Ringkasan Kajian Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily

Istiqlal, 7 Januari 2018

1. Tauhid merupakan kunci kebahagiaan dan kejayaan. Tauhid merupakan tema yang sangat agung . Tauhid menurut bahasa berarti menjadikan sesuatu itu satu. Tauhid itu menjadikan Alloh azza wa jalla satu dalam zat-Nya, dalam beribadah kepada-Nya.

2. Tauhid ada tiga

a. Tauhid Rububiyah

Mengesakan perbuatan-perbuatan hanya untuk Alloh yaitu menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur alam semesta.

b. Mengesakan Alloh dalam nama dan sifat-sifat-Nya

Meyakini bahwa Alloh tidak ada sekutu dalam nama dan sifat-sifat-Nya, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengampun dan seterusnya.

Wajib bagi muslim untuk mengimani-Nya. Tidak ada yang sama dengan Alloh Subhanahu wa ta’ala.

Mengesakan Alloh Subhanahu wa ta’ala dalam sifat-sifat-Nya. Meyakini Alloh dalam sifat-sifat-Nya seperti hikmah Alloh, Keagungan Alloh, Kaki Alloh, dua tangan Alloh, Istiwa’ Alloh, turun-Nya Alloh dan seterusnya.

c. Uluhiyah: Mengesakan Alloh sebagai Illah dalam bentuk ibadah, rasa takut, harap hanya kepada Alloh.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Wajib bagi kita beribadah kepada Alloh.

3. Kebahagiaan menurut bahasa adalah ketenangan jiwa dan hati. Kebahagiaan terbesar seorang hamba adalah ketika dimasukkan ke dalam surga selamanya.

4. Malaikat Jibril disebut Alloh sebagai ruh, karena menurunkan wahyu bagi manusia sehingga hati menjadi hidup.

5. Kebahagiaan hati seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh. Dengan beribadah, hati menjadi tenang. Tenangnya hati karena berzikir kepada Alloh.

6. Dengan tauhid seorang hamba menjadi bahagia. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat yang diberikan kepada orang yang bertakwa.

7. Kebahagiaan seorang hamba di akhirat adalah ketika dimasukkan ke dalam surga. Tidak ada lagi rasa takut dan sedih. Sebesar-besarnya nikmat penghuni surga adalah melihat wajah Alloh. Manusia hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

8. Kejayaan bagi ahli tauhid adalah sesuatu yang nyata. Kejayaan dibagi dua yaitu kejayaan di dunia dan di akhirat. Kejayaan yang diberikan Alloh contohnya yang diberikan kepada Nabi Musa dan pengikutnya dan kekalahan bagi Firaun dan pengikutnya. Contoh lain adalah kejayaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam untuk mengalahkan orang Yahudi dan Quraisy. Alloh akan selalu memberi kemenangan bagi orang yang bertauhid.

9. Kejayaan yang diberikan Alloh di akhirat lebih agung dari pada kejayaan yang diberikan Alloh di dunia. Alloh memmasukkan para ahli tauhid, para wali Alloh ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.

10. Orang yang bertauhid dengan sebenar-benarnya akan diberikan oleh Alloh kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan di akhirat.

11. Cara mewujudkan tauhid dalam diri kita adalah dengan mewujudkan dua dasar penting :

– Beribadah kepada Alloh dengan hati, hanya takut, berharap, tawakal dan bernazar kepada Alloh. Tidak boleh beribadah kepada malaikat, Nabi, para wali, dan orang sholeh.

– Berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan. Dulu kaum Quraiy beribadah kepada Alloh tapi mereka tidak berlepas diri dari kesyirikan. Maka selain beribadah kepada Alloh, wajib bagi diri kita berlepas diri dari kesyirikan.

12. Kebutuhan anak-anak akan tauhid jauh lebih besar dari pada kebutuhan akan makan, minum dan pakaian. Perhatian orang tua terkait tauhid juga hendaknya lebih besar dari pada perhatian terhadap makan, minum dan pakaian anak mereka. Ajarilah anak untuk beribadah, meminta, memohon pertolongan hanya kepada Alloh. Jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu.

Sesi tanya jawab

1. Bagaimana cara menanamkan tauhid dalam keluarga dan tips menciptakan keluarga yang sesuai dengan sunnah?

Keluarga yang baik diawali dengan memilih pasangan yang baik agamanya. Suami wajib mendidik istrinya di atas agama yang benar. Perlu kerjasama yang baik antara suami dan istri.

2. Bagaimana cara tawasul yang benar?

Tawasul secara bahasa adalah mendekatkan diri. Secara syariat adalah mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh.

Tawasul terbagi menjadi :

– Tawasul dengan menyebut nama Alloh

– Tawasul dengan amalan ibadah kepada Alloh

– Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup

– Tawasul dengan minta langsung kepada Alloh

Tidak termasuk tawasul adalah meminta kepada orang yang sudah mati.

3. Bagaimana cara memahami bersemayamnya Alloh di atas arsy?

Seorang muslim wajib meyakini istiwa’nya Alloh. Istiwa’ telah diketahui maknanya, tapi tidak diketahui tata cara dan wujudnya dan bertanya tentang tata cara dan wujudnya adalah bid’ah. Istiwa’nya Alloh berbeda dengan istiwa’nya mahluk. Kita tidak boleh mentakwil makna istiwa’

4. Bagaimana kiat agar istiqomah bertauhid sampai akhir hayat?

Sebab agar bisa istiqomah sampai akhir hayat :

– Tawakal dan berserah diri kepada Alloh, berdoa agar ditetapkan hati hanya kepada Alloh

– Berdoa di setiap waktu kepada Alloh agar selalu diberi ketetapan iman dan islam kita.

– Istiqomah dan senantiasa beribadah kepada Alloh

– Menuntut ilmu agar dijaga dari syubhat dan kerancuan

– Menahan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan

5. Bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak yang masih kecil?

Ajarkan untuk selalu memuji Alloh, mencintai Alloh, melebihi cinta kepada siapapun. Kita harus menjadi teladan bagi mereka. Ajarkan matan-matan ringkas kepada mereka, sehingga bisa menangkis syubhat-syubhat terkait tauhid.

*Nasihat penutup*

Pentingnya perhatian kepada tauhid dan sunnah karena banyaknya mereka jatuh kepada kesyirikan karena kebodohan mereka. Ajarkanlah tauhid dan sunnah bagaimana beribadah yang baik dan benar.

*Selesai Diringkas oleh Abu Abdul Hafiizh pukul 11:40 WIB*

http://www.adis.web.id

Advertisements

Palestina Yang Terjajah

Negeri Palestina yang (kembali) terjajah oleh zionis Yahudi. Bukan yang pertama terjadi padanya, namun sudah menjadi Sunnatullah bahwa akan senantiasa terjadi pertentangan antara Kebenaran dan Kebathilan. Pendudukan Zionis Yahudi atas negeri Palestina (secara umum) dan masjid Al-Aqsa (secara khusus) serta pengakuan Presiden Amerika, Donald Trump atas ibukota Negara Zionis di Yerusalem merupakan tindakan penjajahan atas negeri Palestina, dan sungguh tidak ada sebutir tanahpun yang mereka (Yahudi) miliki karena Palestina milik kaum muslimin. Semoga Allah memberikan pertolongan bagi kaum muslimin disana dan menghancurkan Yahudi dan sekutunya dimanapun mereka berada. Yuk simak penjelasan tentang keutamaan negeri Palestina dan sejarah kelam Yahudi Zionis di dunia, yang  disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc. dalam kajian umum berjudul “Palestina yang Terjajah” berikut ini. Jangan lupa ajak saudara, kerabat, dan teman untuk menonton dan membagikan video ini ya..

Image result for palestina yang terjajah

Youtube Link : Palestina Yang Terjajah

Channel Resmi:

▶ Fanpage FB : https://www.facebook.com/abdurrahmanthoyyib

▶ Telegram : https://t.me/abdurrahmanthoyyib

▶ Instagram : https://www.instagram.com/abdurrahmanthoyyib

▶ Web : https://abdurrahmanthoyyib.com/

Sifat Wudhu & Shalat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

 

 

gambar diambil dari buku:

📚sifat Wudhu & Shalat Nabi ﷺ
👤ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas
📝pustaka Imam Asy-Syafi’i


 

Untuk bacaan sifat wudhu dan shalat Nabi ﷺ bisa di download disini :

Sifat Wudhu & Shalat Nabi ﷺ PDF

Lebih jelasnya, simak di youtube :

Kajian Ilmiah: Rukun Islam ke-2 (Shalat & Tata Caranya) – Ustadz Badru Salam, Lc


 

Kesalahan – Kesalahan dalam berwudhu 

Sebagaimana ibadah yang lain, wudhu pun wajib untuk mengikuti tuntunan dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam mengerjakannya. Karena Al Qur’an dan hadits adalah sumber landasan hukum dalam Islam, serta acuan dalam mengerjakan ibadah. Maka tidak boleh kita melakukan ibadah hanya dengan dasar pendapat seseorang, opini seseorang atau logika semata. Lebih lagi jika tidak memiliki dasar sama sekali alias asal-asalan.

Oleh karena itu, pembahasan kali ini akan memaparkan secara ringkas beberapa amalan dan keyakinan yang salah seputar wudhu, karena amalan dan keyakinan tersebut tidak dilandasi oleh Al Qur’an dan hadits yang shahih. Beberapa amalan dan keyakinan tersebut adalah:

1. Melafalkan niat wudhu

Sebagian orang melafalkan niat wudhu semisal dengan mengucapkan: “nawaitul wudhu’a liraf’il hadatsil asghari lillahi ta’ala” (saya berniat wudhu untuk mengangkat hadats kecil karena Allah Ta’ala) atau semacamnya. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mencontohkan melafalkan niat sebelum wudhu, dan niat itu adalah amalan hati. Mengeraskan bacaan niat tidaklah wajib dan tidak pula sunnah dengan kesepakatan seluruh ulama. Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi mengatakan, “Tidak ada seorang imam pun, baik itu Asy Syafi’i atau selain beliau, yang mensyaratkan pelafalan niat. Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para imam)” (Al Ittiba’ hal. 62, dinukil dari Al Qaulul Mubin Fii Akhta-il Mushallin, hal. 91).

Sekali lagi niat itu amalan hati dan itu mudah, tidak perlu dipersulit. Dengan adanya itikad dan kemauan dalam hati untuk melakukan wudhu untuk melakukan shalat atau yang lainnya, maka itu sudah niat yang sah.

2. Tidak mengucapkan basmalah

Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah atau mengucapkan “bismillah” hukumnya wajib ataukah sunnah. ٍSebagian ulama mewajibkan dengan dalil hadits: “tidak ada shalat bagi yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil). Namun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah karena beberapa hal:

a. Membaca basmalah tidak disebutkan bersamaan dengan hal-hal wajib lainnya dalam surat Al Maidah ayat 6

b. Keumuman hadits-hadits yang menjelaskan mengenai cara wudhu Nabi, tidak menyebutkan mengucapkan basmalah (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/159).

c. Makna “tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” adalah penafian kesempurnaan wudhu (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/158 – 159).

Namun demikian, baik beranggapan hukumnya sunnah ataupun wajib, meninggalkannya dengan sengaja adalah sebuah kesalahan.

3. Melafalkan doa untuk setiap gerakan

Sebagian orang menganggap ada doa khusus yang dibaca pada setiap gerakan wudhu. Yang benar, doa-doa tersebut tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan hanya berasal dari hadits-hadits yang palsu. Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/195) mengatakan: “semua hadits tentang dzikir-dzikir yang dibaca pada setiap gerakan wudhu adalah kedustaan yang dibuat-buat, tidak pernah dikatakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sedikit pun dan tidak pernah beliau ajarkan kepada umatnya”.

4. Memisahkan cidukan air untuk berkumur dan istinsyaq-istintsar

Jika dalam berwudhu anda berkumur-kumur tiga kali, kemudian setelah itu baru beristinsyaq (memasukan air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan cidukan air yang berbeda, maka ini tidak sesuai dengan praktek Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Yang beliau contohkan adalah berkumur-kumur, istinsyaq, dan istintsar itu dengan satu cidukan kemudian ulang sebanyak 3x. Sehingga untuk berkumur-kumur, istinsyaq, dan istintsar hanya melakukan 3 cidukanDari Abdullah bin Zaid radhiallahu’anhu beliau menceritakan cara wudhu Nabi, “Rasulullah menciduk air dengan kedua telapak tangannya dari bejana kemudian mencuci keduanya, kemudian mencuci (yaitu berkumur-kumur dan beristinsyaq) dari satu cidukan telapak tangan, beliau melakukannya 3x …” (HR. Bukhari 191).

5. Tidak mencuci lengan hingga siku

Padahal Allah Ta’ala berfirman mengenai rukun wudhu (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan basuhlah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah: 6).

6. Tidak membasuh seluruh kepada

Membasuh sebagian kepala semisal hanya membasuh bagian depannya saja, adalah sebuah kesalahan. Padahal dalam surat Al Maidah ayat 6 di atas disebutkan “.. dan basuhlah kepalamu..”. “kepala” di sini maknanya tentu seluruh kepala, bukan sebagiannya saja. Diperkuat lagi oleh hadits lain dari Abdullah bin Zaid radhiallahu’anhu mengenai tata cara membasuh kepala dalam wudhu, “… kemudian Rasulullah membasuh kepalanya dengan kedua tangannya. Beliau menggerakan kedua tangannya ke belakang dan ke depan. Di mulai dari bagian depan kepalanya hingga ke tengkuknya, lalu beliau gerakkan kembali ke tempat ia mulai…” (HR. Bukhari 185, Muslim 235).

7. Membasuh leher setelah membasuh kepala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “tidak shahih hadits yang menyatakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membasuh leher dalam wudhu, bahkan tidak diriwayatkan dalam hadits shahih satu pun. Bahkan hadits-hadits shahih mengenai tata cara wudhu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak menyebutkan mengenai membasuh leher” (Majmu’ Fatawa 21/127-128, dinukil dari Mausu’ah Fiqhiyyah Muyassarah, 1/142).

8. Mengulang mencuci kaki, sehingga lebih dari sekali

Sebagian orang mencuci kaki kanan, lalu kaki kiri, lalu kembali ke kanan lagi, sampai 3 x. Hal ini tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Syaikh Husain Al ‘Awaisyah dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Muyassarah (1/143) mengatakan: “(Yang sesuai sunnah adalah) mencuci kedua kaki tanpa berulang, berdasarkan hadits Yazid bin Abi Malik yang di dalamnya disebutkan, “Rasulullah berwudhu tiga kali – tiga kali, sedangkan beliau ketika mencuci kakinya tanpa berulang (cukup sekali)” (HR. Abu Daud 116, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud). Maka yang tepat adalah mencuci kaki kanan sekali, lalu kaki kiri sekali.

9. Kurang sempurna mencuci kaki, dan juga anggota wudhu yang lain

Terkadang karena kurang serius dalam berwudhu atau karena terburu-buru, seseorang tidak sempurna dalam mencuci kedua kakinya. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melihat sebagian sahabat yang ketika berwudhu tidak menyempurnakan mencuci kakinya, beliau memperingatkan mereka dengan keras dengan bersabda: “celaka tumit-tumit (yang tidak tersentuh air wudhu) di neraka” (HR. Bukhari 60, 165, Muslim 240). Tidak hanya kaki, pada anggota wudhu yang lain juga wajib isbagh (serius dan sempurna) dalam membasuh dan mencuci sehingga air mengenai anggota wudhu dengan sempurna.

10. Membiarkan ada penghalang di kulit

Dalam wudhu, ulama 4 madzhab mensyaratkan tidak adanya benda yang dapat menghalangi air mengenai kulit (Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 43/330). Membiarkan adanya benda yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit adalah sebuah kesalahan dan bisa menyebabkan wudhunya tidak sah. Dikecualikan jika volumenya sangat kecil dan sedikit seperti kotoran yang ada di kuku, maka ini tidak mengapa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Jika kulit terhalang air oleh sesuatu yang yasiir (sedikit) seperti kotoran di kuku atau semisalnya, thaharah tetap sah” (Fatawa Al Kubra, 5/303). Juga jika benda tersebut tidak memiliki volume atau sulit dihilangkan, maka tidak mengapa. Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta‘ menyatakan: “jiak benda yang menghalangi tersebut tidak bervolume, maka tidak mengapa. Henna dan semacamnya, atau minyak yang dioleskan atau semacamnya, ini tidak mengapa. Adapun jika ia memiliki volume, dalam artian ia tebal dan bisa dihilangkan, maka wajib dihilangkan. Seperti cat kuku, ia memiliki volume, maka wajib dihilangkan. Adapun sekedar polesan tipis, maka itu tidak menghalangi air” (Fatwa Nuurun ‘alad Darbi, no. 161, juz 5 hal. 246).

11. Boros dalam menggunakan air

Berlebih-lebih dan boros adalah hal yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan” (QS. Al A’raf: 31). Demikian juga dalam berwudhu, tidak boleh berlebih-lebihan dalam menggunakan air. Air adalah nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri, dan salah satu cara mensyukuri nikmat air adalah dengan tidak menyia-nyiakannya. Dan banyak diantara saudara kita di tempat yang lain yang tidak bisa menikmat air yang melimpah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau biasa berwudhu hanya dengan 1 mud saja. Anas bin Malik radhiallahu’anhu menyatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya berwudhu dengan 1 mud air dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud air” (HR. Bukhari 201, Muslim 326). Sedangkan konversi 1 mud para ulama berbeda pendapat antara 0,6 sampai 1 liter. Sungguh hemat sekali bukan? Boleh saja berwudhu dengan air keran dan lebih dari 1 mud selama tidak berlebih-lebihan dan tetap berusaha untuk menghemat.

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi
  • Asy Syarhul Mumthi ‘ala Zaadil Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
  • Al Qaulul Mubin fii Akhta’il Mushallin, Syaikh Musthafa Al ‘Adawi
  • Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Muyassarah, Syaikh Husain Al ‘Awaisyah
  • Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Departemen Agama Kuwait
  • Fatawa Nuurun ‘alad Darbi

Sumber: https://muslim.or.id/28568-11-kesalahan-dalam-berwudhu.html


Kesalahan – Kesalahan Sebelum Shalat

Klik disini unuk download : Kesalahan Sebelum Shalat PDF

Diambil dari :

📚sifat Wudhu & Shalat Nabi ﷺ
👤ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas
📝pustaka Imam Asy-Syafi’i


Kesalahan-Kesalahan Setelah Shalat

Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tetapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para Sahabat رضي الله عنهم.

Diantara Kesalahan dan Bid’ah tersebut ialah :

1. Mengusap muka setelah salam. (231)
2. Berdo’a dan berdzikir secara berjama’ah yang dipimpin oleh imam shalat. (232)3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik secara lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar yang dha’if (lemah) atau maudhu'(palsu).
Contohnya :– Sesudah shalat membaca “Alhamdulillah”
-Membaca Surat Al-Fatihah setelah salam
-Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.4. Menghitung Dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya.

Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagian maudhu'(palsu).233 Syaikh Al-Albani رحمه الله mengatakan: ” Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid’ah.” (234)

Syaikh Bakr Abi Zaid mengatakan bahwa Berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Bhudha, dan perbuatan ini adalah bid’ah dhalaalah. (235)

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengna menggunakan jari-jari tangan :
Dari Abullah bin ‘Amr رضي الله عنه, ia berkata: ” Aku melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.” (236)

Bahkan, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhanallah,alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari kiamat). (237)

5. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (dengna koor/berjama’ah)

Allah عزوجل memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (Qs. Al-A’raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi صلى الله عليه وسلم melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi’i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir. (238)

6. Membiasakan/merutinkan berdo’a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do’a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم

(239)

7. Saling berjabat tangan sesudah shalat fardhu (bersalam-salaman).

Tidak ada seorang pun dari sahabat atau Salafus Shaleh رضي الله عنهم yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih). (240)

Para ulama mengatakan: “Perbuatan tersebut adalah bid’ah.” (241)

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan ‘Ashar, maka perbuatan ini adalah bid’ah. (242)
Wallaahu a’lam bish Shawaab.

_____________________________________
231 LIhat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 660 oleh Imam Al-Albani.
232 Al-I’tishaam Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh salim al-halabi, Fataawa Al-Lajnah Ad-Daimah VII/188-189, as-Sunan wal Mub-tada’aat hal. 70 perbuatan bid’ah, (al-Qaulul Mubiin fii akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305)
233 Lihat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 83 dan 1002.
234 Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah I/185.
235 As-Subhah Taariikhubawa Hukmuha, hal. 101 cet. I Daarul ‘Ashimah 1419 H – Syaikh Bakar bin ‘Abudillah Abu Zaid.
236 Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486. shahihh at-Tirmidzi III/146 no. 2714, shahih Abu Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al-Baihaqi II/253.
237 Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501 dan at-Tirmidzi no. 3486 dan al-Hakim I/157. Dhisankan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani.
238 Fat-hul Baari II/326 dan al-Qaulul Mubiin hal. 305.
239 Lihat Zaadul Ma’aad I/257 tahqiq al-Arna’ut. Majmuu’ Fataawa Syaikh bin Bazz XI/167, dan Majmuu’ Fataawa Rasaa-il ‘Utsaimin XIII/253-259.
240 Tamaamul Kalaam fi Bid’iyyatil Mushaafahah ba’das salaam – Dt. Muhammad Musa Alu Nashr.
241 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal.293-294 Syaikh Masyhur Hasan Slaman
242 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits Ash-sgahiihah I/53.

sumber Refrensi

Do’a & Wirid – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Read more https://aslibumiayu.net/7345-kesalahan-kesalahan-yang-dilakukan-setelah-shalat-wajib.html


 

ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU

Bismillah…

Berikut adalah tabligh akbar yang disampaikan di Masjid Kampus UGM, Sleman, Yogyakarta oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pada ceramah yang disampaikan Sabtu malam, 4 Jumadal Akhirah 1437 / 12 Maret 2016, pukul 18:0019:30 WIB ini mengetengahkan tema yang diangkat dari sebuah buku karya sang pemateri hafidzahullah berjudul “Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu“.

Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu Al-Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa adab merupakan agama. Kata beliau: والأدب هو الدين كله “Adab mencakup seluruh perkara agama.” Adab dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim di dalam kitabnya, Madarijus Salikin di juz yang kedua, kata beliau: فالأدب : اجتماع خصال الخير في العبد “Adab itu merupakan berkumpulnya semua perangai-perangai dan sifat-sifat kebaikan pada seorang hamba.” Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri ditanya tentang adab, beliau menjelaskan bahwa adab yang paling bermanfaat adalah:

التفقه في الدين، والزهد في الدنيا، والمعرفة بما لله عليك

“Mempelajari agama, zuhud terhadap dunia, dan wajib atasmu mengenal Allah.”

Tentang masalah adab sudah banyak dibahas di kitab-kitab: Imam Bukhari dengan kitab Al-Adabul Mufrad dan di Shahih Bukhari terdapat Kitabul Adab, di Shahih Muslim terdapat Kitabul Adab, Sunan Abu Dawud terdapat Kitabul Adab, di Sunan Tirmidzi terdapat Kitabul Adab, di Sunan Ibnu Majah terdapat Kitabul Adab, Al-Imam Ibnu Muflih memiliki kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr memiliki kitab tentang adab, Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, begitu juga Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi memiliki kitab Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Al-Imam Ibnu Jama’ah memiliki kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Ilmi wal Muta’allim, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di juga memiliki kitab Al-Mu’in ‘ala Tahshili Adabil ‘Ilmi wa Akhlaqil Muta’allimin, dan masih banyak lagi yang lain kitab-kitab adab yang ditulis oleh para ulama.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika memulai Kitabul Adab dalam Shahih Imam Bukhari, beliau menjelaskan tentang adab: والأدب استعمال ما يحمد قولا وفعلا

“Adab itu digunakan untuk apa-apa yang dipuji, baik berupa perkataan maupun perbuatan.”

Jadi, adab mencakup semuanya yang berkaitan dengan agama, seperti yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim, yaitu “Adab mencakup seluruh perkara agama.” Mari simak ceramah penuh manfaat yang disampaikan oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ini.

Image result for adab dan akhlak penuntut ilmu ustadz yazid

Link Youtube : Tabligh Akbar: Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu – Yogyakarta 1437 / 2016 (Ustadz Yazid Jawas)

Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=20975