balik lagi ke inti permasalahan, jika sebelumnya ana posting tentang bagaimana solusi kapitalis dan kehidupan dalam sistem khilafah. Masih kejauhan, dan jalan kita masih sangat panjang. Lalu bagaimanakah cara yang dapat kita maksimalkan terlebih dahulu? Baik, ana akan merangkum pembahasan mengenai 5 kaedah dalam memperbaiki umat (Al-Ishlah) menurut Syeikh M. Umar Mazbhul. Ini menyangkut dengan bagaimana menyadarkan umat jahiliyah masa kini juga. Berdakwah juga harus pakai ilmu bukan? Tidak dengan cara mereka yang memakai hawa nafsu, melawan atau mencaci, bahkan mengkafirkan saudaranya sendiri. Yang ada kita kabur ketakutan, ya kan? hehe…

Sebelumnya ana jelaskan, kita umat muslim harus rajin menuntut ilmu syar’i. Mengikuti Ahlussunnah, Manhaj Salafi. Ajaran Rasulullah saw dan jejak para sahabat rasul. Keutamaan dan keuntungan mengikuti Ahlussunnah adalah :

“Dan Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” QS. At-Taubah : 100

  • Mendapatkan ridhanya Allah swt.
  • Allah siapkan baginya surga, dan kekal selama-lamanya.
  • Keberuntungan / Kemenangan yang besar dan agung.

1. Bahwa isi atau pesan yang asas dan mendasar dari pesan ishlah adalah Tauhidah, dan perbaikan Aqidah. Dan ini merupakan cara dakwah para nabi dan rasul.

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” QS. An-Nahl : 36

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. QS. Yusuf : 108

Adapaun cara berdakwahnya dengan:

  • Bersaksi / Bersyahadat.
  • Berdasarkan dengan ilmu (Basira’)
  • Tidak dengan teriak2, melawan, atau mengata-ngatai
  • Berpesan jika tetap syirik, maka sebanyak amal apapun akan tidak diterima (Jika mengkufuri Tauhid).
  • Tidak dengan masih percaya tahayul (minta2 di kuburan, percaya dukun, kanjeng, atau semacem nyi roro kidul).

Lalu apa keuntungannya? Janji, Allah swt akan mendatangkan kemenangan di muka bumi dan akan dirubah ketakutan dengan syarat: hanya beribadah kepada Allah (mengtauhidkan) tidak syirik, kemudian berdasarkan syari’at islam yang sesuai. Disini masih sangat luas sekali ya, sesuai.. yang berarti shalat harus benar, wudhu harus bener, membedakan batal atau tidak, halal dan yang haram, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Jadi kudu dibenerin dulu gitu.

2. Perbaikan itu dimulai dari individu masing-masing. Tidak mulu harus menunggu, baik dari masyarakat, maupun dari penguasa.

Manhaj Sunnah, yaitu dengan tidak dengan berteriak atau menuntut penguasa tetapi syariatnya sendiri belom bener, misal kaga solat. Jadi pernah ada sebuah contoh di Al-Jazair, dimana partai islam pernah menang, tapi kebanyakan tuh masyarakatnya belom pada ngerti dan paham, jadi aja kemudian ga bertahan lama lalu dikendalai lagi oleh yang lain atau spt semula. Jadi, kudu didakwahi dengan penuh kesabaran dan ketabahan tentunya. Mengubah pemikiran dari yang buruk ke yang baik. Lalu, perbanyak belajar fiqih, tauhid, aqidah, cara beribadah yang baik, benar, dan sah. serta mengkaji dan membaca Al-Qur’an dan memahami terjemahannya. Adapun dengan bersedekah, tetapi tidak dengan asal-asalan. Dimulai dari mencukupi diri sendiri, kemudian istri, anak-anak, saudaramu, hingga pembantu-pembantumu. Karena modal kebaikan sebuah keluarga adalah pencapaian kemakmuran suatu desa. Dan hasil kebaikan maupun keberkahan desa adalah modal untuk perbaikan negara. Allahumma Aamiin. Karena tidak akan ada rusak di suatu daerah atau kaum jika masih menjunjung ilmu itu. Yuk perbaiki diri kemudian ke orang terdekat kita. Jangan kejauhan ngurusin mati-matian untuk jihad kalo disekeliling kamu masih berantakan hehe. Karena bagi pria mengurus orang tua yang sudah tua sama dengan jihad. Bagi wanita, menaati perintah suamipun juga jihad. kalo jihadnya jomblo? Belajar perbaikin akhlak, sebari menuntut ilmu, baik itu bekal pengantin, dan manahan hawa nafsu hehe.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” QS. Ar-Ra’d : 11

3. Sebelum berdakwah atau beramal juga harus memiliki ilmu. Karena dalam menuntut ilmu memiliki pahala yang sangat besar sekali.

Rasulullah bersabda ; “Mencari Ilmu adalah kewajiban dari setiap muslim.” – Anas bin Malik. dan “barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan, maka ia berikan paham mengenai agamanya.” – HR. Bukhari Muslim.

Ciri-ciri orang yang baik dimata Allah dan Rasul:

  • Orang itu mau belajar, walaupun capek atau susah.
  • Menunjukkan ke-Istiqamahannya di jalan Allah swt.
  • Mendapatkan pahala yang besar ; 1 bab ilmu yang dipelajari, lebih baik dari dunia beserta isinya.
  • Amalan yang besar dan paling dicintai Allah swt.
  • Dan siapa aja yang menuntut ilmu, (gapandang usia atau apapun itu) juga akan dicintai Allah swt.
  • Harus mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.

Jihad yang paling baik yaitu dengan menyampaikan terlebih dahulu yang Haq kepada para penguasa, bukan yang batil. Dan tidak ada bedanya cara penyampaian kepada penguasa dengan individu. Tidak menyakiti hati di hadapan orang lain, harus disisi (Inda’). Dan jangan pernah berkata kasar. Karena keimanan seseorang cukup dilihat dari lisannya. Hati-hati dengan suatu kebodohan, karena bisa menyesatkan atau merusak individu atau umat, bahkan bisa menghancurkan dan membunuhkan. Dan emang kalo engga ada orang yang berilmu, bisa mengakibatkan musibah. Ada yang gabisa bedain mana ulama atau bukan, yang bodoh jadi penguasa, yang nasihatin asal-asalan, ga ada dalil atau ambil dalil maupun ayat di waktu yang engga pas. (harus dari ulama, atau karena akan dipertanyakan oleh Allah swt). Tidak boleh seorang da’i berdiri diatas mimbar jika berbicara keburukan seorang penguasa karena bertentangan dengan ajaran Rasul. Barangsiapa yang ingin menasihati Sultan, maka jangan tampak di muka umum melainkan hanya empat mata.

4. Ilmu harus dibangun diatas Manhaj Al-Salaf Asshahih.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS. An-Nisa : 115

5. Menghiasi diri dalam berdakwah dengan sifat maupun akhlak yang terpuji dari sifat-sifat yang tercela.

  • Hiasi diri dengan ilmu dan fiqih melalui majelis2 ilmu, ustad2 yang terpercaya, berkumpul dengan orang-orang shalih. Menambah wawasan dan membuka pola pikir. Dan amalan yang paling dekat ke surha adalah, dengan menuntut ilmu. Jalan menuju majelis2 ilmu juga merupakan ladang pahala.
  • Berlemah lembut ketika berdakwah, tidak kasar, tidak cemberu, ketus, atau manyun.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” QS. Al-Imran : 159

  • Tidak dengan terburu-buru atau tergesa-gesa maupun cepat marah. Sabar dalam berdakwah.

Allah akan menyempurnakan orang yang sabar dengan tanpa hisab di hari nanti. Mungkin ini bagian yang sulit. Mau menjadi kaum salafi tetapi bukan seperti kaum salafi, yang masih sangat jauh seperti akhlak dan keimanan para sahabat rasul. Setiap perjalanan harus dengan didasari dengan ilmu, dan dengan tidak asal mengambil referensi atau dalil yang tidak sahih. Maka tidak semua ulama bisa berbicara, pentingnya melatih ketabahan dan pemahaman dalam menyampaikan sesuatu agar dapat diterima dengan baik dan benar. Orang yang kuat, orang yang menahan hawa nafsu (sabar) dan orang yang berani yaitu orang yang memegang sunnah. Jadilah orang yang kuat dengan menjadikan setan sebagai musuh. Harus dengan dilawan rasa itu. Dan orang yang berilmu, yaitu yang memiliki rasa takut kepada Allah, bergetar hatinya jika mendengar nama Allah, dan tidak tenang hatinya jika berbohong atau melakukan dosa. Allahumma Aamiin.

Jadiii maksimalkan waktu dan fasilitas yang ada dalam hal yang bermanfaat dan tinggalkan hal yang sia sia karena sungguh hal yang sia-sia hanya bersifat sementara yang berujung pada kerugian dan penyesalan. Serta jalan ke surga banyak cara dan bekal yang akan menolong kita nanti hanya amal bukan apapun, dan surga juga tidak bisa menerima sistem orang dalem kecuali dengan memilikinya anak-anak yang salihah. Karena pada hari nanti orang-orang akan saling putus hingga rela menggadaikan sanak-keluarganya demi tidak ingin merasakan pedihnya azab Allah swt. Tetapi ingat juga Hablumminallah dan Hablumminannas, karena kita hidup juga selain hanya beribadah kepada Allah swt juga disuruh bekerja dan berusaha menjemput rezeki yang halal. Sebagai penutupan, nih ana kasih sebuah gambaran video yang bagus. Simak video terbaru dari lampu islam berikut yang akan membuat kalian tercengan : When Illuminati Rules The World Indonesian Subtitle . Semoga apa yang telah ana sampaikan dapat bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kekurangan. Wassalamualaikum Wr Wb 🙂

maxresdefault.jpg

Sistem Freemansory dan Sistem Khilafah

Apa Saja Agenda Rahasia Yahudi – Zionisme ?

1. Freemasory & Illuminati (1-12)
Hancurkan musuh-musuhnya lewat:

FINANCE
FOODS
FILMS
FASHION
FANTASY
FAITH
FRICTION
Complicting Ideologis
Industri Senjata / Jadwal Perang
Lembaga Keuangan Internasional
Industri Logistik / Rekonstruksi Pasca Perang
Industri / Pengebaran Candu / Narkoba / Miras / Rokok.

2. Zionisme Internasional (13-21)

Ciptakan / kendalikan The New World Order
Ciptakan Revolusi Nasional & Perang Dunia
Rekayasa Separatisme dan desintegrasi
Ciptakan Revolusi Sex (Freesex, Homosex, Lesbian)
Rusak Keluarga (Domestic Partner, Aborsi)
Buat Aliran – Aliran Sesat
Buat / Kuasai Senjata Biologis / Virus / Senjata Cuaca / Pemusnah Massal
Promosikan Sekularisme sebagai agama baru / masa depan
Promosikan Multi Partai.

3. Trio Imperialisme  (30-38)

Ciptakan Program-Program kemiskinan
Kuasai Aset Ekonominya
Kuasai Kekayaan Alamnya
Kuasai Aset Informasinya
Kuasai Sistem Politik dan Hukumnya
Hancurkan Moral Rakyatnya
Hancurkan Militansi Rakyatnya
Suburkan Deislamisasi (Sekularisme, Liberalisme, & Pluralisme)
Ramaikan Pemurtadan.

4. Skenario Separatisme dan Agressi dari luar  (39-46)

Terpurukkan Ekonomi Nasionalnya
Pertentangan Elit Politiknya
Suburkan Konflik Horizontalnya
Pecah–Belah Militernya
Datangkan “ Pasukan Perdamaian“
Buat Serbuan Paradigmatis
Buat Sel-Sel Perlawanan
Invasi Militer Setelah Diciptakan Status Legal Intervention.

6. Penyebaran Pemikiran Sesat  (47-50)

Karl Marx (Materialisme dan Atheisme)
Sigmund Freud (Instinc Sexual & Libido)
Nietze (Mencari Kepuasan Meski Dengan Kekejian)
Charles Darwin (Manusia dari Monyet, yang Kuat harus mengalahkan yang lemah).

7. Penghancuran Dunia Abad 21  (51-57)

Membom Mekkah (Usul Senator Tancredo)
Hapuskan Indonesia 2025
Hapuskan Pakistan 2025
Hapuskan beberapa Negara Afrika 2025
Perang Dunia ke III (Untuk Membuat Israel Raya)
The New Crusade
Membunuh 3 Miliyar penduduk yang tidak disukai dengan kelaparan & penyakit th 2050 (proyek 2025 diusulkan oleh W. Cohen).

Source: islamidia.com


Bagaimanakah Cara Kapitalisme / Freemansory Menguasai Dunia ?

FullSizeRender (30).jpg

Diambil dari tulisan Ustadz Dwi Condro Triyono, Ph.D (Penulis buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara) Tentang Cara Kapitalisme Menguasai Dunia, divisualisasi oleh @Benefiko dalam postingan berikut, semoga bermanfaat 🙂

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

  • Part 1/9 – Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal)
    Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”

    Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi

    Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?
    Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

    Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini. Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

  • Part 2/9 – Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinyaDengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal. Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal

    Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN). Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

  • Part 3/9 – Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modalJika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.
    Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal

    Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?
    Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

  • Part 4/9 – Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi)Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.
    Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal

    Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya. Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

    Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal. Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya?

  • Part 5/9 – Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut. Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

    Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka. Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya.

  • Part 6/9 – Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?
  • Part 7/9 – Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya? Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

    Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya

  • Part 8/9 – Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry),seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini. Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?
  • Part 9/9 – Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia.

KESIMPULAN

Mari buka mata, dan lihat bagaimana kondisi negeri ini tengah sejalan dengan analisa yang dipaparkan

Sebagian besar kita masih banyak yang belum melek fakta bahwa sistem Kapitalisme adalah ancaman nyata yang sesungguhnya, dan kita tengah hidup di dalamnya.

Bukan Islam, bukan Syariah, bukan Khilafah yang menjadi ancaman untuk negeri ini.

Karena jika kita bertanya apa solusi atas cengkraman Kapitalisme Global saat ini, bukan kembali kepada Sosialis-Komunisme yang sama rusaknya, namun solusinya hanya tegaknya Khilafah ala Manhaj Kenabian yang menerapkan sistem Islam secara sempurna.

Karena itulah, hari ini kita dibelokkan agar memandang buruk sesuatu yang secara nyata dan secara keimanan akan menyelamatkan kita dari cengkraman Kapitalisme ini. Tentu saja para Kapitalis yang tengah mengontrol dunia saat ini sangat tidak senang jika kita, terutama umat muslim menyadari bahwa solusi itu ada di tangan mereka, ada pada Islam.

Tak heran mereka sungguh-sungguh berupaya menutupi ketinggian Islam yang sebenarnya. Mereka berupaya agar tak tercipta kesadaran penuh terhadap Islam dalam diri umat muslim hari ini. Sebab mereka percaya dan meyakini benar, kebangkitan Islam akan menjadi keruntuhan hagemoni mereka.

Jangan sampai kita justru menyangsikan kebangkitan Khilafah Islam, berarti kita kalah “yakin” dari para kapitalis itu.

[ @benefiko  ]


BAGAIMANA SOULUSINYA ?

IMG_5637.JPEG

Struktur Khilafah / Negara Islam 

Di masa Rasulullah saw, beliau mempraktikan dengan nyata, bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan sosial. Termasuk dalam bernegara

Rasulullah misalnya mengangkat Abu Bakar dan Umar bin Khaththab sebagai pembantunya, mengangkat wali-wali untuk mengurusi urusan di berbagai daerah, juga mengirimkan surat-surat dan utusan pada negara-negara tetangga

Ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa Rasulullah saw bertindak sebagai kepala negara, yang menerapkan hukum-hukum Allah ketengah-tengah ummat, dan menjadikan dirinya pemutus terhadap semua perkara

Maka inilah kemerdekaan hakiki, bebas dari menghamba dan menaati manusia, menuju ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Bila ini sudah terwujud, maka itulah maksud daripada #IslamRahmatanLilAlamin

Yaitu Islam yang memberikan kebaikan bagi semua yang ada di alam semesta, berkah dari apa yang diberikan pada Nabi kita Muhammad, berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah

14068301_740115946128297_140304446530386295_n

Sistem Peradilan Islam

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS An-Nisaa [4]: 65)

Dan banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita terikat dengan hukum Allah, dan kembali pada hukum Allah dalam setiap keputusan kita. Begitulah semangat dalam peradilan Islam

Kehidupan ditegakkan dengan keadilan. Maka Islam menjamin agar keadilan ini bisa dirasakan oleh semua manusia, Muslim ataupun Kafir, kesemuanya berhak atas keadilan Islam

Maka sistem peradilan Islam satu paket dengan sistem pembuktian Islam, dimana pelaku harus terbukti bersalah sebelum mendapatkan hukuman, dengan alur yang sudah tersistematis

Islam juga meminimalisir kecurangan-kecurangan yang biasa terjadi dalam sistem peradian dengan menjadikan pelanggaran ditindak semudah mungkin, juga dengan hukum yang diketahui semua ummat, hingga tidak ditafsirkan secara sepihak atau dimonopoli pihak tertentu

Di masa Rasulullah, beliau bertindak sebagai hakim kepala, dan membawahi hakim-hakim lain yang memutuskan perkara menurut Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sesuai Islam

Dan tidak hanya itu, sistem sanksi dalam Islam juga menyebabkan 2 kebaikan lain, yaitu ampunan Allah bagi pelakunya, dan juga pencegahan bagi yang lainnya untuk berbuat yang sama

Begitulah #IslamRahmatanLilAlamin dapat dicapai, yaitu dengan menerapkan apa yang Allah turunkan kepada manusia, yakni Islam

14079703_740644906075401_2265435580284039235_n

Sistem Pendidikan Islam

Dalam Islam pendidikan bukan hanya transfer of knowledge, tapi yang terpenting adalah transfer of character

Sebab transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan, semuanya bisa melakukan, bahkan Google pun bisa menggantikan manusia dalam transfer ilmu. Tapi tidak dengan transfer karakter, yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang salih/salihah, dengan dasar yang tepat yaitu aqidah Islam

Basis pendidikan Islam tentu aqidah Islam, dengan itu seseorang memiliki landasan dalam berpikir dan beramal, dalam menilai sesuatu dia memiliki sudut pandang yang khas, pun begitu saat memenuhi keperluan jasmani dan nalurinya

Setelah memiliki aqidah yang benar, cara pandang yang benar, ideologi yang benar tentang kehidupan ini. Barulah pendidikan bisa ke tahapan selanjutnya

Barulah manusia itu diajarkan tentang kewajiban-kewajiban dirinya sebagai seorang Muslim, baik fardhu ‘ain ataupun fardhu kifayah, karena tidak lain dan tidak bukan hidup ini hanya untuk menyembah Allah

Diapun akan diajarkan tentang pengetahuan yang lahir dari aqidah Islam, yaitu tsaqadah Islam. Bagaimana sejarah, budaya, dan pemikiran-pemikiran Islam dalam level yang lebih praktis

Ketika seseorang paham hidupnya hanya untuk beribadah pada Allah, maka dia tidak lagi membedakan antara dunia dan akhirat. Maka pencapaian di dunia adalah bagian kesuksesan di akhirat, disitu kaum Muslim menguasai sains dan teknologi, karena dorongan keimanan, bukan dorongan lain

Begini sistem pendidikan dalam Islam, yang sudah sukses melahirkan semua ahli dalam segala bidang ilmu sepeninggal Rasulullah saw

Dan yang terpenting, sistem pendidikan Islam ini barulah mewujud bila diterapkan dalam Khilafah, karena kita mengetahui bahwa satu sistem akan ditunjang oleh sistem yang lainnya sebagai satu kesatuan

Begitu fakta ketika Islam diterapkan secara kaaffah, generasi-generasi muda akan lebih kuat dari pendahulunya, dan yang terpenting, mereka membangun tsaqafah dan sains serta teknologi dari basis aqidah, hingga tercipta Muslim dengan kepribadian Islam yang paripurna

#IslamRahmatanLilAlamin bagi manusia, bila Islam diterapkan secara sempurna, sebagaimana Nabi Muhammad saw dan Khulafaurrasyiddin mencontohkannya kepada kita semua

14080045_740654612741097_4106133457910483998_n.jpg


Sistem Ekonomi Islam

Sudah diketahui umum, bahwa dalam satu ideologi, sistem ekonomi akan lebih menonjol ketimbang sistem yang lainnya. Misalnya sistem ekonomi kapitalisme lebih dikenal daripada ideologi sekularisme, dan sistem ekonomi komunisme lebih dikenal daripada ideologi sosialisme

Kedua sistem ekonomi itu, kapitalisme dan komunisme, telah terbukti menyengsarakan orang banyak. Komunisme sudah banyak ditinggalkan, terutama pasca runtuhnya Uni Soviet. Dan sekarang kapitalisme pun sukses akibatkan kesenjangan yang sangat besar hingga konflik fisik penjajahan

Berbeda dengan kapitalisme yang membolehkan siapapun memiliki apapun, dan juga berbeda dengan sosialisme yang menyatakan semua dikuasai oleh negara, sistem ekonomi Islam membatasi kepemilikan sesuai dengan perintah Allah Swt

Islam membolehkan individu memiliki sejauh yang Allah izinkan, dan menahannya dari memiliki segala yang berkaitan dengan kepentingan umum seperti sungai, hutan, jalan dan barang tambang, dan menjadikannya kepemilikan umum. Ada pula kepemilikan negara, yang tidak boleh dimiliki oleh individu dan umum

Pendek kata, Islam memberikan keadilan bagi semuanya, dan menjadikan aqidah sebagai dasar seseorang melakukan kegiatan ekonomi. Islam mengatur, siapa boleh memiliki apa, bagaimana cara memilikinya, bagaimana mendistribusikannya, dan bagaimana mengeluarkannya

Sistem ekonomi ini yang terbukti berjaya selama 13 abad, bukan menghasilkan kemewahan ala kapitalis, tapi kesejahteraan yang sesungguhnya, kesejahteraan untuk menopang ibadah

Mana yang kita pilih dan rindukan? Sistem kapitalis dan komunis yang sudah terbukti menyengsarakan, ataukah sistem ekonomi Islam yang berasal dari Allah, yang sudah pasti akan memberikan

13907138_740990769374148_4139973428215379058_n.jpg

Sistem Politik Dalam Negeri

Dalam Islam, definisi politik tidaklah sama sebagaimana yang diartikan oleh Machiaveli, yang menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuannya, terkesan kejam dan kotor, culas dan merugikan

Dalam Islam, politik itu artinya siyasah, yang diambil dari kata sasa-yasusu yang artinya ri’ayah (mengurus urusan). Dan mengurus urusan ummat ini adalah bagian tuags para Nabi, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad

Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya – HR Muslim

Maka tugas dari penguasa Islam di dalam megerinya adalah menerapkan hukum Allah secara total dalam setiap aspek kehidupan, hingga tercipta kebaikan sebagaimana yang dijanjikan Allah di dalam Al-Qur’an

Karena tugas utama dari penguasa adalah menerapkan hukum Allah ketengah-tengah ummat, sebab dalam Islam, tidak ada perbedaan ketaatan antara ibadah ritual dengan ibadah muamalah, semua sama-sama ketaatan

Benarlah #IslamRahmatanLilAlamin, saat diterapkan hukum-hukumnya ditengah ummat, bagaimana tidak, hukumnya saja berasal dari Allah Dzat yang Mahatahu tentang manusia, Mahaadil akan setiap keputusan

14068093_741532565986635_7793200907625774204_n.jpg


Sistem Politik Luar Negeri

Politik luar negeri negara Khilafah bisa diartikan mudahnya, adalah politik dalam negeri yang diberlakukan pada negara-negara lain. Dan dalam Islam, politik luar negeri negaranya adalah mengemban Islam sebagai ideologi ke seluruh alam

Metode mengemban Islam ke seluruh alam ini pun sudah dibakukan semenjak zaman Rasulullah saw, yaitu dengan dakwah dan jihad. Rasululah pernah mengirim surat kepada Kaisar Romawi dan Kisra Persia untuk mengajak mereka masuk Islam berjamaah

Rasulullah juga pernah memerintahkan untuk berjihad di Mu’tah dan Tabuk dengan pasukan Romawi yang menghalangi dakwah secara fisik. Begitupun juga yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin. Dakwah dan Jihad

Dalam Islam, negeri kaum Muslimin tidak dikotak-kotakkan berdasarkan nasionalisme, tapi dianggap satu wilayah dan satu kepemimpinan sebagaimana yang Rasulullah contohkan, juga Khalifah setelahnya

Dan sebagai kepala negara, Khalifah juga berhak untuk menentukan status hubungan antara Khilafah dengan negeri-negeri lainnya. Dan interaksi dengan negara tersebut akan bergantung pada statusnya.

Hanya #IslamRahmatanLilAlamin yang memiliki kemampuan untuk mengatur manusia sevara total, sebab dia berdasar dari pencipta manusia, Allah Swt

14063951_742078169265408_2526702427467826666_n.jpg


Sistem Pergaulan Islam

Islam mengatur sistem pergaulan dengan mengatur esensi daripada pergaulan itu sendiri, yaitu interaksi antara lelaki dan wanita, dan apapun yang muncul akibat interaksi tersebut

Islam menggariskan pada dasarnya kehidupan lelaki dan wanita adalah terpisah satusamalain, sehingga lelaki dan wanita beraktivitas pada kehidupannya masing-masing tanpa bercampur baur

Walau memang, interaksi antara lelaki dan wanita tidak akan dapat dihilangkan sama sekali, karenanya syariat mengatur, dalam hal apa saja lelaki boleh berkumpul dan berinteraksi dengan wanita, dan bagaimana caranya

Syariat membolehkan interaksi lelaki wanita bila memang interaksi itu diharuskan, sebagaimana dalam perkara dagang, peradilan, kesehatan, atau pendidikan.

Namun syariat juga melarang lelaki dan wanita berinteraksi dalam perkara lain yang terdapat ikhtilath, seperti makan bersama, nonton bersama, pergi safar bersama-sama, sebagaimana yang kita saksikan pada masa ini

Saat ikhtilath itu diharamkan dalam syariat, maka akan tercipta ketenangan dalam masyarakat, dan jauh dari gejolak nafsu dan kasus-kasus dimana wanita dilecehkan secara seksual

Beginilah #IslamRahmatanLilAlamin yang seimbang, tidak mengekang lelaki dan wanita di satu sisi, juga tidak membiarkannya bebas sebebas-bebasnya. Tapi menaruh keduanya dalam timbangan yang pas

14046075_742158395924052_7304924236300186734_n.jpg

Sistem Pergaulan Islam;

Sistem Yang Memuliakan Wanita

Islam adalah sebuah sistem sempurna dan paripurna, yang datang dari Sang Pencipta yang tunggal, Allah Swt, yang diturunkan bagi manusia untuk menyelesaikan setiap permasalahan dirinya

Bagi wanita khususnya, Islam datang untuk memuliakan mereka, dan menaruh wanita pada posisi fitrahnya. Tidak mengekang wanita di satu sisi sebagaimana masa lalu, juga tidak membebaskannya tanpa batas seperti peradaban yang dibangun barat

Tapi Islam datang untuk membebaskan wanita dari belenggu duniawi, membebaskan wanita dari penyembahan terhadap sesama manusia, perendahan dan pelecehan sesama manusia, Menuju penyembahan sejati pada Allah, yakni ketaatan

Misalnya, Islam melarang khalwat (berdua-duaan) antara lelaki dan wanita hingga wanita terjaga senantiasa kehormatan dirinya, mendorongnya untuk mendidik dirinya sebagai persiapan mendidik generasi lanjut, dan menjaga kemuliaannya dengan menutup aurat

Islam juga memberikan ruang yang sangat besar dalam koridor syariat bagi wanita untuk mengekspresikan dirinya. Bahu-membahu bersama lelaki dalam menaati Allah dan Rasul-Nya

Tidak seperti dalam sistem kapitalis dimana wanita justru dieksploitasi dan dikeluarkan dari fitrahnya, yang akhirnya berdampak pada munculnya banyak masalah sosial. Islam justru menyelesaikan semuanya

Inilah salah satu tanda bahwa#IslamRahmatanLilAlamin, yaitu bahwa manusia benar-benar dimanusiakan, khsususnya wanita benar-benar diangkat dan mendapatkan posisi mulia dalam timbangan syariat

14117711_742631345876757_5720945527516374538_n.jpg


Tahapan Dakwah Rasulullah

Rasulullah adalah sebaik-baik manusia dan sesempurna contoh, terutama dalam dakwah, maka bagi Muslin wajiblah dirinya terikat hanya dengan metode yang digariskan Rasulullah saw

Dalam berdakwah, Rasulullah memperkenalkan tahapan-tahapan dakwah kepada kita, diantaranya

1. Fase pembinaan dan pembentukan kelompok sahabat
2. Fase beraktivitas ditengah ummat dan mensyiarkan Islam
3. Fase penerapan hukum Islam secara kaaffah dalam kekuasaan

Maka siapapun yang mengkaji Islam akan menemukan bahwa Rasulullah saw membentuk kelompok dakwah dan membina mereka

14051809_745696295570262_1821751466421516846_n.jpg

Sebab itulah dakwah haruslah berjamaah, sebab itu sunnah. Rasulullah juga menata pemikiran sahabat dengan pemikiran Islam, sebelum memerintahkan mereka mendakwahkan Islam di tengah ummat

Rasul berdakwah secara sistematis dan menyeluruh, agar Islam bisa diterapkan di seluruh aspek kehidupan

Dari sinilah akan datang kebangkitan Islam dan keberkahan, dengan metode dakwah Rasulullah

[ @alfatihstudios ]